alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Potensi Laut Lumajang yang Luar Biasa, Harapkan Ikan Ekspor ke Luar Negeri

Potensi hasil kelautan dan perikanan Kabupaten Lumajang cukup melimpah. Hal ini terlihat dari ketersediaan sumber daya dan ekosistem air yang mumpuni. Bahkan, hasil produksi, budi daya, maupun pengolahan ikan diekspor hingga luar negeri. Namun, apakah potensi tersebut sudah dimanfaatkan dengan maksimal?

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi berdampak pada semua sektor dan kawasan. Salah satunya di kawasan Ranu Klakah, Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah. Salah satu kawasan strategis ini sempat digadang-gadang bisa memproduksi ikan tawar terbaik dengan didukung pariwisata air yang menarik. Namun, kini kondisinya vakum diterpa pandemi.

Abdul Bahri, ketua kelompok perairan umum setempat, mengungkapkan, potensi hasil ikan di perairan Ranu Klakah cukup besar. Namun, ada dua hal yang menjadi faktor utama pengelolaan tidak maksimal. Yakni faktor alam dan pandemi korona.

“Kami memiliki 112 nelayan karamba. Namun, hanya 70 persen saja yang aktif. Alhasil, aktivitas perikanan juga vakum. Karenanya, pengelolaan budi daya ikan nila tidak maksimal. Karena kondisi alam yang tidak menentu. Apalagi di musim kemarau, endapan di dasar ranu akan terangkat dan mengapung. Hal ini bisa mencemari ekosistem air. Terutama kadar oksigennya berkurang,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tidak hanya itu, kondisi air yang jernih tidak baik untuk perkembangan ikan. Sebab, ikan cenderung tidak tumbuh besar. Padahal, tidak hanya ikan nila yang ada di Ranu Klakah. Ada juga ikan tawas, patin, lele, hingga lohan tersebar dalam jumlah banyak di Ranu Klakah.

Sebelum pandemi, pengelolaan sangat mudah. Dalam satu tahun petani bisa panen dua kali dalam jumlah besar. Akan tetapi, tidak sedikit juga dari nelayan panen hampir setiap bulan. “Kalau sekarang ada yang panen sekali dalam setahun. Hasilnya tidak banyak dan tubuh ikan tidak besar. Kalau dijual di pasar banyak dikomplain. Karena ukurannya kalah jauh dengan lainnya,” lanjutnya.

Meski demikian, dia berharap pandemi korona cepat mereda. Sebab, menurut dia, hal tersebut mampu mengembalikan semangat nelayan Ranu Klakah. Sehingga, hasil perikanan tidak hanya dijual di pasar lokal Klakah atau Lumajang. “Tentu kami berharap ada suntikan, baik pendanaan, pembenihan, bantuan pakan, maupun pembinaan rutin. Sehingga hasilnya bisa dijual sampai ke luar kota,” harapnya.

 

 

Peningkatan Produksi Ikan Terus Digenjot

Hasil ikan tidak hanya bisa didapat dari kawasan perairan seperti sungai, ranu atau pesisir pantai selatan Lumajang saja. Namun, budi daya ikan di sejumlah bidang tanah sekitar rumah juga sangat menjanjikan. Artinya, baik dataran tinggi atau dataran rendah, sama-sama bisa menghasilkan keuntungan dari sektor perikanan.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi berdampak pada semua sektor dan kawasan. Salah satunya di kawasan Ranu Klakah, Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah. Salah satu kawasan strategis ini sempat digadang-gadang bisa memproduksi ikan tawar terbaik dengan didukung pariwisata air yang menarik. Namun, kini kondisinya vakum diterpa pandemi.

Abdul Bahri, ketua kelompok perairan umum setempat, mengungkapkan, potensi hasil ikan di perairan Ranu Klakah cukup besar. Namun, ada dua hal yang menjadi faktor utama pengelolaan tidak maksimal. Yakni faktor alam dan pandemi korona.

“Kami memiliki 112 nelayan karamba. Namun, hanya 70 persen saja yang aktif. Alhasil, aktivitas perikanan juga vakum. Karenanya, pengelolaan budi daya ikan nila tidak maksimal. Karena kondisi alam yang tidak menentu. Apalagi di musim kemarau, endapan di dasar ranu akan terangkat dan mengapung. Hal ini bisa mencemari ekosistem air. Terutama kadar oksigennya berkurang,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kondisi air yang jernih tidak baik untuk perkembangan ikan. Sebab, ikan cenderung tidak tumbuh besar. Padahal, tidak hanya ikan nila yang ada di Ranu Klakah. Ada juga ikan tawas, patin, lele, hingga lohan tersebar dalam jumlah banyak di Ranu Klakah.

