24.8 C
Jember
Friday, 24 March 2023

Padi Diterpa Angin Kencang dan Hujan Deras Terancam Panen Tidak Maksimal

Mobile_AP_Rectangle 1

KUTORENON, Radar Semeru – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mengguyur sejumlah kawasan di Lumajang. Tak hanya itu, hujan juga disertai angin kencang yang cukup membahayakan. Tidak sedikit ranting patah hingga pohon roboh beberapa kali.

Kondisi itu menyebabkan para petani khawatir. Sebab, tanaman padi mereka roboh diterpa angin kencang dan hujan deras. Ancaman hasil padi tidak maksimal dan gagal panen di depan mata. “Mau tidak mau harus segera dipanen. Sebenarnya bisa ditegakkan lagi dengan bantuan tali dan kayu. Tapi, kalau sudah hampir separuh dari luas padi yang roboh, ya sulit,” ungkap salah satu petani di Kutorenon, Soponyono.

Kemarin, dua petak lahan padi miliknya menjadi korban keganasan musim di awal tahun ini. Dia mengaku, kondisi tersebut memang sudah biasa menjelang panen. Namun, dia tidak menyangka luasan padi yang roboh melebihi bayangannya. Dia pun terpaksa panen lebih awal.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, padi memang sudah berbobot dan menguning. Tetapi, sebagian besar masih belum waktunya dipanen. Meski demikian, dia tidak bisa berbuat banyak. Panen harus segera dilakukan. “Harusnya sepekan lagi panen. Tapi, besok lusa harus segera dipanen agar tidak semakin jelek kualitasnya,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami Subelu. Petani asal Selokgondang itu juga panen lebih awal. Meski padi yang roboh tidak banyak, hal itu cukup membuatnya rugi. Sebab, pemborong membeli padi dengan harga yang berbeda dari biasanya.

Dia menyebut, pemborong memilih kualitas padi yang bagus. Rata-rata memang langsung membeli di sawah. Namun, tidak semua padi dibeli. “Mereka pilih-pilih. Kalau yang roboh terendam air sawah biasanya tidak mau. Jadi, hanya membeli yang masih berdiri saja. Akhirnya, padi yang roboh, ya untuk konsumsi sendiri,” katanya.(kin/c2/fid)

- Advertisement -

KUTORENON, Radar Semeru – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mengguyur sejumlah kawasan di Lumajang. Tak hanya itu, hujan juga disertai angin kencang yang cukup membahayakan. Tidak sedikit ranting patah hingga pohon roboh beberapa kali.

Kondisi itu menyebabkan para petani khawatir. Sebab, tanaman padi mereka roboh diterpa angin kencang dan hujan deras. Ancaman hasil padi tidak maksimal dan gagal panen di depan mata. “Mau tidak mau harus segera dipanen. Sebenarnya bisa ditegakkan lagi dengan bantuan tali dan kayu. Tapi, kalau sudah hampir separuh dari luas padi yang roboh, ya sulit,” ungkap salah satu petani di Kutorenon, Soponyono.

Kemarin, dua petak lahan padi miliknya menjadi korban keganasan musim di awal tahun ini. Dia mengaku, kondisi tersebut memang sudah biasa menjelang panen. Namun, dia tidak menyangka luasan padi yang roboh melebihi bayangannya. Dia pun terpaksa panen lebih awal.

Dia menjelaskan, padi memang sudah berbobot dan menguning. Tetapi, sebagian besar masih belum waktunya dipanen. Meski demikian, dia tidak bisa berbuat banyak. Panen harus segera dilakukan. “Harusnya sepekan lagi panen. Tapi, besok lusa harus segera dipanen agar tidak semakin jelek kualitasnya,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami Subelu. Petani asal Selokgondang itu juga panen lebih awal. Meski padi yang roboh tidak banyak, hal itu cukup membuatnya rugi. Sebab, pemborong membeli padi dengan harga yang berbeda dari biasanya.

Dia menyebut, pemborong memilih kualitas padi yang bagus. Rata-rata memang langsung membeli di sawah. Namun, tidak semua padi dibeli. “Mereka pilih-pilih. Kalau yang roboh terendam air sawah biasanya tidak mau. Jadi, hanya membeli yang masih berdiri saja. Akhirnya, padi yang roboh, ya untuk konsumsi sendiri,” katanya.(kin/c2/fid)

KUTORENON, Radar Semeru – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mengguyur sejumlah kawasan di Lumajang. Tak hanya itu, hujan juga disertai angin kencang yang cukup membahayakan. Tidak sedikit ranting patah hingga pohon roboh beberapa kali.

Kondisi itu menyebabkan para petani khawatir. Sebab, tanaman padi mereka roboh diterpa angin kencang dan hujan deras. Ancaman hasil padi tidak maksimal dan gagal panen di depan mata. “Mau tidak mau harus segera dipanen. Sebenarnya bisa ditegakkan lagi dengan bantuan tali dan kayu. Tapi, kalau sudah hampir separuh dari luas padi yang roboh, ya sulit,” ungkap salah satu petani di Kutorenon, Soponyono.

Kemarin, dua petak lahan padi miliknya menjadi korban keganasan musim di awal tahun ini. Dia mengaku, kondisi tersebut memang sudah biasa menjelang panen. Namun, dia tidak menyangka luasan padi yang roboh melebihi bayangannya. Dia pun terpaksa panen lebih awal.

Dia menjelaskan, padi memang sudah berbobot dan menguning. Tetapi, sebagian besar masih belum waktunya dipanen. Meski demikian, dia tidak bisa berbuat banyak. Panen harus segera dilakukan. “Harusnya sepekan lagi panen. Tapi, besok lusa harus segera dipanen agar tidak semakin jelek kualitasnya,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami Subelu. Petani asal Selokgondang itu juga panen lebih awal. Meski padi yang roboh tidak banyak, hal itu cukup membuatnya rugi. Sebab, pemborong membeli padi dengan harga yang berbeda dari biasanya.

Dia menyebut, pemborong memilih kualitas padi yang bagus. Rata-rata memang langsung membeli di sawah. Namun, tidak semua padi dibeli. “Mereka pilih-pilih. Kalau yang roboh terendam air sawah biasanya tidak mau. Jadi, hanya membeli yang masih berdiri saja. Akhirnya, padi yang roboh, ya untuk konsumsi sendiri,” katanya.(kin/c2/fid)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/