alexametrics
31.6 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Usaha Batik Lumajang Mulai Sepi, Beralih Bertani untuk Bertahan Hidup

Setelah batik ditetapkan menjadi warisan budaya oleh UNESCO pada tahun 2009 silam, batik di Lumajang mulai bergeliat. Namun, kejayaan tersebut tidak bisa berumur lama. Sebab, sejak pandemi korona, penjualan batik mulai lesu. Saking seretnya, tidak sedikit pembatik yang banting setir ke usaha lain.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDPandemi korona memang sempat melemahkan banyak sektor. Salah satunya sektor ekonomi kreatif. Seperti halnya batik lumajangan. Para pembatik tidak hanya terancam pendapatan menurun, namun juga terancam gulung tikar. Alhasil, tidak sedikit mereka memilih nyambi profesi lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Nurul Huda, Ketua Pagayuban Pembatik Lumajang. Menurut Nurul, hal tersebut dilakukan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, pemesanan yang didapat dari usaha batik sudah tidak sebanyak sebelum pandemi. Terutama hampir dua tahun belakangan.

“Tentu, hampir dua tahun ini pendapatan menurun drastis. Perekonomian agak terhambat. Meski demikian, sejumlah instansi masih ada yang pesan ke kami, tetapi tidak banyak. Oleh karena itu, banyak dari teman-teman pembatik beralih ke profesi lain. Ada yang petani atau pekebun seperti saya. Ada juga yang membuka usaha budi daya bunga dan lainnya,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, lanjutnya, profesi tersebut tidak sepenuhnya berganti. Mereka tetap menekuni usaha batik. Hanya, fokus usaha batik sudah berkurang. Artinya, mereka tetap melayani pembuatan batik saat ada pesanan. Jika tidak, terkadang mereka produksi, kadang pula memilih tidak produksi.

Dia menjelaskan, meski sudah ditetapkan, batik belum menjadi kebutuhan masyarakat. Bahkan, pembatik seperti dirinya sering dianggap kurang wajar saat menjual batik. Oleh karena itu, paling banyak pembeli dari instansi. Harganya pun bervariasi. Mulai Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu per potong kain.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDPandemi korona memang sempat melemahkan banyak sektor. Salah satunya sektor ekonomi kreatif. Seperti halnya batik lumajangan. Para pembatik tidak hanya terancam pendapatan menurun, namun juga terancam gulung tikar. Alhasil, tidak sedikit mereka memilih nyambi profesi lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Nurul Huda, Ketua Pagayuban Pembatik Lumajang. Menurut Nurul, hal tersebut dilakukan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, pemesanan yang didapat dari usaha batik sudah tidak sebanyak sebelum pandemi. Terutama hampir dua tahun belakangan.

“Tentu, hampir dua tahun ini pendapatan menurun drastis. Perekonomian agak terhambat. Meski demikian, sejumlah instansi masih ada yang pesan ke kami, tetapi tidak banyak. Oleh karena itu, banyak dari teman-teman pembatik beralih ke profesi lain. Ada yang petani atau pekebun seperti saya. Ada juga yang membuka usaha budi daya bunga dan lainnya,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, profesi tersebut tidak sepenuhnya berganti. Mereka tetap menekuni usaha batik. Hanya, fokus usaha batik sudah berkurang. Artinya, mereka tetap melayani pembuatan batik saat ada pesanan. Jika tidak, terkadang mereka produksi, kadang pula memilih tidak produksi.

Dia menjelaskan, meski sudah ditetapkan, batik belum menjadi kebutuhan masyarakat. Bahkan, pembatik seperti dirinya sering dianggap kurang wajar saat menjual batik. Oleh karena itu, paling banyak pembeli dari instansi. Harganya pun bervariasi. Mulai Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu per potong kain.

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDPandemi korona memang sempat melemahkan banyak sektor. Salah satunya sektor ekonomi kreatif. Seperti halnya batik lumajangan. Para pembatik tidak hanya terancam pendapatan menurun, namun juga terancam gulung tikar. Alhasil, tidak sedikit mereka memilih nyambi profesi lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Nurul Huda, Ketua Pagayuban Pembatik Lumajang. Menurut Nurul, hal tersebut dilakukan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, pemesanan yang didapat dari usaha batik sudah tidak sebanyak sebelum pandemi. Terutama hampir dua tahun belakangan.

“Tentu, hampir dua tahun ini pendapatan menurun drastis. Perekonomian agak terhambat. Meski demikian, sejumlah instansi masih ada yang pesan ke kami, tetapi tidak banyak. Oleh karena itu, banyak dari teman-teman pembatik beralih ke profesi lain. Ada yang petani atau pekebun seperti saya. Ada juga yang membuka usaha budi daya bunga dan lainnya,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, profesi tersebut tidak sepenuhnya berganti. Mereka tetap menekuni usaha batik. Hanya, fokus usaha batik sudah berkurang. Artinya, mereka tetap melayani pembuatan batik saat ada pesanan. Jika tidak, terkadang mereka produksi, kadang pula memilih tidak produksi.

Dia menjelaskan, meski sudah ditetapkan, batik belum menjadi kebutuhan masyarakat. Bahkan, pembatik seperti dirinya sering dianggap kurang wajar saat menjual batik. Oleh karena itu, paling banyak pembeli dari instansi. Harganya pun bervariasi. Mulai Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu per potong kain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/