alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Pengungsi APG Gunung Semeru Mulai Dilupakan

Rasa bosan sudah tak terbendung lagi dirasakan para penyintas APG Gunung Semeru. Sehari-hari mereka menjalani aktivitas nyaris tanpa ada sesuatu yang baru. Terlebih di bulan Ramadan kali ini, pemerintah seolah-olah lepas tangan. Padahal, dulu mereka sangat diperhatikan. Tetapi, kini mereka mulai dilupakan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah empat bulan para penyintas awan panas guguran (APG) Gunung Semeru bermukim sementara di posko penyintas Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Mereka masih setia menanti kepastian menempati hunian tetap. Namun, rasa bosan tanpa kegiatan mulai menggoyahkan pendirian mereka. Tak ayal, sebelum Ramadan ini beberapa penyintas memilih mencari tempat tinggal baru.

Baca Juga : Karya Lukisan Anak Semeru Dilelang

Informasi yang berhasil dihimpun, 100 KK masih bertahan di tenda hingga kemarin. Sebagian besar mereka kehilangan rumah dan pekerjaan akibat bencana Gunung Semeru. Karena itu, mereka memilih tetap berada di tenda. Namun, niat hati ingin tetap ada aktivitas, justru mereka bingung mau beraktivitas apa.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Tidak ada aktivitas yang baru. Kami sahur, lanjut aktivitas sendiri-sendiri, sorenya persiapan berbuka. Setelah adzan, ya kami berbuka di tenda masing-masing. Lanjut Tarawih seperti biasa. Tidak ada yang istimewa,” keluh Junaidi, salah seorang penyintas.

Hal yang sama juga diungkapkan Samsul Arifin. Lelaki yang dulu bekerja sebagai kuli panggul itu kini hanya bisa beraktivitas di bawah tenda penyintas yang panas. Waktu luangnya hanya diisi dengan mengasah jari-jemarinya membuat keset. “Sebenarnya sangat ingin ada kegiatan baru selama Ramadan. Tetapi, mau bagaimana lagi, sampai sekarang juga tidak ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Forum Komunikasi Penyintas Penanggal (FKPP) Ian Heriyanto mengatakan, program Ramadan bagi para penyintas sangat dibutuhkan. Hal itu bisa menjadi sarana refreshing bagi penyintas. Meski pihaknya bersama relawan telah menetapkan beberapa program, dia menilai masih kurang maksimal.

“Sebenarnya permintaan penyintas ini sederhana. Mereka bisa merasakan Ramadan bersama pemerintah. Lebih-lebih mereka bisa kegiatan bersama. Misalnya berbuka bersama Pak Bupati di tenda penyintas,” tuturnya.

Menurutnya, hal itu bisa menjadi booster semangat penyintas. Sebab, sebelumnya mereka disibukkan dengan beragam kegiatan. Baik dari relawan maupun Pemkab Lumajang. Oleh sebab itu, dia berharap perhatian pemkab terhadap penyintas tidak berkurang sedikit pun. “Sekarang mereka (penyintas, Red) seperti dilupakan. Semoga segera ada tindakan,” pungkasnya.

Minta Gelar Program Ramadan 

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah empat bulan para penyintas awan panas guguran (APG) Gunung Semeru bermukim sementara di posko penyintas Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Mereka masih setia menanti kepastian menempati hunian tetap. Namun, rasa bosan tanpa kegiatan mulai menggoyahkan pendirian mereka. Tak ayal, sebelum Ramadan ini beberapa penyintas memilih mencari tempat tinggal baru.

Baca Juga : Karya Lukisan Anak Semeru Dilelang

Informasi yang berhasil dihimpun, 100 KK masih bertahan di tenda hingga kemarin. Sebagian besar mereka kehilangan rumah dan pekerjaan akibat bencana Gunung Semeru. Karena itu, mereka memilih tetap berada di tenda. Namun, niat hati ingin tetap ada aktivitas, justru mereka bingung mau beraktivitas apa.

“Tidak ada aktivitas yang baru. Kami sahur, lanjut aktivitas sendiri-sendiri, sorenya persiapan berbuka. Setelah adzan, ya kami berbuka di tenda masing-masing. Lanjut Tarawih seperti biasa. Tidak ada yang istimewa,” keluh Junaidi, salah seorang penyintas.

