alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Purna Waktu demi KPM

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Berkecimpung di dunia elektronik, komputer, dan data membuat Ahmad Lutfi memiliki banyak pengalaman. Terlebih saat dia diamanahi menjadi salah satu administrator pangkalan data PKH se-Kabupaten Lumajang. Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya sigap dalam menangani setiap masalah. Terutama data PKH di Lumajang

Lutfi, sapaan akrabnya, menceritakan, pengalaman itu berawal sejak kuliah di Politeknik Madiun. Selama kuliah tersebut dia belajar banyak hal tentang komputer dan data. Setelah lulus, dia menjadi operator data sekolah selama delapan tahun. “Pada tahun 2016 dapat informasi dari teman ada penerimaan SDM atau pegawai PKH di kabupaten. Saya pikir bisa jadi pekerjaan sampingan. Ternyata setelah lolos harus memilih salah satu. Saya memutuskan untuk keluar dari operator sekolah,” akunya.

Lelaki yang menangani rekonsiliasi data bansos PKH se-Kabupaten Lumajang tersebut menuturkan, setiap hari dia menerima aduan dan laporan dari pendamping dan KPM. Rata-rata, aduan yang diterimanya tentang bansos yang tidak bisa dicairkan. “Faktor utamanya data administrasi kependudukan dengan data di kami tidak sama. Sehingga saat ada pencairan, kartu keluarga sejahtera (KKS, Red) yang dipegang KPM tidak bisa digunakan. Apalagi setelah ada pemadanan data, banyak yang melaporkan hal ini,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam sehari, kantor yang didiaminya terus didatangi KPM. Baik dari sekitar kawasan kota hingga KPM dari perdesaan. Alasannya masih sama. Seputar bansos yang tak kunjung bisa dicairkan. Meski demikian, dia tidak pernah mengeluh. Baginya, sebagai pelayan masyarakat harus bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

“Kami menyebutnya purna waktu. Artinya, kami memberikan pelayanan ke masyarakat itu tidak mengenal waktu, 24 jam harus siap melayani jika ada yang meminta. Memang tidak banyak orang mau melakukan hal ini. Meski begitu, saya tetap meluangkan waktu untuk keluarga juga,” tambah lulusan teknik komputer tersebut.

Pekerjaannya tersebut bukan tanpa tantangan. Setiap hari, dia selalu menghadapi banyak hal. Mulai data server tidak sinkron hingga memahamkan KPM tentang data. Terkadang, mereka tidak sabar jika melihat KPM lain sudah cair duluan. Dia menjelaskan, bantuan tersebut tidak langsung sekali cair dan bersamaan. Apalagi jika datanya tidak sama. Hal tersebut menyulitkan pencairan bansos.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Berkecimpung di dunia elektronik, komputer, dan data membuat Ahmad Lutfi memiliki banyak pengalaman. Terlebih saat dia diamanahi menjadi salah satu administrator pangkalan data PKH se-Kabupaten Lumajang. Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya sigap dalam menangani setiap masalah. Terutama data PKH di Lumajang

Lutfi, sapaan akrabnya, menceritakan, pengalaman itu berawal sejak kuliah di Politeknik Madiun. Selama kuliah tersebut dia belajar banyak hal tentang komputer dan data. Setelah lulus, dia menjadi operator data sekolah selama delapan tahun. “Pada tahun 2016 dapat informasi dari teman ada penerimaan SDM atau pegawai PKH di kabupaten. Saya pikir bisa jadi pekerjaan sampingan. Ternyata setelah lolos harus memilih salah satu. Saya memutuskan untuk keluar dari operator sekolah,” akunya.

Lelaki yang menangani rekonsiliasi data bansos PKH se-Kabupaten Lumajang tersebut menuturkan, setiap hari dia menerima aduan dan laporan dari pendamping dan KPM. Rata-rata, aduan yang diterimanya tentang bansos yang tidak bisa dicairkan. “Faktor utamanya data administrasi kependudukan dengan data di kami tidak sama. Sehingga saat ada pencairan, kartu keluarga sejahtera (KKS, Red) yang dipegang KPM tidak bisa digunakan. Apalagi setelah ada pemadanan data, banyak yang melaporkan hal ini,” tuturnya.

