alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Turun Tangan Makamkan Jenazah Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

Bapak dua anak itu akhirnya memberanikan diri. Dia mendengar suara perempuan yang sangat lirih di telinganya. Suara itu berasal dari istri almarhum. Dia rela datang ke makam meskipun sedang menderita sakit dan susah jalan. “Saya mendengar suara dari istrinya yang sangat lirih. ‘Pak, nyuwun tolong mboten kiat’ (Pak, minta tolong bantuannya, tidak kuat, Red),” ucapnya, menirukan suara istri.

Akhirnya, dia lari ke rombongan petugas tersebut. Melihat hal itu, masyarakat sekitar yang awalnya tidak berani segera menyusul untuk membantu mengangkat peti jenazah. “Hal yang membuat saya terpukul lagi adalah nakes yang mengangkat ternyata para suster. Empat orang itu perempuan semua. Saya katakan ke mereka jika sedari awal mengatakan bahwa mereka perempuan, saya akan langsung membantu. Tetapi, saya sendiri tidak tahu kalau yang mengangkat perempuan, karena memang dilarang mendekat,” tuturnya.

Sampai di pemakaman, mereka bingung cara memakamkan. Sebab, kades dan warga lain tidak menggunakan APD. Mereka hanya mengenakan masker. “Saya minta warga mencari tali tampar dan bambu. Setelah itu, kami makamkan. Selesainya sekitar pukul 2 pagi,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah memakamkan, dia segera disemprot desinfektan. Pakaian yang dikenakan penuh dengan obat. Begitu juga dengan warga lain yang membantu. “Tapi, kami tidak tes swab. Semuanya khawatir ikut tes dan hasilnya positif. Jadi, kami langsung isolasi mandiri di rumah masing-masing,” pungkas lelaki kelahiran Kutorenon tersebut.

Jurnalis: Muhammad Sidkin Ali
Fotografer: Muhammad Sidkin Ali
Editor: Hafid Asnan

- Advertisement -

Bapak dua anak itu akhirnya memberanikan diri. Dia mendengar suara perempuan yang sangat lirih di telinganya. Suara itu berasal dari istri almarhum. Dia rela datang ke makam meskipun sedang menderita sakit dan susah jalan. “Saya mendengar suara dari istrinya yang sangat lirih. ‘Pak, nyuwun tolong mboten kiat’ (Pak, minta tolong bantuannya, tidak kuat, Red),” ucapnya, menirukan suara istri.

Akhirnya, dia lari ke rombongan petugas tersebut. Melihat hal itu, masyarakat sekitar yang awalnya tidak berani segera menyusul untuk membantu mengangkat peti jenazah. “Hal yang membuat saya terpukul lagi adalah nakes yang mengangkat ternyata para suster. Empat orang itu perempuan semua. Saya katakan ke mereka jika sedari awal mengatakan bahwa mereka perempuan, saya akan langsung membantu. Tetapi, saya sendiri tidak tahu kalau yang mengangkat perempuan, karena memang dilarang mendekat,” tuturnya.

Sampai di pemakaman, mereka bingung cara memakamkan. Sebab, kades dan warga lain tidak menggunakan APD. Mereka hanya mengenakan masker. “Saya minta warga mencari tali tampar dan bambu. Setelah itu, kami makamkan. Selesainya sekitar pukul 2 pagi,” tambahnya.

Setelah memakamkan, dia segera disemprot desinfektan. Pakaian yang dikenakan penuh dengan obat. Begitu juga dengan warga lain yang membantu. “Tapi, kami tidak tes swab. Semuanya khawatir ikut tes dan hasilnya positif. Jadi, kami langsung isolasi mandiri di rumah masing-masing,” pungkas lelaki kelahiran Kutorenon tersebut.

Jurnalis: Muhammad Sidkin Ali
Fotografer: Muhammad Sidkin Ali
Editor: Hafid Asnan

Bapak dua anak itu akhirnya memberanikan diri. Dia mendengar suara perempuan yang sangat lirih di telinganya. Suara itu berasal dari istri almarhum. Dia rela datang ke makam meskipun sedang menderita sakit dan susah jalan. “Saya mendengar suara dari istrinya yang sangat lirih. ‘Pak, nyuwun tolong mboten kiat’ (Pak, minta tolong bantuannya, tidak kuat, Red),” ucapnya, menirukan suara istri.

Akhirnya, dia lari ke rombongan petugas tersebut. Melihat hal itu, masyarakat sekitar yang awalnya tidak berani segera menyusul untuk membantu mengangkat peti jenazah. “Hal yang membuat saya terpukul lagi adalah nakes yang mengangkat ternyata para suster. Empat orang itu perempuan semua. Saya katakan ke mereka jika sedari awal mengatakan bahwa mereka perempuan, saya akan langsung membantu. Tetapi, saya sendiri tidak tahu kalau yang mengangkat perempuan, karena memang dilarang mendekat,” tuturnya.

Sampai di pemakaman, mereka bingung cara memakamkan. Sebab, kades dan warga lain tidak menggunakan APD. Mereka hanya mengenakan masker. “Saya minta warga mencari tali tampar dan bambu. Setelah itu, kami makamkan. Selesainya sekitar pukul 2 pagi,” tambahnya.

Setelah memakamkan, dia segera disemprot desinfektan. Pakaian yang dikenakan penuh dengan obat. Begitu juga dengan warga lain yang membantu. “Tapi, kami tidak tes swab. Semuanya khawatir ikut tes dan hasilnya positif. Jadi, kami langsung isolasi mandiri di rumah masing-masing,” pungkas lelaki kelahiran Kutorenon tersebut.

Jurnalis: Muhammad Sidkin Ali
Fotografer: Muhammad Sidkin Ali
Editor: Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/