alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Turun Tangan Makamkan Jenazah Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 sudah hampir berjalan 16 bulan di Indonesia. Tentu, banyak kisah suka duka yang dilalui masyarakat. Terasuk aparatur pemerintahan. Apalagi, saat Covid-19 awal masuk di Indonesia, mereka yang terpapar sudah seperti memiliki aib. Masyarakat dilarang mendekat dan berinteraksi dengan pasien positif.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi aparatur pemerintah. Terutama di desa-desa. Seperti yang dialami Kepala Desa Kutorenon, Sukodono. Kades bernama Faisal Rizal ini menceritakan pengalamannya dalam menangani pandemi. “Di awal-awal, korona ini seperti aib. Mereka yang tertular dijauhi banyak orang. Bahkan, saudara dekat juga menjauh. Benar-benar seperti aib. Apalagi saat itu, warga yang tertular nomor dua adalah warga saya,” ujarnya memulai cerita.

Sejak itu, dia berkomitmen akan membantu dan menyuplai kebutuhan warganya yang tertular. Bahkan, dia juga siap sedia jika dibutuhkan saat pemulasaraan jenazah. “Yang paling saya ingat adalah pemakaman salah satu jenazah dari warga saya. Almarhum meninggal malam Jumat Legi. Rencananya dipulangkan dari rumah sakit tengah malam,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lelaki yang tahun ini mendaftar pendidikan sarjana ekonomi tersebut mengungkapkan, banyak masyarakat yang takut. Sebab, jenazah tersebut adalah yang pertama dimakamkan di desanya. “Semua orang takut. Kami semua juga dilarang mendekat. Sehingga hanya bisa melihat dari jauh. Tapi, kami tidak tega, karena petugas yang mengangkat peti jenazah berkali-kali berhenti,” tambahnya.

Para tenaga kesehatan (nakes) yang mengangkat beberapa kali meminta bantuan. Tetapi, dia bersama warga lain tidak memiliki alat perlindungan diri (APD). Oleh sebab itu, dia meminta warga lain untuk menanyakan ke para nakes tentang ketersediaan APD. Tetapi, mereka tidak membawanya. Dia meminta izin ke babinsa dan bhabinkamtibmas, namun mereka juga tidak memberi izin.

“Mereka tidak memberi izin. Bahkan sudah menelepon ke kapolsek, juga dilarang membantu. Saya tidak tenang. Bergejolak dalam diri saya. Antara mendahulukan kemanusiaan atau keselamatan. Hati nurani mengatakan untuk membantu, tetapi fakta di lapangan terbentur dengan tanpa APD, risiko tertular tinggi. Padahal jaraknya mereka dengan liang lahat hanya tinggal sekitar sepuluh meter, tetapi mereka tidak kuat. Mereka ambruk dan mengangkat tangan. Sebab, jarak antara ambulans dengan liang sekitar seratus meter,” jelas wiraswasta tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 sudah hampir berjalan 16 bulan di Indonesia. Tentu, banyak kisah suka duka yang dilalui masyarakat. Terasuk aparatur pemerintahan. Apalagi, saat Covid-19 awal masuk di Indonesia, mereka yang terpapar sudah seperti memiliki aib. Masyarakat dilarang mendekat dan berinteraksi dengan pasien positif.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi aparatur pemerintah. Terutama di desa-desa. Seperti yang dialami Kepala Desa Kutorenon, Sukodono. Kades bernama Faisal Rizal ini menceritakan pengalamannya dalam menangani pandemi. “Di awal-awal, korona ini seperti aib. Mereka yang tertular dijauhi banyak orang. Bahkan, saudara dekat juga menjauh. Benar-benar seperti aib. Apalagi saat itu, warga yang tertular nomor dua adalah warga saya,” ujarnya memulai cerita.

Sejak itu, dia berkomitmen akan membantu dan menyuplai kebutuhan warganya yang tertular. Bahkan, dia juga siap sedia jika dibutuhkan saat pemulasaraan jenazah. “Yang paling saya ingat adalah pemakaman salah satu jenazah dari warga saya. Almarhum meninggal malam Jumat Legi. Rencananya dipulangkan dari rumah sakit tengah malam,” katanya.

