alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Dakwah Diskusi Lebih Menarik

Mobile_AP_Rectangle 1

Lelaki yang menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tersebut menuturkan, komunikasi dua arah sangat dibutuhkan dalam berdakwah. Sebab, hal tersebut akan membuka ruang diskusi lebih mendalam. “Kalau ada diskusi dalam berdakwah ini lebih menarik. Karena tentunya, ada tanya jawab dalam hal ini. Pengalaman saya ketika diskusi di S-3 dengan mahasiswa luar negeri, mereka justru tertarik belajar agama (dakwah, Red) dengan cara diskusi daripada hanya duduk mendengarkan saja,” jelasnya.

Tidak hanya diskusi secara lisan, dakwah dengan tulisan juga sangat menarik. “Pernah saya menulis artikel keislaman. Dan kebetulan itu dimuat di media Islam liberal. Nah, respons orang berbeda-beda. Ada yang mengkritik, mengomentari, bahkan menuduh saya sebagai Islam liberal. Ya, saya biarkan saja. Justru, saya membuka ruang diskusi melalui tulisan. Karena tulisan ya harus dibalas dengan tulisan. Tetapi, sampai saya menunggu, tidak ada balasan mereka untuk tulisan saya. Padahal, ini menjadi bagian dari metode baru dalam dakwah,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

- Advertisement -

Lelaki yang menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tersebut menuturkan, komunikasi dua arah sangat dibutuhkan dalam berdakwah. Sebab, hal tersebut akan membuka ruang diskusi lebih mendalam. “Kalau ada diskusi dalam berdakwah ini lebih menarik. Karena tentunya, ada tanya jawab dalam hal ini. Pengalaman saya ketika diskusi di S-3 dengan mahasiswa luar negeri, mereka justru tertarik belajar agama (dakwah, Red) dengan cara diskusi daripada hanya duduk mendengarkan saja,” jelasnya.

Tidak hanya diskusi secara lisan, dakwah dengan tulisan juga sangat menarik. “Pernah saya menulis artikel keislaman. Dan kebetulan itu dimuat di media Islam liberal. Nah, respons orang berbeda-beda. Ada yang mengkritik, mengomentari, bahkan menuduh saya sebagai Islam liberal. Ya, saya biarkan saja. Justru, saya membuka ruang diskusi melalui tulisan. Karena tulisan ya harus dibalas dengan tulisan. Tetapi, sampai saya menunggu, tidak ada balasan mereka untuk tulisan saya. Padahal, ini menjadi bagian dari metode baru dalam dakwah,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

Lelaki yang menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tersebut menuturkan, komunikasi dua arah sangat dibutuhkan dalam berdakwah. Sebab, hal tersebut akan membuka ruang diskusi lebih mendalam. “Kalau ada diskusi dalam berdakwah ini lebih menarik. Karena tentunya, ada tanya jawab dalam hal ini. Pengalaman saya ketika diskusi di S-3 dengan mahasiswa luar negeri, mereka justru tertarik belajar agama (dakwah, Red) dengan cara diskusi daripada hanya duduk mendengarkan saja,” jelasnya.

Tidak hanya diskusi secara lisan, dakwah dengan tulisan juga sangat menarik. “Pernah saya menulis artikel keislaman. Dan kebetulan itu dimuat di media Islam liberal. Nah, respons orang berbeda-beda. Ada yang mengkritik, mengomentari, bahkan menuduh saya sebagai Islam liberal. Ya, saya biarkan saja. Justru, saya membuka ruang diskusi melalui tulisan. Karena tulisan ya harus dibalas dengan tulisan. Tetapi, sampai saya menunggu, tidak ada balasan mereka untuk tulisan saya. Padahal, ini menjadi bagian dari metode baru dalam dakwah,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/