alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Pencegahan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika

Siapa sangka tindakan kriminalitas yang belakangan diklaim berhasil ditekan rupanya bukan dari kejahatan pencurian. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, ratusan napi yang mendekam di Lapas Kelas II B Lumajang didominasi kasus narkotika.

Mobile_AP_Rectangle 1

DITOTRUNAN, Radar Semeru – Zainal Arifin dan Purnianto, dua warga asal Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, menjadi tersangka kasus narkoba terbesar kedua setelah Hanif Rohman yang jadi tersangka 5 kilogram sabu-sabu, tahun lalu. Keduanya diamankan Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya lantaran kedapatan membawa sabu seberat 3 kilogram dari Madura.

BACA JUGA : Sempat Padam karena Tebing Longsor, PJU di Gumitir Kembali Terang

Peredaran narkotika seharusnya menjadi perhatian serius Pemkab Lumajang. Sebab, informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, tahun 2019 jumlah napi kasus narkotika yang dipenjara sekitar 194 orang. Tahun 2021, angkanya tersebut meningkat tajam. Total orang yang mendekam mencapai 277 napi. Sedangkan kasus pencurian hanya 76 napi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala BNN-K Lumajang AKBP Indra Brahmana membenarkan, kasus penangkapan dua orang narapidana kasus narkoba di Surabaya merupakan warga asli Lumajang. Namun, dia belum berkenan membeberkan lebih detail kronologi kasus tersebut. Sebab, sampai saat ini masih dilakukan pendalaman.

Belakangan, masalah itu menjadi perhatian serius pemerintah. Bahkan, melalui inisiatif DPRD Lumajang, lembaga perwakilan rakyat itu mengusulkan rancangan peraturan daerah (raperda) mengenai fasilitasi pencegahan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang rencananya dibahas tahun ini.

Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Lumajang Trisno mengatakan, kasus narkoba menjadi ancaman yang berkembang di desa-desa. Tidak sedikit pemuda yang terjerumus. Bahkan, hampir setiap minggu kepolisian menangkap pelaku kasus narkoba kelas teri tersebut.

“Berdasar laporan BPS ini miris, kasus orang yang diamankan karena narkoba ternyata lebih besar ketimbang kasus pencurian dan perampokan. Untuk menekan itu, seharusnya penanganannya dari hulu ke hilir. Seluruh elemen harus terlibat melakukan pencegahan, baru pihak kepolisian bekerja,” katanya.

Menurutnya, tujuan raperda tersebut untuk mengintegrasikan program dan kebijakan daerah dengan program kebijakan nasional. Selanjutnya melindungi masyarakat dari ancaman dan risiko penyalahgunaan maupun peredaran narkotika dan memberikan jaminan perlindungan hukum serta pemberian pelayanan rehabilitasi medis. (son/c2/fid)

- Advertisement -

DITOTRUNAN, Radar Semeru – Zainal Arifin dan Purnianto, dua warga asal Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, menjadi tersangka kasus narkoba terbesar kedua setelah Hanif Rohman yang jadi tersangka 5 kilogram sabu-sabu, tahun lalu. Keduanya diamankan Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya lantaran kedapatan membawa sabu seberat 3 kilogram dari Madura.

BACA JUGA : Sempat Padam karena Tebing Longsor, PJU di Gumitir Kembali Terang

Peredaran narkotika seharusnya menjadi perhatian serius Pemkab Lumajang. Sebab, informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, tahun 2019 jumlah napi kasus narkotika yang dipenjara sekitar 194 orang. Tahun 2021, angkanya tersebut meningkat tajam. Total orang yang mendekam mencapai 277 napi. Sedangkan kasus pencurian hanya 76 napi.

Kepala BNN-K Lumajang AKBP Indra Brahmana membenarkan, kasus penangkapan dua orang narapidana kasus narkoba di Surabaya merupakan warga asli Lumajang. Namun, dia belum berkenan membeberkan lebih detail kronologi kasus tersebut. Sebab, sampai saat ini masih dilakukan pendalaman.