Dalam sehari, kantor yang didiaminya terus didatangi KPM. Baik dari sekitar kawasan kota hingga KPM dari perdesaan. Alasannya masih sama. Seputar bansos yang tak kunjung bisa dicairkan. Meski demikian, dia tidak pernah mengeluh. Baginya, sebagai pelayan masyarakat harus bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

“Kami menyebutnya purna waktu. Artinya, kami memberikan pelayanan ke masyarakat itu tidak mengenal waktu, 24 jam harus siap melayani jika ada yang meminta. Memang tidak banyak orang mau melakukan hal ini. Meski begitu, saya tetap meluangkan waktu untuk keluarga juga,” tambah lulusan teknik komputer tersebut.

Pekerjaannya tersebut bukan tanpa tantangan. Setiap hari, dia selalu menghadapi banyak hal. Mulai data server tidak sinkron hingga memahamkan KPM tentang data. Terkadang, mereka tidak sabar jika melihat KPM lain sudah cair duluan. Dia menjelaskan, bantuan tersebut tidak langsung sekali cair dan bersamaan. Apalagi jika datanya tidak sama. Hal tersebut menyulitkan pencairan bansos.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Berkecimpung di dunia elektronik, komputer, dan data membuat Ahmad Lutfi memiliki banyak pengalaman. Terlebih saat dia diamanahi menjadi salah satu administrator pangkalan data PKH se-Kabupaten Lumajang. Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya sigap dalam menangani setiap masalah. Terutama data PKH di Lumajang

Lutfi, sapaan akrabnya, menceritakan, pengalaman itu berawal sejak kuliah di Politeknik Madiun. Selama kuliah tersebut dia belajar banyak hal tentang komputer dan data. Setelah lulus, dia menjadi operator data sekolah selama delapan tahun. “Pada tahun 2016 dapat informasi dari teman ada penerimaan SDM atau pegawai PKH di kabupaten. Saya pikir bisa jadi pekerjaan sampingan. Ternyata setelah lolos harus memilih salah satu. Saya memutuskan untuk keluar dari operator sekolah,” akunya.

Lelaki yang menangani rekonsiliasi data bansos PKH se-Kabupaten Lumajang tersebut menuturkan, setiap hari dia menerima aduan dan laporan dari pendamping dan KPM. Rata-rata, aduan yang diterimanya tentang bansos yang tidak bisa dicairkan. “Faktor utamanya data administrasi kependudukan dengan data di kami tidak sama. Sehingga saat ada pencairan, kartu keluarga sejahtera (KKS, Red) yang dipegang KPM tidak bisa digunakan. Apalagi setelah ada pemadanan data, banyak yang melaporkan hal ini,” tuturnya.

Dalam sehari, kantor yang didiaminya terus didatangi KPM. Baik dari sekitar kawasan kota hingga KPM dari perdesaan. Alasannya masih sama. Seputar bansos yang tak kunjung bisa dicairkan. Meski demikian, dia tidak pernah mengeluh. Baginya, sebagai pelayan masyarakat harus bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

“Kami menyebutnya purna waktu. Artinya, kami memberikan pelayanan ke masyarakat itu tidak mengenal waktu, 24 jam harus siap melayani jika ada yang meminta. Memang tidak banyak orang mau melakukan hal ini. Meski begitu, saya tetap meluangkan waktu untuk keluarga juga,” tambah lulusan teknik komputer tersebut.

Pekerjaannya tersebut bukan tanpa tantangan. Setiap hari, dia selalu menghadapi banyak hal. Mulai data server tidak sinkron hingga memahamkan KPM tentang data. Terkadang, mereka tidak sabar jika melihat KPM lain sudah cair duluan. Dia menjelaskan, bantuan tersebut tidak langsung sekali cair dan bersamaan. Apalagi jika datanya tidak sama. Hal tersebut menyulitkan pencairan bansos.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/