alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Niatnya Baik, Caranya Kurang Tepat

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitu ungkapan untuk menggambarkan oknum guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda, Desa Dadapan, Kecamatan Gucialit. Sebab, setelah diberhentikan oleh yayasan, keduanya juga dilaporkan ke kepolisian lantaran tindakan kekerasan pada muridnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pergeseran model pendekatan pendidikan memberikan tantangan baru bagi guru dalam melaksanakan tugasnya di dalam kelas. Sekalipun menghadapi tantangan sulit, misalnya kenakalan murid, guru tetap dituntut untuk melakukan pembelajaran secara persuasif pada murid tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, setidaknya ada sekitar 10 murid kelas IV MI Nurul Huda yang mengalami kekerasan fisik pada 26 Maret lalu. Satu per satu tangan murid itu disulut korek api oleh oknum guru dan kepala sekolahnya. Sebab, uang tabungan kelas senilai Rp 12 ribu hilang.

Kapolsek Gucialit Iptu Joko Triyono mengatakan, kejadian tersebut meledak beberapa hari berikutnya. Beberapa orang tua murid mendapati tangan kanan anaknya yang melepuh akibat disulut korek api. Bahkan, setelah ditelusuri, dalam sehari kejadian itu dilakukan selama dua kali.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, setelah jam istirahat selesai, oknum guru tersebut merasa tabungan rutin di dalam kelasnya hilang. Karena itu, dirinya meminta seluruh murid itu untuk jujur mengaku jika memang sengaja mengambil. Tetapi, setelah beberapa kali ditanya, tak satu pun murid memberanikan diri mengakui.

“Barulah satu-satu tangan kanannya disulut korek api sama oknum itu. Tetapi setelahnya, 10 murid itu tetap tidak ada yang mengaku, sehingga oknum itu melaporkan ke kepala sekolahnya. Akhirnya, sebagian anak dipanggil dan dilakukan tindakan serupa, cuman hanya tiga anak saja. Sedangkan lainnya tidak dilakukan,” ucapnya.

Sebelumnya, sempat dilakukan mediasi oleh kepala desa setempat dan pihak kepolisian. Bahkan, keduanya diberhentikan dari MI Nurul Huda. Tetapi, beberapa wali murid tetap tidak terima. Sebagian tetap meminta keadilan dengan melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Lumajang.

Kasi Pendma Kemenag Lumajang Hasanudin mengatakan, setelah mendengar informasi dari oknum guru dan Kepala MI Nurul Huda, informasinya tindakan itu dipilih untuk melatih kejujuran. Sebab, kehilangan uang dalam kelas tersebut sudah beberapa kali terjadi. “Niatnya baik, tapi metodenya yang kurang tepat,” pungkasnya.

 

Tindakan Kekerasan tetap Tidak Dibenarkan

DADAPAN, Radar Semeru – Kehilangan uang belasan ribu rupiah memang tidak seberapa besar, tetapi pendidikan moral dan kejujuran pada murid memang harus ditanamkan sejak dini. Meskipun kehilangannya dalam kelas, cara penanganan dan penindakan tetap tidak dibenarkan melalui kekerasan.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pergeseran model pendekatan pendidikan memberikan tantangan baru bagi guru dalam melaksanakan tugasnya di dalam kelas. Sekalipun menghadapi tantangan sulit, misalnya kenakalan murid, guru tetap dituntut untuk melakukan pembelajaran secara persuasif pada murid tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, setidaknya ada sekitar 10 murid kelas IV MI Nurul Huda yang mengalami kekerasan fisik pada 26 Maret lalu. Satu per satu tangan murid itu disulut korek api oleh oknum guru dan kepala sekolahnya. Sebab, uang tabungan kelas senilai Rp 12 ribu hilang.

Kapolsek Gucialit Iptu Joko Triyono mengatakan, kejadian tersebut meledak beberapa hari berikutnya. Beberapa orang tua murid mendapati tangan kanan anaknya yang melepuh akibat disulut korek api. Bahkan, setelah ditelusuri, dalam sehari kejadian itu dilakukan selama dua kali.

Menurut dia, setelah jam istirahat selesai, oknum guru tersebut merasa tabungan rutin di dalam kelasnya hilang. Karena itu, dirinya meminta seluruh murid itu untuk jujur mengaku jika memang sengaja mengambil. Tetapi, setelah beberapa kali ditanya, tak satu pun murid memberanikan diri mengakui.

