alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Perintis Lingkungan di Kawasan Lereng Lemongan Raih Kalpataru

Bertahun-tahun Daim menanami kawasan hutan lereng Gunung Lemongan dengan segala jenis pohon. Tetangganya kadang menyebut dia orang gila. Namun, kegilaan itu yang mengantarkan warga Desa Sumberpetung, Kecamatan Ranuyoso, itu menerima penghargaan Kalpataru 2022.

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERPETUNG, Radar Semeru – Setelah terjadi pembalakan liar besar-besaran sekitar tahun 1990-an, beberapa tahun berikutnya dampak hutan yang gundul begitu terasa. Debit mata air menurun, cuaca makin panas, hingga bencana banjir sering melanda masyarakat sekitar hutan. Karena itu, tahun 1996, Daim memutuskan keluar masuk hutan mengawali konservasi.

BACA JUGA: Satu Ekor Anakan Merak Bisa Jutaan Rupiah

Rumah laki-laki yang sudah berusia 61 tahun itu berada di ujung permukiman sebelum masuk ke lereng gunung. Saat itu, hampir setiap hari dia berjalan membawa benih dan bibit tanaman dari luar hutan untuk ditanam di dalam kawasan hutan. Dengan harapan, langkah itu dapat mengembalikan fungsi hutan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Daim mengatakan, mulanya jenis pohon yang ditanam asal-asalan. Asal bisa tumbuh, asal bisa berbuah. Seperti bibit pohon kopi, juwet, manggis, pohon durian, dan banyak jenis pohon buah lainnya. Berjalan sepuluh hingga sebelas tahun, ternyata tidak membuahkan hasil. Baru tahun 2006 akhirnya menemukan jenis pohon yang dapat bertahan.

“Dulu tanam pohon belum begitu besar sudah dirusak hewan. Dimakan kijang, ada yang dicabut kera. Lalu, akhirnya saya menanam pohon pinang sampai tahun 2018. Saat mengawali nanam pinang dulu banyak yang menganggap gila. Soalnya, harganya murah. Tapi, saya terus tanam sampai lereng ini rimbun dipenuhi pepohonan,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lumajang Hertutik menjelaskan, keberadaan Daim menarik perhatian Pemkab Lumajang untuk mengusulkannya sebagai penerima penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan 2022. Sebab, upayanya selain menghijaukan kembali kawasan hutan, juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjadikannya sumber kehidupan.

Saat ini ada sekitar 14 hektare kawasan hutan yang berhasil dikelola oleh bapak tiga anak itu. Di luasan lahan tersebut sekarang sudah tertanam 12 ribu pohon pinang, 2 ribu pohon sirsak, 4 ribu pohon kopi, dan 150 pohon alpukat. Tak hanya itu, dia juga menanam sayur-sayuran macam pakis dan sebagainya.

“Kami sangat mengapresiasi kegigihan Pak Daim dalam memanfaatkan hutan. Ini menjadi hadiah terbaik bagi kami di Hari Lingkungan Hidup. Semoga upayanya terus menginspirasi masyarakat Lumajang. Semoga dapat muncul Daim-Daim lainnya di tempat lain dengan prestasi yang membanggakan,” pungkasnya. (son/c2/fid)

- Advertisement -

SUMBERPETUNG, Radar Semeru – Setelah terjadi pembalakan liar besar-besaran sekitar tahun 1990-an, beberapa tahun berikutnya dampak hutan yang gundul begitu terasa. Debit mata air menurun, cuaca makin panas, hingga bencana banjir sering melanda masyarakat sekitar hutan. Karena itu, tahun 1996, Daim memutuskan keluar masuk hutan mengawali konservasi.

BACA JUGA: Satu Ekor Anakan Merak Bisa Jutaan Rupiah

Rumah laki-laki yang sudah berusia 61 tahun itu berada di ujung permukiman sebelum masuk ke lereng gunung. Saat itu, hampir setiap hari dia berjalan membawa benih dan bibit tanaman dari luar hutan untuk ditanam di dalam kawasan hutan. Dengan harapan, langkah itu dapat mengembalikan fungsi hutan.

Daim mengatakan, mulanya jenis pohon yang ditanam asal-asalan. Asal bisa tumbuh, asal bisa berbuah. Seperti bibit pohon kopi, juwet, manggis, pohon durian, dan banyak jenis pohon buah lainnya. Berjalan sepuluh hingga sebelas tahun, ternyata tidak membuahkan hasil. Baru tahun 2006 akhirnya menemukan jenis pohon yang dapat bertahan.

