alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Kapal Karam Malaysia, PMI Ilegal Asal Lumajang Jadi Korban

Polres Beri Dukungan Psikologis pada Keluarga Korban

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Karamnya kapal yang membawa 21 pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal menjadi atensi internasional. Kapal yang berangkat dari Tanjung Uban, Kepulauan Riau, dengan tujuan Johor Bahru, Malaysia, tersebut karam di perairan Johor, Malaysia, pada 15 Desember lalu.

Salah satu korban meninggal dunia akibat karamnya kapal tersebut ternyata berasal dari Lumajang. Korban bernama Sri Mindari, warga berumur 41 tahun asal Dusun Persil Ranupakis, Desa Kaliboto Kidul, Kecamatan Jatiroto. Sri merupakan salah satu PMI ilegal yang sedang mencari pekerjaan di Malaysia. Identitasnya diketahui setelah BP2MI dan KBRI Malaysia memastikan ciri-ciri korban.

Kepala Dusun setempat, Slamet Wahyudi, mengungkapkan, Sri merupakan tulang punggung keluarga. Korban meninggalkan ibunya yang berumur 61 tahun, Hartatik. Juga meninggalkan dua anak perempuan. Masing-masing berusia 16 dan 10 tahun. “Benar. Korban merupakan salah satu warga kami yang dikenali keluarganya dari gelang yang masih melekat di tangan korban,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wahyudi mengatakan, keluarga yang tinggal di RT 01 RW 15 Dusun Persil Ranupakis tersebut dihubungi pihak KBRI Malaysia. Mereka memastikan salah satu korban merupakan Sri. Kepastian itu dibuktikan dengan foto Sri semasa hidup memakai gelang yang sama. Selanjutnya, keluarga mengurus berkas administrasi pemulangan jenazah.

“Informasi yang kami dapat, jenazah diantarkan dari Batam besok (hari ini, Red). Kemungkinan datang sekitar pukul 11 siang. Dari desa, kami terus mengawal agar jenazah sampai di rumah. Selain itu, dukungan juga terus kami berikan,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Karamnya kapal yang membawa 21 pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal menjadi atensi internasional. Kapal yang berangkat dari Tanjung Uban, Kepulauan Riau, dengan tujuan Johor Bahru, Malaysia, tersebut karam di perairan Johor, Malaysia, pada 15 Desember lalu.

Salah satu korban meninggal dunia akibat karamnya kapal tersebut ternyata berasal dari Lumajang. Korban bernama Sri Mindari, warga berumur 41 tahun asal Dusun Persil Ranupakis, Desa Kaliboto Kidul, Kecamatan Jatiroto. Sri merupakan salah satu PMI ilegal yang sedang mencari pekerjaan di Malaysia. Identitasnya diketahui setelah BP2MI dan KBRI Malaysia memastikan ciri-ciri korban.

Kepala Dusun setempat, Slamet Wahyudi, mengungkapkan, Sri merupakan tulang punggung keluarga. Korban meninggalkan ibunya yang berumur 61 tahun, Hartatik. Juga meninggalkan dua anak perempuan. Masing-masing berusia 16 dan 10 tahun. “Benar. Korban merupakan salah satu warga kami yang dikenali keluarganya dari gelang yang masih melekat di tangan korban,” ungkapnya.

Wahyudi mengatakan, keluarga yang tinggal di RT 01 RW 15 Dusun Persil Ranupakis tersebut dihubungi pihak KBRI Malaysia. Mereka memastikan salah satu korban merupakan Sri. Kepastian itu dibuktikan dengan foto Sri semasa hidup memakai gelang yang sama. Selanjutnya, keluarga mengurus berkas administrasi pemulangan jenazah.

“Informasi yang kami dapat, jenazah diantarkan dari Batam besok (hari ini, Red). Kemungkinan datang sekitar pukul 11 siang. Dari desa, kami terus mengawal agar jenazah sampai di rumah. Selain itu, dukungan juga terus kami berikan,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Karamnya kapal yang membawa 21 pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal menjadi atensi internasional. Kapal yang berangkat dari Tanjung Uban, Kepulauan Riau, dengan tujuan Johor Bahru, Malaysia, tersebut karam di perairan Johor, Malaysia, pada 15 Desember lalu.

Salah satu korban meninggal dunia akibat karamnya kapal tersebut ternyata berasal dari Lumajang. Korban bernama Sri Mindari, warga berumur 41 tahun asal Dusun Persil Ranupakis, Desa Kaliboto Kidul, Kecamatan Jatiroto. Sri merupakan salah satu PMI ilegal yang sedang mencari pekerjaan di Malaysia. Identitasnya diketahui setelah BP2MI dan KBRI Malaysia memastikan ciri-ciri korban.

Kepala Dusun setempat, Slamet Wahyudi, mengungkapkan, Sri merupakan tulang punggung keluarga. Korban meninggalkan ibunya yang berumur 61 tahun, Hartatik. Juga meninggalkan dua anak perempuan. Masing-masing berusia 16 dan 10 tahun. “Benar. Korban merupakan salah satu warga kami yang dikenali keluarganya dari gelang yang masih melekat di tangan korban,” ungkapnya.

Wahyudi mengatakan, keluarga yang tinggal di RT 01 RW 15 Dusun Persil Ranupakis tersebut dihubungi pihak KBRI Malaysia. Mereka memastikan salah satu korban merupakan Sri. Kepastian itu dibuktikan dengan foto Sri semasa hidup memakai gelang yang sama. Selanjutnya, keluarga mengurus berkas administrasi pemulangan jenazah.

“Informasi yang kami dapat, jenazah diantarkan dari Batam besok (hari ini, Red). Kemungkinan datang sekitar pukul 11 siang. Dari desa, kami terus mengawal agar jenazah sampai di rumah. Selain itu, dukungan juga terus kami berikan,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/