alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Usaha Batik Lumajang Mulai Sepi, Beralih Bertani untuk Bertahan Hidup

Setelah batik ditetapkan menjadi warisan budaya oleh UNESCO pada tahun 2009 silam, batik di Lumajang mulai bergeliat. Namun, kejayaan tersebut tidak bisa berumur lama. Sebab, sejak pandemi korona, penjualan batik mulai lesu. Saking seretnya, tidak sedikit pembatik yang banting setir ke usaha lain.

Mobile_AP_Rectangle 1

“Harga itu dianggap mahal. Padahal yang kami jual bukan kainnya, tetapi prosesnya. Harga batik juga berbeda. Misalnya, batik dengan warna alam lebih mahal daripada batik warna sintetis. Walau demikian, kami selalu optimistis, kecintaan masyarakat ke batik tidak akan pernah luntur. Sehingga ke depan batik akan banyak dicari dan dikenakan,” jelasnya.

Di sisi lain, saat disinggung batik khas lumajangan, pembatik asal Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, tersebut berharap Pemerintah Kabupaten Lumajang melibatkan pembatik Lumajang untuk menentukan kekhasan motif. “Ada upaya yang terjalin antara kami dengan pemerintah. Meski tidak dapat membantu dalam penelitian, minimal kami bisa membantu merumuskan motifnya, baik tulis dan seterusnya,” harapnya.

 

Mobile_AP_Rectangle 2

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan

- Advertisement -

“Harga itu dianggap mahal. Padahal yang kami jual bukan kainnya, tetapi prosesnya. Harga batik juga berbeda. Misalnya, batik dengan warna alam lebih mahal daripada batik warna sintetis. Walau demikian, kami selalu optimistis, kecintaan masyarakat ke batik tidak akan pernah luntur. Sehingga ke depan batik akan banyak dicari dan dikenakan,” jelasnya.

Di sisi lain, saat disinggung batik khas lumajangan, pembatik asal Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, tersebut berharap Pemerintah Kabupaten Lumajang melibatkan pembatik Lumajang untuk menentukan kekhasan motif. “Ada upaya yang terjalin antara kami dengan pemerintah. Meski tidak dapat membantu dalam penelitian, minimal kami bisa membantu merumuskan motifnya, baik tulis dan seterusnya,” harapnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan

“Harga itu dianggap mahal. Padahal yang kami jual bukan kainnya, tetapi prosesnya. Harga batik juga berbeda. Misalnya, batik dengan warna alam lebih mahal daripada batik warna sintetis. Walau demikian, kami selalu optimistis, kecintaan masyarakat ke batik tidak akan pernah luntur. Sehingga ke depan batik akan banyak dicari dan dikenakan,” jelasnya.

Di sisi lain, saat disinggung batik khas lumajangan, pembatik asal Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, tersebut berharap Pemerintah Kabupaten Lumajang melibatkan pembatik Lumajang untuk menentukan kekhasan motif. “Ada upaya yang terjalin antara kami dengan pemerintah. Meski tidak dapat membantu dalam penelitian, minimal kami bisa membantu merumuskan motifnya, baik tulis dan seterusnya,” harapnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/