“Dulu tanam pohon belum begitu besar sudah dirusak hewan. Dimakan kijang, ada yang dicabut kera. Lalu, akhirnya saya menanam pohon pinang sampai tahun 2018. Saat mengawali nanam pinang dulu banyak yang menganggap gila. Soalnya, harganya murah. Tapi, saya terus tanam sampai lereng ini rimbun dipenuhi pepohonan,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lumajang Hertutik menjelaskan, keberadaan Daim menarik perhatian Pemkab Lumajang untuk mengusulkannya sebagai penerima penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan 2022. Sebab, upayanya selain menghijaukan kembali kawasan hutan, juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjadikannya sumber kehidupan.

Saat ini ada sekitar 14 hektare kawasan hutan yang berhasil dikelola oleh bapak tiga anak itu. Di luasan lahan tersebut sekarang sudah tertanam 12 ribu pohon pinang, 2 ribu pohon sirsak, 4 ribu pohon kopi, dan 150 pohon alpukat. Tak hanya itu, dia juga menanam sayur-sayuran macam pakis dan sebagainya.

“Kami sangat mengapresiasi kegigihan Pak Daim dalam memanfaatkan hutan. Ini menjadi hadiah terbaik bagi kami di Hari Lingkungan Hidup. Semoga upayanya terus menginspirasi masyarakat Lumajang. Semoga dapat muncul Daim-Daim lainnya di tempat lain dengan prestasi yang membanggakan,” pungkasnya. (son/c2/fid)

SUMBERPETUNG, Radar Semeru – Setelah terjadi pembalakan liar besar-besaran sekitar tahun 1990-an, beberapa tahun berikutnya dampak hutan yang gundul begitu terasa. Debit mata air menurun, cuaca makin panas, hingga bencana banjir sering melanda masyarakat sekitar hutan. Karena itu, tahun 1996, Daim memutuskan keluar masuk hutan mengawali konservasi.

BACA JUGA: Satu Ekor Anakan Merak Bisa Jutaan Rupiah

Rumah laki-laki yang sudah berusia 61 tahun itu berada di ujung permukiman sebelum masuk ke lereng gunung. Saat itu, hampir setiap hari dia berjalan membawa benih dan bibit tanaman dari luar hutan untuk ditanam di dalam kawasan hutan. Dengan harapan, langkah itu dapat mengembalikan fungsi hutan.

Daim mengatakan, mulanya jenis pohon yang ditanam asal-asalan. Asal bisa tumbuh, asal bisa berbuah. Seperti bibit pohon kopi, juwet, manggis, pohon durian, dan banyak jenis pohon buah lainnya. Berjalan sepuluh hingga sebelas tahun, ternyata tidak membuahkan hasil. Baru tahun 2006 akhirnya menemukan jenis pohon yang dapat bertahan.

“Dulu tanam pohon belum begitu besar sudah dirusak hewan. Dimakan kijang, ada yang dicabut kera. Lalu, akhirnya saya menanam pohon pinang sampai tahun 2018. Saat mengawali nanam pinang dulu banyak yang menganggap gila. Soalnya, harganya murah. Tapi, saya terus tanam sampai lereng ini rimbun dipenuhi pepohonan,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lumajang Hertutik menjelaskan, keberadaan Daim menarik perhatian Pemkab Lumajang untuk mengusulkannya sebagai penerima penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan 2022. Sebab, upayanya selain menghijaukan kembali kawasan hutan, juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjadikannya sumber kehidupan.

Saat ini ada sekitar 14 hektare kawasan hutan yang berhasil dikelola oleh bapak tiga anak itu. Di luasan lahan tersebut sekarang sudah tertanam 12 ribu pohon pinang, 2 ribu pohon sirsak, 4 ribu pohon kopi, dan 150 pohon alpukat. Tak hanya itu, dia juga menanam sayur-sayuran macam pakis dan sebagainya.

“Kami sangat mengapresiasi kegigihan Pak Daim dalam memanfaatkan hutan. Ini menjadi hadiah terbaik bagi kami di Hari Lingkungan Hidup. Semoga upayanya terus menginspirasi masyarakat Lumajang. Semoga dapat muncul Daim-Daim lainnya di tempat lain dengan prestasi yang membanggakan,” pungkasnya. (son/c2/fid)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/