alexametrics
27.3 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Kenalkan Ramadan Indonesia di Sudan

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Keanekaragaman budaya Indonesia sungguh melimpah. Tak heran jika Indonesia kaya budaya. Hal itulah yang menjadikan para pelajar yang meneruskan pendidikan di luar negeri, terutama Timur Tengah, bangga. Banyak dari mereka yang ikut melestarikan budaya Indonesia di sana. Salah satunya adalah Abdul Muiz Mustofa.

Lelaki yang menempuh Pendidikan Sastra Arab di International University of Africa, Sudan, tersebut menceritakan pengalamannya berbagi budaya Indonesia di Sudan. “Tahun 2016, saya terpilih untuk mewakili Indonesia untuk menceritakan budaya Indonesia. Terkhusus budaya-budaya bulan Ramadan di Indonesia,” ucapnya memulai cerita.

Muiz, sapaan akrabnya, mengatakan, saat itu dia terpilih menjadi narasumber di salah satu siaran televisi internasional. Sebab, dia berasal dari Jurusan Sastra Arab. “Karena saya dari Jurusan Sastra Arab, jadi dianggap bisa mewakili teman-teman untuk tampil secara langsung menjelaskan budaya dengan bahasa yang indah dan mudah dimengerti,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, ada banyak istilah budaya Indonesia yang sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab. “Programnya memang tentang keagamaan. Tentu, ada beberapa istilah budaya yang tidak dapat diterjemahkan secara langsung. Padahal saya diminta untuk menjelaskan kegiatan masyarakat dan budayanya selama Ramadan di Indonesia. Ya, saya jelaskan kalau di Indonesia masyarakat senang bermain petasan, sahur keliling, buka bersama, takbir keliling, hingga makanan khas Indonesia,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Keanekaragaman budaya Indonesia sungguh melimpah. Tak heran jika Indonesia kaya budaya. Hal itulah yang menjadikan para pelajar yang meneruskan pendidikan di luar negeri, terutama Timur Tengah, bangga. Banyak dari mereka yang ikut melestarikan budaya Indonesia di sana. Salah satunya adalah Abdul Muiz Mustofa.

Lelaki yang menempuh Pendidikan Sastra Arab di International University of Africa, Sudan, tersebut menceritakan pengalamannya berbagi budaya Indonesia di Sudan. “Tahun 2016, saya terpilih untuk mewakili Indonesia untuk menceritakan budaya Indonesia. Terkhusus budaya-budaya bulan Ramadan di Indonesia,” ucapnya memulai cerita.

Muiz, sapaan akrabnya, mengatakan, saat itu dia terpilih menjadi narasumber di salah satu siaran televisi internasional. Sebab, dia berasal dari Jurusan Sastra Arab. “Karena saya dari Jurusan Sastra Arab, jadi dianggap bisa mewakili teman-teman untuk tampil secara langsung menjelaskan budaya dengan bahasa yang indah dan mudah dimengerti,” katanya.

Dia menjelaskan, ada banyak istilah budaya Indonesia yang sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab. “Programnya memang tentang keagamaan. Tentu, ada beberapa istilah budaya yang tidak dapat diterjemahkan secara langsung. Padahal saya diminta untuk menjelaskan kegiatan masyarakat dan budayanya selama Ramadan di Indonesia. Ya, saya jelaskan kalau di Indonesia masyarakat senang bermain petasan, sahur keliling, buka bersama, takbir keliling, hingga makanan khas Indonesia,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Keanekaragaman budaya Indonesia sungguh melimpah. Tak heran jika Indonesia kaya budaya. Hal itulah yang menjadikan para pelajar yang meneruskan pendidikan di luar negeri, terutama Timur Tengah, bangga. Banyak dari mereka yang ikut melestarikan budaya Indonesia di sana. Salah satunya adalah Abdul Muiz Mustofa.

Lelaki yang menempuh Pendidikan Sastra Arab di International University of Africa, Sudan, tersebut menceritakan pengalamannya berbagi budaya Indonesia di Sudan. “Tahun 2016, saya terpilih untuk mewakili Indonesia untuk menceritakan budaya Indonesia. Terkhusus budaya-budaya bulan Ramadan di Indonesia,” ucapnya memulai cerita.

Muiz, sapaan akrabnya, mengatakan, saat itu dia terpilih menjadi narasumber di salah satu siaran televisi internasional. Sebab, dia berasal dari Jurusan Sastra Arab. “Karena saya dari Jurusan Sastra Arab, jadi dianggap bisa mewakili teman-teman untuk tampil secara langsung menjelaskan budaya dengan bahasa yang indah dan mudah dimengerti,” katanya.

Dia menjelaskan, ada banyak istilah budaya Indonesia yang sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab. “Programnya memang tentang keagamaan. Tentu, ada beberapa istilah budaya yang tidak dapat diterjemahkan secara langsung. Padahal saya diminta untuk menjelaskan kegiatan masyarakat dan budayanya selama Ramadan di Indonesia. Ya, saya jelaskan kalau di Indonesia masyarakat senang bermain petasan, sahur keliling, buka bersama, takbir keliling, hingga makanan khas Indonesia,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/