alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Fokusnya Hanya Pascabencana

Pengurusan Dokumen Penting yang Hilang Bakal Dipermudah

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terjadinya bencana, sejumlah masalah mulai bermunculan. Selain kerusakan, warga terdampak, juga ada yang kehilangan harta benda hingga surat berharga. Pemerintah juga perlu melakukan evaluasi penanggulangan bencana.

Dr Abdul Wadud Nafis, tokoh agama sekaligus korban bencana banjir, mengatakan bahwa penanggulangan tidak cukup dilakukan pemerintah. Namun, masyarakat seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat harus dilibatkan. “Selama ini kita hanya mendiskusikan pascabencana. Sedangkan sebelum bencana, kita tidak pernah membahasnya,” katanya.

Gus Wadud, sapaan akrabnya, mengajak masyarakat dan pemerintah saling bersinergi. Tujuannya untuk memudahkan koordinasi saat bencana agar kerugian bisa diminimalisasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya setuju yang disampaikan Gus Wadud. Perlu peran semua masyarakat, termasuk tokoh agama. Karena kita tidak bisa bergerak sendiri,” kata Deddy Firmansyah, Anggota Komisi D DPRD Lumajang.

Menurut dia, pemerintah perlu mempersiapkan tiga hal. Edukasi prabencana, tindakan masa darurat, dan penanganan pascabencana. Sebab, selama ini fokus pemerintah hanya pada penanganan bencana. “Tindakan pemerintah luar biasa. Tetapi, saat darurat dan prabencana, kita belum bisa mengatasinya. Ini harus menjadi evaluasi,” jelasnya.

Sementara itu, Dewi Susiyanti, Kepala Dinas Sosial Lumajang, berharap ada data riil di masing-masing desa. Hal itu memudahkan pemerintah dalam penanganan bencana. “Seandainya ada bencana, kita tidak kebingungan mencari data. Hal itu juga memudahkan kita dalam berkoordinasi penyaluran bencana,” harapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terjadinya bencana, sejumlah masalah mulai bermunculan. Selain kerusakan, warga terdampak, juga ada yang kehilangan harta benda hingga surat berharga. Pemerintah juga perlu melakukan evaluasi penanggulangan bencana.

Dr Abdul Wadud Nafis, tokoh agama sekaligus korban bencana banjir, mengatakan bahwa penanggulangan tidak cukup dilakukan pemerintah. Namun, masyarakat seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat harus dilibatkan. “Selama ini kita hanya mendiskusikan pascabencana. Sedangkan sebelum bencana, kita tidak pernah membahasnya,” katanya.

Gus Wadud, sapaan akrabnya, mengajak masyarakat dan pemerintah saling bersinergi. Tujuannya untuk memudahkan koordinasi saat bencana agar kerugian bisa diminimalisasi.

“Saya setuju yang disampaikan Gus Wadud. Perlu peran semua masyarakat, termasuk tokoh agama. Karena kita tidak bisa bergerak sendiri,” kata Deddy Firmansyah, Anggota Komisi D DPRD Lumajang.

Menurut dia, pemerintah perlu mempersiapkan tiga hal. Edukasi prabencana, tindakan masa darurat, dan penanganan pascabencana. Sebab, selama ini fokus pemerintah hanya pada penanganan bencana. “Tindakan pemerintah luar biasa. Tetapi, saat darurat dan prabencana, kita belum bisa mengatasinya. Ini harus menjadi evaluasi,” jelasnya.

Sementara itu, Dewi Susiyanti, Kepala Dinas Sosial Lumajang, berharap ada data riil di masing-masing desa. Hal itu memudahkan pemerintah dalam penanganan bencana. “Seandainya ada bencana, kita tidak kebingungan mencari data. Hal itu juga memudahkan kita dalam berkoordinasi penyaluran bencana,” harapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terjadinya bencana, sejumlah masalah mulai bermunculan. Selain kerusakan, warga terdampak, juga ada yang kehilangan harta benda hingga surat berharga. Pemerintah juga perlu melakukan evaluasi penanggulangan bencana.

Dr Abdul Wadud Nafis, tokoh agama sekaligus korban bencana banjir, mengatakan bahwa penanggulangan tidak cukup dilakukan pemerintah. Namun, masyarakat seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat harus dilibatkan. “Selama ini kita hanya mendiskusikan pascabencana. Sedangkan sebelum bencana, kita tidak pernah membahasnya,” katanya.

Gus Wadud, sapaan akrabnya, mengajak masyarakat dan pemerintah saling bersinergi. Tujuannya untuk memudahkan koordinasi saat bencana agar kerugian bisa diminimalisasi.

“Saya setuju yang disampaikan Gus Wadud. Perlu peran semua masyarakat, termasuk tokoh agama. Karena kita tidak bisa bergerak sendiri,” kata Deddy Firmansyah, Anggota Komisi D DPRD Lumajang.

Menurut dia, pemerintah perlu mempersiapkan tiga hal. Edukasi prabencana, tindakan masa darurat, dan penanganan pascabencana. Sebab, selama ini fokus pemerintah hanya pada penanganan bencana. “Tindakan pemerintah luar biasa. Tetapi, saat darurat dan prabencana, kita belum bisa mengatasinya. Ini harus menjadi evaluasi,” jelasnya.

Sementara itu, Dewi Susiyanti, Kepala Dinas Sosial Lumajang, berharap ada data riil di masing-masing desa. Hal itu memudahkan pemerintah dalam penanganan bencana. “Seandainya ada bencana, kita tidak kebingungan mencari data. Hal itu juga memudahkan kita dalam berkoordinasi penyaluran bencana,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/