alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Ada Potensi Tsunami Setinggi 22 Meter di Lumajang

Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pasuruan kembali mendatangi Lumajang. Selama dua hari ini, tim tersebut melakukan verifikasi lapangan serta memantau kesiapan Lumajang dalam melakukan mitigasi bencana. Bagaimana hasilnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terjadi gempa di Blitar, beberapa waktu lalu, Lumajang menjadi salah kabupaten yang menjadi prioritas penanganan bencana. Sebab, selain berdekatan dengan pusat gempa, juga berdampingan langsung dengan Samudera Hindia. Akibatnya, potensi tsunami cukup mengancam warga yang tinggal kawasan selatan.

Ada dua lokasi yang diverifikasi langsung oleh BMKG Pasuruan. Di antaranya Pantai Mbah Drajid di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, dan Pantai Watu Pecak di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian. Dua lokasi itu dipilih karena dianggap padat penduduk dan sering menjadi jujukan warga untuk berwisata.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun BMKG Pasuruan Akhmad Fauzi mengatakan, untuk menyempurnakan pembuatan peta bahaya tsunami perlu dilakukan verifikasi lapangan di beberapa daerah yang rawan. Termasuk memastikan rambu-rambu dan papan imbauan terpasang secara benar dan tepat.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kami melakukan verifikasi lapangan terkait peta bahaya tsunami dari skenario yang kami buat. Hasil survei kami, alhamdulillah, sudah terdapat rambu-rambu. Jadi, mulai akses dari bibir pantai menuju tempat evakuasi sementara sudah memadai dan bisa dilihat langsung oleh warga,” katanya.

Menurut dia, hasil kajian tahun 2017 itu menunjukkan pantai selatan Jawa Timur berpotensi terjadi gempa megathrust (gempa besar). Kekuatan gempa itu maksimal 8,7 magnitudo. Bahkan, menurut skenario terburuk yang telah disusun BMKG, akibat gempa itu dapat memunculkan gelombang air laut setinggi 18 sampai 22 meter.

“Estimasi gelombang tsunami itu datang sekitar 24 menit di bibir pantai. Kemudian, jarak aman menurut skenario terburuk kami paling jauh harus 2,5 kilometer dari bibir pantai. Ini yang di Kecamatan Pasirian. Kalau di Kecamatan Yosowilangun itu kira-kira, ya 30 sampai 30 menit dan jarak aman paling jauh sekitar 5 kilometer dari bibir pantai,” katanya.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Pasuruan Suwarto menjelaskan, lokasi aman ketika terjadi gelombang tsunami harus berada di ketinggian daratan 22 meter di atas permukaan laut. Sebab, skenario tersebut merupakan skema terburuk yang dibuat dalam mitigasi bencana.

“Verifikasi itu merupakan rangkaian pembuatan peta untuk menentukan mitigasi bencana yang tepat. Sebelumnya kan sudah pengukuran struktur tanah, sekarang tinggal verifikasi lapangan untuk tsunami ketika terjadi gempa megathrust dengan kekuatan sesuai hasil kajian beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Galakkan Tanam Pohon Bakau

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terjadi gempa di Blitar, beberapa waktu lalu, Lumajang menjadi salah kabupaten yang menjadi prioritas penanganan bencana. Sebab, selain berdekatan dengan pusat gempa, juga berdampingan langsung dengan Samudera Hindia. Akibatnya, potensi tsunami cukup mengancam warga yang tinggal kawasan selatan.

Ada dua lokasi yang diverifikasi langsung oleh BMKG Pasuruan. Di antaranya Pantai Mbah Drajid di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, dan Pantai Watu Pecak di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian. Dua lokasi itu dipilih karena dianggap padat penduduk dan sering menjadi jujukan warga untuk berwisata.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun BMKG Pasuruan Akhmad Fauzi mengatakan, untuk menyempurnakan pembuatan peta bahaya tsunami perlu dilakukan verifikasi lapangan di beberapa daerah yang rawan. Termasuk memastikan rambu-rambu dan papan imbauan terpasang secara benar dan tepat.

“Kami melakukan verifikasi lapangan terkait peta bahaya tsunami dari skenario yang kami buat. Hasil survei kami, alhamdulillah, sudah terdapat rambu-rambu. Jadi, mulai akses dari bibir pantai menuju tempat evakuasi sementara sudah memadai dan bisa dilihat langsung oleh warga,” katanya.

