alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Pelaku Didominasi Keluarga Dekat

Butuh Peran Pengawasan dan Pengasuhan Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Maraknya kasus asusila terhadap anak membuat masyarakat makin waswas. Bagaimana tidak, kasus tersebut terjadi di lingkungan yang dianggap aman. Namun nyatanya, lingkungan keluarga menjadi momok bagi anak. Sebab, rentan memunculkan pelaku kejahatan seksual berasal dari keluarga.

Peran pengawasan dan pengasuhan anak memang perlu dievaluasi bersama. Sebab, selama ini peran tersebut masih sering disalahpahami. Lengahnya peran dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya. “Upaya yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan peran pengawasan dan pengasuhan anak,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Lumajang.

Rosyidah mengatakan, kejahatan tersebut rentan menyasar kelompok minoritas seperti perempuan, anak-anak, bahkan anak berkebutuhan khusus (ABK). “Kasus-kasus baru justru muncul dari lingkungan terkecil di masyarakat, yaitu keluarga. Yang rentan menjadi korban adalah kaum minoritas. Oleh karena itu, pemerintah perlu melindungi mereka melalui regulasi-regulasi yang berpihak,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, peran itu dapat disinergikan dengan kegiatan masyarakat di tingkat paling rendah. “Masyarakat dan pemerintah bisa bersinergi. Di masing-masing desa juga sudah disediakan Rumah Curhat. Mereka akan mendapat fasilitas dan penyelesaian dari setiap masalah keluarga. Mulai  dari kekerasan hingga kejahatan lainnya. Karena mereka sudah dibekali bagaimana penerapan Undang-Undang Perlindungan Anak serta langkah apa saja yang dilakukan ketika ada masalah keluarga. Terutama yang bersinggungan dengan anak-anak,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Maraknya kasus asusila terhadap anak membuat masyarakat makin waswas. Bagaimana tidak, kasus tersebut terjadi di lingkungan yang dianggap aman. Namun nyatanya, lingkungan keluarga menjadi momok bagi anak. Sebab, rentan memunculkan pelaku kejahatan seksual berasal dari keluarga.

Peran pengawasan dan pengasuhan anak memang perlu dievaluasi bersama. Sebab, selama ini peran tersebut masih sering disalahpahami. Lengahnya peran dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya. “Upaya yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan peran pengawasan dan pengasuhan anak,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Lumajang.

Rosyidah mengatakan, kejahatan tersebut rentan menyasar kelompok minoritas seperti perempuan, anak-anak, bahkan anak berkebutuhan khusus (ABK). “Kasus-kasus baru justru muncul dari lingkungan terkecil di masyarakat, yaitu keluarga. Yang rentan menjadi korban adalah kaum minoritas. Oleh karena itu, pemerintah perlu melindungi mereka melalui regulasi-regulasi yang berpihak,” katanya.

Dia menjelaskan, peran itu dapat disinergikan dengan kegiatan masyarakat di tingkat paling rendah. “Masyarakat dan pemerintah bisa bersinergi. Di masing-masing desa juga sudah disediakan Rumah Curhat. Mereka akan mendapat fasilitas dan penyelesaian dari setiap masalah keluarga. Mulai  dari kekerasan hingga kejahatan lainnya. Karena mereka sudah dibekali bagaimana penerapan Undang-Undang Perlindungan Anak serta langkah apa saja yang dilakukan ketika ada masalah keluarga. Terutama yang bersinggungan dengan anak-anak,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Maraknya kasus asusila terhadap anak membuat masyarakat makin waswas. Bagaimana tidak, kasus tersebut terjadi di lingkungan yang dianggap aman. Namun nyatanya, lingkungan keluarga menjadi momok bagi anak. Sebab, rentan memunculkan pelaku kejahatan seksual berasal dari keluarga.

Peran pengawasan dan pengasuhan anak memang perlu dievaluasi bersama. Sebab, selama ini peran tersebut masih sering disalahpahami. Lengahnya peran dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya. “Upaya yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan peran pengawasan dan pengasuhan anak,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Lumajang.

Rosyidah mengatakan, kejahatan tersebut rentan menyasar kelompok minoritas seperti perempuan, anak-anak, bahkan anak berkebutuhan khusus (ABK). “Kasus-kasus baru justru muncul dari lingkungan terkecil di masyarakat, yaitu keluarga. Yang rentan menjadi korban adalah kaum minoritas. Oleh karena itu, pemerintah perlu melindungi mereka melalui regulasi-regulasi yang berpihak,” katanya.

Dia menjelaskan, peran itu dapat disinergikan dengan kegiatan masyarakat di tingkat paling rendah. “Masyarakat dan pemerintah bisa bersinergi. Di masing-masing desa juga sudah disediakan Rumah Curhat. Mereka akan mendapat fasilitas dan penyelesaian dari setiap masalah keluarga. Mulai  dari kekerasan hingga kejahatan lainnya. Karena mereka sudah dibekali bagaimana penerapan Undang-Undang Perlindungan Anak serta langkah apa saja yang dilakukan ketika ada masalah keluarga. Terutama yang bersinggungan dengan anak-anak,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/