alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Majikan Sempat Melarang Pulang

Kisah Para Pekerja Migran Indonesia yang Pulang ke Lumajang Sebutan pahlawan devisa negara layak disandingkan kepada para pekerja migran Indonesia (PMI). Bertahun-tahun bekerja di luar negeri, tentu selalu ada kisah yang menarik untuk diketahui. Mulai dari kesulitan berbahasa asing hingga akhirnya mahir. Dari yang bukan siapa-siapa, kini dianggap bagian dari keluarga sehingga tak boleh pulang ke Indonesia.

Mobile_AP_Rectangle 1

Lulusan SMA Mataram tersebut menjelaskan, bekerja di luar negeri memang menyenangkan. Namun, hal tersebut tergantung siapa majikannya. “Beda majikan, beda perlakuan juga. Kalau majikan saya baik sekali. Saking baiknya, sudah dianggap keluarga. Bukan pekerja lagi. Bahkan, mau pulang kampung pun tidak boleh. Majikan sempat melarang,” jelas perempuan yang bekerja sebagai perawat anak tersebut.

Meski dilarang, keinginan untuk pulang lebih besar. Setelah berdiskusi dengan majikannya yang berprofesi sebagai dokter, dia diizinkan pulang. “Berat juga untuk meninggalkan mereka. Apalagi anak-anak yang saya rawat lucu-lucu. Usianya dua tahun, empat tahun, dan tujuh tahun,” lanjutnya.

Baginya, anak-anak tersebut semangatnya dalam bekerja. “Kalau sudah lelah, tinggal bermain dengan mereka, semangat bisa bangkit lagi. Sampai-sampai kewalahan mengikuti aktivitas mereka. Tetapi, saya senang,” pungkasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

- Advertisement -

Lulusan SMA Mataram tersebut menjelaskan, bekerja di luar negeri memang menyenangkan. Namun, hal tersebut tergantung siapa majikannya. “Beda majikan, beda perlakuan juga. Kalau majikan saya baik sekali. Saking baiknya, sudah dianggap keluarga. Bukan pekerja lagi. Bahkan, mau pulang kampung pun tidak boleh. Majikan sempat melarang,” jelas perempuan yang bekerja sebagai perawat anak tersebut.

Meski dilarang, keinginan untuk pulang lebih besar. Setelah berdiskusi dengan majikannya yang berprofesi sebagai dokter, dia diizinkan pulang. “Berat juga untuk meninggalkan mereka. Apalagi anak-anak yang saya rawat lucu-lucu. Usianya dua tahun, empat tahun, dan tujuh tahun,” lanjutnya.

Baginya, anak-anak tersebut semangatnya dalam bekerja. “Kalau sudah lelah, tinggal bermain dengan mereka, semangat bisa bangkit lagi. Sampai-sampai kewalahan mengikuti aktivitas mereka. Tetapi, saya senang,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

Lulusan SMA Mataram tersebut menjelaskan, bekerja di luar negeri memang menyenangkan. Namun, hal tersebut tergantung siapa majikannya. “Beda majikan, beda perlakuan juga. Kalau majikan saya baik sekali. Saking baiknya, sudah dianggap keluarga. Bukan pekerja lagi. Bahkan, mau pulang kampung pun tidak boleh. Majikan sempat melarang,” jelas perempuan yang bekerja sebagai perawat anak tersebut.

Meski dilarang, keinginan untuk pulang lebih besar. Setelah berdiskusi dengan majikannya yang berprofesi sebagai dokter, dia diizinkan pulang. “Berat juga untuk meninggalkan mereka. Apalagi anak-anak yang saya rawat lucu-lucu. Usianya dua tahun, empat tahun, dan tujuh tahun,” lanjutnya.

Baginya, anak-anak tersebut semangatnya dalam bekerja. “Kalau sudah lelah, tinggal bermain dengan mereka, semangat bisa bangkit lagi. Sampai-sampai kewalahan mengikuti aktivitas mereka. Tetapi, saya senang,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/