Belakangan, masalah itu menjadi perhatian serius pemerintah. Bahkan, melalui inisiatif DPRD Lumajang, lembaga perwakilan rakyat itu mengusulkan rancangan peraturan daerah (raperda) mengenai fasilitasi pencegahan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang rencananya dibahas tahun ini.

Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Lumajang Trisno mengatakan, kasus narkoba menjadi ancaman yang berkembang di desa-desa. Tidak sedikit pemuda yang terjerumus. Bahkan, hampir setiap minggu kepolisian menangkap pelaku kasus narkoba kelas teri tersebut.

“Berdasar laporan BPS ini miris, kasus orang yang diamankan karena narkoba ternyata lebih besar ketimbang kasus pencurian dan perampokan. Untuk menekan itu, seharusnya penanganannya dari hulu ke hilir. Seluruh elemen harus terlibat melakukan pencegahan, baru pihak kepolisian bekerja,” katanya.

Menurutnya, tujuan raperda tersebut untuk mengintegrasikan program dan kebijakan daerah dengan program kebijakan nasional. Selanjutnya melindungi masyarakat dari ancaman dan risiko penyalahgunaan maupun peredaran narkotika dan memberikan jaminan perlindungan hukum serta pemberian pelayanan rehabilitasi medis. (son/c2/fid)

DITOTRUNAN, Radar Semeru – Zainal Arifin dan Purnianto, dua warga asal Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, menjadi tersangka kasus narkoba terbesar kedua setelah Hanif Rohman yang jadi tersangka 5 kilogram sabu-sabu, tahun lalu. Keduanya diamankan Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya lantaran kedapatan membawa sabu seberat 3 kilogram dari Madura.

BACA JUGA : Sempat Padam karena Tebing Longsor, PJU di Gumitir Kembali Terang

Peredaran narkotika seharusnya menjadi perhatian serius Pemkab Lumajang. Sebab, informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, tahun 2019 jumlah napi kasus narkotika yang dipenjara sekitar 194 orang. Tahun 2021, angkanya tersebut meningkat tajam. Total orang yang mendekam mencapai 277 napi. Sedangkan kasus pencurian hanya 76 napi.

Kepala BNN-K Lumajang AKBP Indra Brahmana membenarkan, kasus penangkapan dua orang narapidana kasus narkoba di Surabaya merupakan warga asli Lumajang. Namun, dia belum berkenan membeberkan lebih detail kronologi kasus tersebut. Sebab, sampai saat ini masih dilakukan pendalaman.

Belakangan, masalah itu menjadi perhatian serius pemerintah. Bahkan, melalui inisiatif DPRD Lumajang, lembaga perwakilan rakyat itu mengusulkan rancangan peraturan daerah (raperda) mengenai fasilitasi pencegahan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang rencananya dibahas tahun ini.

Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Lumajang Trisno mengatakan, kasus narkoba menjadi ancaman yang berkembang di desa-desa. Tidak sedikit pemuda yang terjerumus. Bahkan, hampir setiap minggu kepolisian menangkap pelaku kasus narkoba kelas teri tersebut.

“Berdasar laporan BPS ini miris, kasus orang yang diamankan karena narkoba ternyata lebih besar ketimbang kasus pencurian dan perampokan. Untuk menekan itu, seharusnya penanganannya dari hulu ke hilir. Seluruh elemen harus terlibat melakukan pencegahan, baru pihak kepolisian bekerja,” katanya.

Menurutnya, tujuan raperda tersebut untuk mengintegrasikan program dan kebijakan daerah dengan program kebijakan nasional. Selanjutnya melindungi masyarakat dari ancaman dan risiko penyalahgunaan maupun peredaran narkotika dan memberikan jaminan perlindungan hukum serta pemberian pelayanan rehabilitasi medis. (son/c2/fid)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/