Hal yang sama juga diungkapkan Samsul Arifin. Lelaki yang dulu bekerja sebagai kuli panggul itu kini hanya bisa beraktivitas di bawah tenda penyintas yang panas. Waktu luangnya hanya diisi dengan mengasah jari-jemarinya membuat keset. “Sebenarnya sangat ingin ada kegiatan baru selama Ramadan. Tetapi, mau bagaimana lagi, sampai sekarang juga tidak ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Forum Komunikasi Penyintas Penanggal (FKPP) Ian Heriyanto mengatakan, program Ramadan bagi para penyintas sangat dibutuhkan. Hal itu bisa menjadi sarana refreshing bagi penyintas. Meski pihaknya bersama relawan telah menetapkan beberapa program, dia menilai masih kurang maksimal.

“Sebenarnya permintaan penyintas ini sederhana. Mereka bisa merasakan Ramadan bersama pemerintah. Lebih-lebih mereka bisa kegiatan bersama. Misalnya berbuka bersama Pak Bupati di tenda penyintas,” tuturnya.

Menurutnya, hal itu bisa menjadi booster semangat penyintas. Sebab, sebelumnya mereka disibukkan dengan beragam kegiatan. Baik dari relawan maupun Pemkab Lumajang. Oleh sebab itu, dia berharap perhatian pemkab terhadap penyintas tidak berkurang sedikit pun. “Sekarang mereka (penyintas, Red) seperti dilupakan. Semoga segera ada tindakan,” pungkasnya.

Minta Gelar Program Ramadan 

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah empat bulan para penyintas awan panas guguran (APG) Gunung Semeru bermukim sementara di posko penyintas Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Mereka masih setia menanti kepastian menempati hunian tetap. Namun, rasa bosan tanpa kegiatan mulai menggoyahkan pendirian mereka. Tak ayal, sebelum Ramadan ini beberapa penyintas memilih mencari tempat tinggal baru.

Baca Juga : Karya Lukisan Anak Semeru Dilelang

Informasi yang berhasil dihimpun, 100 KK masih bertahan di tenda hingga kemarin. Sebagian besar mereka kehilangan rumah dan pekerjaan akibat bencana Gunung Semeru. Karena itu, mereka memilih tetap berada di tenda. Namun, niat hati ingin tetap ada aktivitas, justru mereka bingung mau beraktivitas apa.

“Tidak ada aktivitas yang baru. Kami sahur, lanjut aktivitas sendiri-sendiri, sorenya persiapan berbuka. Setelah adzan, ya kami berbuka di tenda masing-masing. Lanjut Tarawih seperti biasa. Tidak ada yang istimewa,” keluh Junaidi, salah seorang penyintas.

Hal yang sama juga diungkapkan Samsul Arifin. Lelaki yang dulu bekerja sebagai kuli panggul itu kini hanya bisa beraktivitas di bawah tenda penyintas yang panas. Waktu luangnya hanya diisi dengan mengasah jari-jemarinya membuat keset. “Sebenarnya sangat ingin ada kegiatan baru selama Ramadan. Tetapi, mau bagaimana lagi, sampai sekarang juga tidak ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Forum Komunikasi Penyintas Penanggal (FKPP) Ian Heriyanto mengatakan, program Ramadan bagi para penyintas sangat dibutuhkan. Hal itu bisa menjadi sarana refreshing bagi penyintas. Meski pihaknya bersama relawan telah menetapkan beberapa program, dia menilai masih kurang maksimal.

“Sebenarnya permintaan penyintas ini sederhana. Mereka bisa merasakan Ramadan bersama pemerintah. Lebih-lebih mereka bisa kegiatan bersama. Misalnya berbuka bersama Pak Bupati di tenda penyintas,” tuturnya.

Menurutnya, hal itu bisa menjadi booster semangat penyintas. Sebab, sebelumnya mereka disibukkan dengan beragam kegiatan. Baik dari relawan maupun Pemkab Lumajang. Oleh sebab itu, dia berharap perhatian pemkab terhadap penyintas tidak berkurang sedikit pun. “Sekarang mereka (penyintas, Red) seperti dilupakan. Semoga segera ada tindakan,” pungkasnya.

Minta Gelar Program Ramadan 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/