Lelaki yang tahun ini mendaftar pendidikan sarjana ekonomi tersebut mengungkapkan, banyak masyarakat yang takut. Sebab, jenazah tersebut adalah yang pertama dimakamkan di desanya. “Semua orang takut. Kami semua juga dilarang mendekat. Sehingga hanya bisa melihat dari jauh. Tapi, kami tidak tega, karena petugas yang mengangkat peti jenazah berkali-kali berhenti,” tambahnya.

Para tenaga kesehatan (nakes) yang mengangkat beberapa kali meminta bantuan. Tetapi, dia bersama warga lain tidak memiliki alat perlindungan diri (APD). Oleh sebab itu, dia meminta warga lain untuk menanyakan ke para nakes tentang ketersediaan APD. Tetapi, mereka tidak membawanya. Dia meminta izin ke babinsa dan bhabinkamtibmas, namun mereka juga tidak memberi izin.

“Mereka tidak memberi izin. Bahkan sudah menelepon ke kapolsek, juga dilarang membantu. Saya tidak tenang. Bergejolak dalam diri saya. Antara mendahulukan kemanusiaan atau keselamatan. Hati nurani mengatakan untuk membantu, tetapi fakta di lapangan terbentur dengan tanpa APD, risiko tertular tinggi. Padahal jaraknya mereka dengan liang lahat hanya tinggal sekitar sepuluh meter, tetapi mereka tidak kuat. Mereka ambruk dan mengangkat tangan. Sebab, jarak antara ambulans dengan liang sekitar seratus meter,” jelas wiraswasta tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 sudah hampir berjalan 16 bulan di Indonesia. Tentu, banyak kisah suka duka yang dilalui masyarakat. Terasuk aparatur pemerintahan. Apalagi, saat Covid-19 awal masuk di Indonesia, mereka yang terpapar sudah seperti memiliki aib. Masyarakat dilarang mendekat dan berinteraksi dengan pasien positif.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi aparatur pemerintah. Terutama di desa-desa. Seperti yang dialami Kepala Desa Kutorenon, Sukodono. Kades bernama Faisal Rizal ini menceritakan pengalamannya dalam menangani pandemi. “Di awal-awal, korona ini seperti aib. Mereka yang tertular dijauhi banyak orang. Bahkan, saudara dekat juga menjauh. Benar-benar seperti aib. Apalagi saat itu, warga yang tertular nomor dua adalah warga saya,” ujarnya memulai cerita.

Sejak itu, dia berkomitmen akan membantu dan menyuplai kebutuhan warganya yang tertular. Bahkan, dia juga siap sedia jika dibutuhkan saat pemulasaraan jenazah. “Yang paling saya ingat adalah pemakaman salah satu jenazah dari warga saya. Almarhum meninggal malam Jumat Legi. Rencananya dipulangkan dari rumah sakit tengah malam,” katanya.

Lelaki yang tahun ini mendaftar pendidikan sarjana ekonomi tersebut mengungkapkan, banyak masyarakat yang takut. Sebab, jenazah tersebut adalah yang pertama dimakamkan di desanya. “Semua orang takut. Kami semua juga dilarang mendekat. Sehingga hanya bisa melihat dari jauh. Tapi, kami tidak tega, karena petugas yang mengangkat peti jenazah berkali-kali berhenti,” tambahnya.

Para tenaga kesehatan (nakes) yang mengangkat beberapa kali meminta bantuan. Tetapi, dia bersama warga lain tidak memiliki alat perlindungan diri (APD). Oleh sebab itu, dia meminta warga lain untuk menanyakan ke para nakes tentang ketersediaan APD. Tetapi, mereka tidak membawanya. Dia meminta izin ke babinsa dan bhabinkamtibmas, namun mereka juga tidak memberi izin.

“Mereka tidak memberi izin. Bahkan sudah menelepon ke kapolsek, juga dilarang membantu. Saya tidak tenang. Bergejolak dalam diri saya. Antara mendahulukan kemanusiaan atau keselamatan. Hati nurani mengatakan untuk membantu, tetapi fakta di lapangan terbentur dengan tanpa APD, risiko tertular tinggi. Padahal jaraknya mereka dengan liang lahat hanya tinggal sekitar sepuluh meter, tetapi mereka tidak kuat. Mereka ambruk dan mengangkat tangan. Sebab, jarak antara ambulans dengan liang sekitar seratus meter,” jelas wiraswasta tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/