“Barulah satu-satu tangan kanannya disulut korek api sama oknum itu. Tetapi setelahnya, 10 murid itu tetap tidak ada yang mengaku, sehingga oknum itu melaporkan ke kepala sekolahnya. Akhirnya, sebagian anak dipanggil dan dilakukan tindakan serupa, cuman hanya tiga anak saja. Sedangkan lainnya tidak dilakukan,” ucapnya.

Sebelumnya, sempat dilakukan mediasi oleh kepala desa setempat dan pihak kepolisian. Bahkan, keduanya diberhentikan dari MI Nurul Huda. Tetapi, beberapa wali murid tetap tidak terima. Sebagian tetap meminta keadilan dengan melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Lumajang.

Kasi Pendma Kemenag Lumajang Hasanudin mengatakan, setelah mendengar informasi dari oknum guru dan Kepala MI Nurul Huda, informasinya tindakan itu dipilih untuk melatih kejujuran. Sebab, kehilangan uang dalam kelas tersebut sudah beberapa kali terjadi. “Niatnya baik, tapi metodenya yang kurang tepat,” pungkasnya.

 

Tindakan Kekerasan tetap Tidak Dibenarkan

DADAPAN, Radar Semeru – Kehilangan uang belasan ribu rupiah memang tidak seberapa besar, tetapi pendidikan moral dan kejujuran pada murid memang harus ditanamkan sejak dini. Meskipun kehilangannya dalam kelas, cara penanganan dan penindakan tetap tidak dibenarkan melalui kekerasan.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pergeseran model pendekatan pendidikan memberikan tantangan baru bagi guru dalam melaksanakan tugasnya di dalam kelas. Sekalipun menghadapi tantangan sulit, misalnya kenakalan murid, guru tetap dituntut untuk melakukan pembelajaran secara persuasif pada murid tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, setidaknya ada sekitar 10 murid kelas IV MI Nurul Huda yang mengalami kekerasan fisik pada 26 Maret lalu. Satu per satu tangan murid itu disulut korek api oleh oknum guru dan kepala sekolahnya. Sebab, uang tabungan kelas senilai Rp 12 ribu hilang.

Kapolsek Gucialit Iptu Joko Triyono mengatakan, kejadian tersebut meledak beberapa hari berikutnya. Beberapa orang tua murid mendapati tangan kanan anaknya yang melepuh akibat disulut korek api. Bahkan, setelah ditelusuri, dalam sehari kejadian itu dilakukan selama dua kali.

Menurut dia, setelah jam istirahat selesai, oknum guru tersebut merasa tabungan rutin di dalam kelasnya hilang. Karena itu, dirinya meminta seluruh murid itu untuk jujur mengaku jika memang sengaja mengambil. Tetapi, setelah beberapa kali ditanya, tak satu pun murid memberanikan diri mengakui.

“Barulah satu-satu tangan kanannya disulut korek api sama oknum itu. Tetapi setelahnya, 10 murid itu tetap tidak ada yang mengaku, sehingga oknum itu melaporkan ke kepala sekolahnya. Akhirnya, sebagian anak dipanggil dan dilakukan tindakan serupa, cuman hanya tiga anak saja. Sedangkan lainnya tidak dilakukan,” ucapnya.

Sebelumnya, sempat dilakukan mediasi oleh kepala desa setempat dan pihak kepolisian. Bahkan, keduanya diberhentikan dari MI Nurul Huda. Tetapi, beberapa wali murid tetap tidak terima. Sebagian tetap meminta keadilan dengan melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Lumajang.

Kasi Pendma Kemenag Lumajang Hasanudin mengatakan, setelah mendengar informasi dari oknum guru dan Kepala MI Nurul Huda, informasinya tindakan itu dipilih untuk melatih kejujuran. Sebab, kehilangan uang dalam kelas tersebut sudah beberapa kali terjadi. “Niatnya baik, tapi metodenya yang kurang tepat,” pungkasnya.

 

Tindakan Kekerasan tetap Tidak Dibenarkan

DADAPAN, Radar Semeru – Kehilangan uang belasan ribu rupiah memang tidak seberapa besar, tetapi pendidikan moral dan kejujuran pada murid memang harus ditanamkan sejak dini. Meskipun kehilangannya dalam kelas, cara penanganan dan penindakan tetap tidak dibenarkan melalui kekerasan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/