alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Edan! Stunting Lumajang Peringkat Empat Se-Jatim

Angka Pernikahan Dini Masih Tinggi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pernikahan anak di bawah umur bukan hanya membuat angka perceraian di Lumajang meroket. Namun, juga membuat angka stunting di Lumajang melejit. Bayangkan, cukup banyak kasus bayi yang dilahirkan di rumah sakit maupun puskesmas dengan bobot kurang dari 2,5 kilogram.

Catatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Lumajang, cukup banyak bayi baru lahir hingga balita yang mengalami berat badan di bawah standar. Kebanyakan kasus-kasus tersebut ditimbulkan dari pernikahan remaja putri yang berusia kisaran 17 tahun.

Kepala Dinkes PPKB Lumajang Bayu Wibowo mengatakan, sejak tahun 2019, angka prevalensi stunting di Lumajang cenderung menurun. Namun, persentasenya masih tetap tinggi. Bahkan, Lumajang masuk lima besar urutan tertinggi se-Jawa Timur setelah Kabupaten Bangkalan, Pamekasan, dan Bondowoso.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Memang tinggi, tetapi persentasenya sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Nomor 4 tertinggi. Biasanya bobot bayi yang dilahirkan kurang dari 2,5 kilogram. Itu sangat berisiko tinggi stunting,” katanya.

Menurutnya, permasalahan ini disebabkan banyak faktor yang saling berkaitan. Seperti pernikahan di bawah umur yang sebetulnya organ reproduksi belum siap. Kemudian, soal minimnya pengetahuan pasangan muda dalam menjaga kesehatan janin selama masa kehamilan. Berikutnya, ibu hamil yang mengalami anemia.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pernikahan anak di bawah umur bukan hanya membuat angka perceraian di Lumajang meroket. Namun, juga membuat angka stunting di Lumajang melejit. Bayangkan, cukup banyak kasus bayi yang dilahirkan di rumah sakit maupun puskesmas dengan bobot kurang dari 2,5 kilogram.

Catatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Lumajang, cukup banyak bayi baru lahir hingga balita yang mengalami berat badan di bawah standar. Kebanyakan kasus-kasus tersebut ditimbulkan dari pernikahan remaja putri yang berusia kisaran 17 tahun.

Kepala Dinkes PPKB Lumajang Bayu Wibowo mengatakan, sejak tahun 2019, angka prevalensi stunting di Lumajang cenderung menurun. Namun, persentasenya masih tetap tinggi. Bahkan, Lumajang masuk lima besar urutan tertinggi se-Jawa Timur setelah Kabupaten Bangkalan, Pamekasan, dan Bondowoso.

“Memang tinggi, tetapi persentasenya sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Nomor 4 tertinggi. Biasanya bobot bayi yang dilahirkan kurang dari 2,5 kilogram. Itu sangat berisiko tinggi stunting,” katanya.

Menurutnya, permasalahan ini disebabkan banyak faktor yang saling berkaitan. Seperti pernikahan di bawah umur yang sebetulnya organ reproduksi belum siap. Kemudian, soal minimnya pengetahuan pasangan muda dalam menjaga kesehatan janin selama masa kehamilan. Berikutnya, ibu hamil yang mengalami anemia.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pernikahan anak di bawah umur bukan hanya membuat angka perceraian di Lumajang meroket. Namun, juga membuat angka stunting di Lumajang melejit. Bayangkan, cukup banyak kasus bayi yang dilahirkan di rumah sakit maupun puskesmas dengan bobot kurang dari 2,5 kilogram.

Catatan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Lumajang, cukup banyak bayi baru lahir hingga balita yang mengalami berat badan di bawah standar. Kebanyakan kasus-kasus tersebut ditimbulkan dari pernikahan remaja putri yang berusia kisaran 17 tahun.

Kepala Dinkes PPKB Lumajang Bayu Wibowo mengatakan, sejak tahun 2019, angka prevalensi stunting di Lumajang cenderung menurun. Namun, persentasenya masih tetap tinggi. Bahkan, Lumajang masuk lima besar urutan tertinggi se-Jawa Timur setelah Kabupaten Bangkalan, Pamekasan, dan Bondowoso.

“Memang tinggi, tetapi persentasenya sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Nomor 4 tertinggi. Biasanya bobot bayi yang dilahirkan kurang dari 2,5 kilogram. Itu sangat berisiko tinggi stunting,” katanya.

Menurutnya, permasalahan ini disebabkan banyak faktor yang saling berkaitan. Seperti pernikahan di bawah umur yang sebetulnya organ reproduksi belum siap. Kemudian, soal minimnya pengetahuan pasangan muda dalam menjaga kesehatan janin selama masa kehamilan. Berikutnya, ibu hamil yang mengalami anemia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/