alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Tolak Tukar Guling, Wadul Dewan

Perhutani Pastikan Tiadakan Rencana

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tukar guling dan penggusuran lahan ternyata masih menghantui sebagian warga desa di Kecamatan Senduro. Terutama mereka yang tinggal di kawasan hutan. Kemarin, puluhan warga melakukan aksi penolakan rencana tersebut. Mereka mendatangi kantor DPRD Lumajang untuk meminta perlindungan.

Sekitar pukul 08.00, warga Desa Karanganyar dan Desa Kandang Tepus berkumpul di kantor Kecamatan Senduro. Mereka berangkat menggunakan kendaraan pikap menuju Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT). Tepat pukul 10.00, satu per satu orator menyampaikan maksud dan tujuannya. Termasuk juga menolak jalan dusun dijadikan sebagai akses wisata.

Lulik, salah satu orator, mengatakan, sejak ratusan tahun silam nenek moyang mereka menempati sebagian kawasan hutan Gunung Semeru. Karena itu, dia menolak tukar guling. Sebab, menurutnya, secara keuangan warga setempat tidak mampu untuk mengganti lahan yang sudah ditinggali.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kami juga menolak akses jalan Dusun Karanganyar untuk dijadikan sebagai akses wisata. Karena banyaknya kendaraan yang melewati jalan kecil itu sangat membahayakan dan mengganggu aktivitas masyarakat yang setiap hari bertani. Kami juga meminta perlindungan hutan adat yang ada di Argosari dan Ranupani,” jelasnya.

Setelah menyampaikan beberapa tuntutan, perwakilan massa aksi akhirnya diterima oleh bagian DPRD Lumajang. Wakil Ketua I H. Bukasan turut mendengarkan beberapa tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat di ruang paripurna. Rencananya, dalam waktu dekat bakal difasilitasi untuk mencarikan solusi masalah tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tukar guling dan penggusuran lahan ternyata masih menghantui sebagian warga desa di Kecamatan Senduro. Terutama mereka yang tinggal di kawasan hutan. Kemarin, puluhan warga melakukan aksi penolakan rencana tersebut. Mereka mendatangi kantor DPRD Lumajang untuk meminta perlindungan.

Sekitar pukul 08.00, warga Desa Karanganyar dan Desa Kandang Tepus berkumpul di kantor Kecamatan Senduro. Mereka berangkat menggunakan kendaraan pikap menuju Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT). Tepat pukul 10.00, satu per satu orator menyampaikan maksud dan tujuannya. Termasuk juga menolak jalan dusun dijadikan sebagai akses wisata.

Lulik, salah satu orator, mengatakan, sejak ratusan tahun silam nenek moyang mereka menempati sebagian kawasan hutan Gunung Semeru. Karena itu, dia menolak tukar guling. Sebab, menurutnya, secara keuangan warga setempat tidak mampu untuk mengganti lahan yang sudah ditinggali.

“Kami juga menolak akses jalan Dusun Karanganyar untuk dijadikan sebagai akses wisata. Karena banyaknya kendaraan yang melewati jalan kecil itu sangat membahayakan dan mengganggu aktivitas masyarakat yang setiap hari bertani. Kami juga meminta perlindungan hutan adat yang ada di Argosari dan Ranupani,” jelasnya.

Setelah menyampaikan beberapa tuntutan, perwakilan massa aksi akhirnya diterima oleh bagian DPRD Lumajang. Wakil Ketua I H. Bukasan turut mendengarkan beberapa tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat di ruang paripurna. Rencananya, dalam waktu dekat bakal difasilitasi untuk mencarikan solusi masalah tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tukar guling dan penggusuran lahan ternyata masih menghantui sebagian warga desa di Kecamatan Senduro. Terutama mereka yang tinggal di kawasan hutan. Kemarin, puluhan warga melakukan aksi penolakan rencana tersebut. Mereka mendatangi kantor DPRD Lumajang untuk meminta perlindungan.

Sekitar pukul 08.00, warga Desa Karanganyar dan Desa Kandang Tepus berkumpul di kantor Kecamatan Senduro. Mereka berangkat menggunakan kendaraan pikap menuju Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT). Tepat pukul 10.00, satu per satu orator menyampaikan maksud dan tujuannya. Termasuk juga menolak jalan dusun dijadikan sebagai akses wisata.

Lulik, salah satu orator, mengatakan, sejak ratusan tahun silam nenek moyang mereka menempati sebagian kawasan hutan Gunung Semeru. Karena itu, dia menolak tukar guling. Sebab, menurutnya, secara keuangan warga setempat tidak mampu untuk mengganti lahan yang sudah ditinggali.

“Kami juga menolak akses jalan Dusun Karanganyar untuk dijadikan sebagai akses wisata. Karena banyaknya kendaraan yang melewati jalan kecil itu sangat membahayakan dan mengganggu aktivitas masyarakat yang setiap hari bertani. Kami juga meminta perlindungan hutan adat yang ada di Argosari dan Ranupani,” jelasnya.

Setelah menyampaikan beberapa tuntutan, perwakilan massa aksi akhirnya diterima oleh bagian DPRD Lumajang. Wakil Ketua I H. Bukasan turut mendengarkan beberapa tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat di ruang paripurna. Rencananya, dalam waktu dekat bakal difasilitasi untuk mencarikan solusi masalah tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/