Sebelum pandemi, pengelolaan sangat mudah. Dalam satu tahun petani bisa panen dua kali dalam jumlah besar. Akan tetapi, tidak sedikit juga dari nelayan panen hampir setiap bulan. “Kalau sekarang ada yang panen sekali dalam setahun. Hasilnya tidak banyak dan tubuh ikan tidak besar. Kalau dijual di pasar banyak dikomplain. Karena ukurannya kalah jauh dengan lainnya,” lanjutnya.

Meski demikian, dia berharap pandemi korona cepat mereda. Sebab, menurut dia, hal tersebut mampu mengembalikan semangat nelayan Ranu Klakah. Sehingga, hasil perikanan tidak hanya dijual di pasar lokal Klakah atau Lumajang. “Tentu kami berharap ada suntikan, baik pendanaan, pembenihan, bantuan pakan, maupun pembinaan rutin. Sehingga hasilnya bisa dijual sampai ke luar kota,” harapnya.

 

 

Peningkatan Produksi Ikan Terus Digenjot

Hasil ikan tidak hanya bisa didapat dari kawasan perairan seperti sungai, ranu atau pesisir pantai selatan Lumajang saja. Namun, budi daya ikan di sejumlah bidang tanah sekitar rumah juga sangat menjanjikan. Artinya, baik dataran tinggi atau dataran rendah, sama-sama bisa menghasilkan keuntungan dari sektor perikanan.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi berdampak pada semua sektor dan kawasan. Salah satunya di kawasan Ranu Klakah, Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah. Salah satu kawasan strategis ini sempat digadang-gadang bisa memproduksi ikan tawar terbaik dengan didukung pariwisata air yang menarik. Namun, kini kondisinya vakum diterpa pandemi.

Abdul Bahri, ketua kelompok perairan umum setempat, mengungkapkan, potensi hasil ikan di perairan Ranu Klakah cukup besar. Namun, ada dua hal yang menjadi faktor utama pengelolaan tidak maksimal. Yakni faktor alam dan pandemi korona.

“Kami memiliki 112 nelayan karamba. Namun, hanya 70 persen saja yang aktif. Alhasil, aktivitas perikanan juga vakum. Karenanya, pengelolaan budi daya ikan nila tidak maksimal. Karena kondisi alam yang tidak menentu. Apalagi di musim kemarau, endapan di dasar ranu akan terangkat dan mengapung. Hal ini bisa mencemari ekosistem air. Terutama kadar oksigennya berkurang,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kondisi air yang jernih tidak baik untuk perkembangan ikan. Sebab, ikan cenderung tidak tumbuh besar. Padahal, tidak hanya ikan nila yang ada di Ranu Klakah. Ada juga ikan tawas, patin, lele, hingga lohan tersebar dalam jumlah banyak di Ranu Klakah.

Sebelum pandemi, pengelolaan sangat mudah. Dalam satu tahun petani bisa panen dua kali dalam jumlah besar. Akan tetapi, tidak sedikit juga dari nelayan panen hampir setiap bulan. “Kalau sekarang ada yang panen sekali dalam setahun. Hasilnya tidak banyak dan tubuh ikan tidak besar. Kalau dijual di pasar banyak dikomplain. Karena ukurannya kalah jauh dengan lainnya,” lanjutnya.

Meski demikian, dia berharap pandemi korona cepat mereda. Sebab, menurut dia, hal tersebut mampu mengembalikan semangat nelayan Ranu Klakah. Sehingga, hasil perikanan tidak hanya dijual di pasar lokal Klakah atau Lumajang. “Tentu kami berharap ada suntikan, baik pendanaan, pembenihan, bantuan pakan, maupun pembinaan rutin. Sehingga hasilnya bisa dijual sampai ke luar kota,” harapnya.

 

 

Peningkatan Produksi Ikan Terus Digenjot

Hasil ikan tidak hanya bisa didapat dari kawasan perairan seperti sungai, ranu atau pesisir pantai selatan Lumajang saja. Namun, budi daya ikan di sejumlah bidang tanah sekitar rumah juga sangat menjanjikan. Artinya, baik dataran tinggi atau dataran rendah, sama-sama bisa menghasilkan keuntungan dari sektor perikanan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/