alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Cerai Gugat 2.358, Cerai Talak 856

Medsos Jadi Faktor Penyebab Perceraian

Mobile_AP_Rectangle 1

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Lumajang H. Teguh Santoso menjelaskan, ada banyak faktor alasan perempuan lebih banyak mengajukan cerai. Faktor yang mendominasi adalah sering bertengkar secara terus-menerus. Sehingga kehidupan rumah tangga kurang harmonis dan merasa tidak tahan lagi hidup bersama.

Kondisi itu pun sebetulnya kadang disebabkan oleh beragam macam keadaan. Seperti bertengkar karena masalah keuangan atau karena masalah medsos. “Alasan-alasan ini sering saya dapati dalam persidangan. Si istri mengaku tidak mendapatkan nafkah yang cukup dan berujung bercerai,” ucapnya.

Secara umum, dampak pandemi ternyata tidak meningkatkan angka perceraian. Padahal pada pertengahan tahun kemarin banyak yang memprediksi tahun 2020 jumlahnya meningkat. Justru sebaliknya, jumlahnya menurun ratusan perkara. Tahun 2019 sekitar 3.473, turun sekitar 259 perkara.

- Advertisement -

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Lumajang H. Teguh Santoso menjelaskan, ada banyak faktor alasan perempuan lebih banyak mengajukan cerai. Faktor yang mendominasi adalah sering bertengkar secara terus-menerus. Sehingga kehidupan rumah tangga kurang harmonis dan merasa tidak tahan lagi hidup bersama.

Kondisi itu pun sebetulnya kadang disebabkan oleh beragam macam keadaan. Seperti bertengkar karena masalah keuangan atau karena masalah medsos. “Alasan-alasan ini sering saya dapati dalam persidangan. Si istri mengaku tidak mendapatkan nafkah yang cukup dan berujung bercerai,” ucapnya.

Secara umum, dampak pandemi ternyata tidak meningkatkan angka perceraian. Padahal pada pertengahan tahun kemarin banyak yang memprediksi tahun 2020 jumlahnya meningkat. Justru sebaliknya, jumlahnya menurun ratusan perkara. Tahun 2019 sekitar 3.473, turun sekitar 259 perkara.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Lumajang H. Teguh Santoso menjelaskan, ada banyak faktor alasan perempuan lebih banyak mengajukan cerai. Faktor yang mendominasi adalah sering bertengkar secara terus-menerus. Sehingga kehidupan rumah tangga kurang harmonis dan merasa tidak tahan lagi hidup bersama.

Kondisi itu pun sebetulnya kadang disebabkan oleh beragam macam keadaan. Seperti bertengkar karena masalah keuangan atau karena masalah medsos. “Alasan-alasan ini sering saya dapati dalam persidangan. Si istri mengaku tidak mendapatkan nafkah yang cukup dan berujung bercerai,” ucapnya.

Secara umum, dampak pandemi ternyata tidak meningkatkan angka perceraian. Padahal pada pertengahan tahun kemarin banyak yang memprediksi tahun 2020 jumlahnya meningkat. Justru sebaliknya, jumlahnya menurun ratusan perkara. Tahun 2019 sekitar 3.473, turun sekitar 259 perkara.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/