Menurut dia, hasil kajian tahun 2017 itu menunjukkan pantai selatan Jawa Timur berpotensi terjadi gempa megathrust (gempa besar). Kekuatan gempa itu maksimal 8,7 magnitudo. Bahkan, menurut skenario terburuk yang telah disusun BMKG, akibat gempa itu dapat memunculkan gelombang air laut setinggi 18 sampai 22 meter.

“Estimasi gelombang tsunami itu datang sekitar 24 menit di bibir pantai. Kemudian, jarak aman menurut skenario terburuk kami paling jauh harus 2,5 kilometer dari bibir pantai. Ini yang di Kecamatan Pasirian. Kalau di Kecamatan Yosowilangun itu kira-kira, ya 30 sampai 30 menit dan jarak aman paling jauh sekitar 5 kilometer dari bibir pantai,” katanya.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Pasuruan Suwarto menjelaskan, lokasi aman ketika terjadi gelombang tsunami harus berada di ketinggian daratan 22 meter di atas permukaan laut. Sebab, skenario tersebut merupakan skema terburuk yang dibuat dalam mitigasi bencana.

“Verifikasi itu merupakan rangkaian pembuatan peta untuk menentukan mitigasi bencana yang tepat. Sebelumnya kan sudah pengukuran struktur tanah, sekarang tinggal verifikasi lapangan untuk tsunami ketika terjadi gempa megathrust dengan kekuatan sesuai hasil kajian beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Galakkan Tanam Pohon Bakau

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terjadi gempa di Blitar, beberapa waktu lalu, Lumajang menjadi salah kabupaten yang menjadi prioritas penanganan bencana. Sebab, selain berdekatan dengan pusat gempa, juga berdampingan langsung dengan Samudera Hindia. Akibatnya, potensi tsunami cukup mengancam warga yang tinggal kawasan selatan.

Ada dua lokasi yang diverifikasi langsung oleh BMKG Pasuruan. Di antaranya Pantai Mbah Drajid di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, dan Pantai Watu Pecak di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian. Dua lokasi itu dipilih karena dianggap padat penduduk dan sering menjadi jujukan warga untuk berwisata.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun BMKG Pasuruan Akhmad Fauzi mengatakan, untuk menyempurnakan pembuatan peta bahaya tsunami perlu dilakukan verifikasi lapangan di beberapa daerah yang rawan. Termasuk memastikan rambu-rambu dan papan imbauan terpasang secara benar dan tepat.

“Kami melakukan verifikasi lapangan terkait peta bahaya tsunami dari skenario yang kami buat. Hasil survei kami, alhamdulillah, sudah terdapat rambu-rambu. Jadi, mulai akses dari bibir pantai menuju tempat evakuasi sementara sudah memadai dan bisa dilihat langsung oleh warga,” katanya.

Menurut dia, hasil kajian tahun 2017 itu menunjukkan pantai selatan Jawa Timur berpotensi terjadi gempa megathrust (gempa besar). Kekuatan gempa itu maksimal 8,7 magnitudo. Bahkan, menurut skenario terburuk yang telah disusun BMKG, akibat gempa itu dapat memunculkan gelombang air laut setinggi 18 sampai 22 meter.

“Estimasi gelombang tsunami itu datang sekitar 24 menit di bibir pantai. Kemudian, jarak aman menurut skenario terburuk kami paling jauh harus 2,5 kilometer dari bibir pantai. Ini yang di Kecamatan Pasirian. Kalau di Kecamatan Yosowilangun itu kira-kira, ya 30 sampai 30 menit dan jarak aman paling jauh sekitar 5 kilometer dari bibir pantai,” katanya.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Pasuruan Suwarto menjelaskan, lokasi aman ketika terjadi gelombang tsunami harus berada di ketinggian daratan 22 meter di atas permukaan laut. Sebab, skenario tersebut merupakan skema terburuk yang dibuat dalam mitigasi bencana.

“Verifikasi itu merupakan rangkaian pembuatan peta untuk menentukan mitigasi bencana yang tepat. Sebelumnya kan sudah pengukuran struktur tanah, sekarang tinggal verifikasi lapangan untuk tsunami ketika terjadi gempa megathrust dengan kekuatan sesuai hasil kajian beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Galakkan Tanam Pohon Bakau

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/