alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Diduga Dianiaya, Santri Alami Kebutaan

Dipukul karena Izin Pengajian Pagi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Diduga mengalami tindak kekerasan oleh oknum pengasuh pondok pesantren, seorang santri akhirnya melapor ke pihak kepolisian. Hal itu karena perbuatan penganiayaan yang dilakukan oknum ini membuat salah satu matanya mengalami lebam hingga penglihatannya kabur.

Kejadian penganiayaan tersebut sebetulnya terjadi pada Sabtu (03/04) lalu di Pondok Pesantren Salafiyah Gubug Al-Munir, Desa Sememu, Kecamatan Pasirian. Tepatnya sekitar pukul 08.00. Mulanya, korban ditampar di bagian muka selama beberapa kali sampai pendarahan di bagian mata dan mengakibatkan kebutaan.

Santri yang bernama Prayogi Mulyadi itu mengatakan, penamparan itu karena dirinya bersama 10 orang temannya tidak mengikuti pengajian rutin pada pagi hari itu. Sebab, dia mengaku sedang sakit sehingga memilih untuk absen. Namun, alasan itu tidak diterima oleh pengasuh sampai aksi pemukulan terjadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Rabu setelahnya saya periksa. Katanya ada pendarahan di mata dan harus segera operasi. Tetapi, karena saya tidak mau merepotkan orang tua, terpaksa saya urungkan. Nah, pulang itu mata rasanya cekot-cekot. Sampai harus operasi di RSUD dr Haryoto dan dirujuk ke RS di Surabaya karena perlu cangkok mata,” katanya.

Keluarga korban sempat meminta pertanggungjawaban oknum pengasuh pesantren itu. Bahkan, hampir lima kali mereka mendatangi pondok pesantren. Meminta oknum tersebut untuk segera berupaya mengembalikan penglihatan Prayogi. Namun, menurut santri yang berusia 19 tahun itu, kiai hanya menjanjikan saja.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Diduga mengalami tindak kekerasan oleh oknum pengasuh pondok pesantren, seorang santri akhirnya melapor ke pihak kepolisian. Hal itu karena perbuatan penganiayaan yang dilakukan oknum ini membuat salah satu matanya mengalami lebam hingga penglihatannya kabur.

Kejadian penganiayaan tersebut sebetulnya terjadi pada Sabtu (03/04) lalu di Pondok Pesantren Salafiyah Gubug Al-Munir, Desa Sememu, Kecamatan Pasirian. Tepatnya sekitar pukul 08.00. Mulanya, korban ditampar di bagian muka selama beberapa kali sampai pendarahan di bagian mata dan mengakibatkan kebutaan.

Santri yang bernama Prayogi Mulyadi itu mengatakan, penamparan itu karena dirinya bersama 10 orang temannya tidak mengikuti pengajian rutin pada pagi hari itu. Sebab, dia mengaku sedang sakit sehingga memilih untuk absen. Namun, alasan itu tidak diterima oleh pengasuh sampai aksi pemukulan terjadi.

“Rabu setelahnya saya periksa. Katanya ada pendarahan di mata dan harus segera operasi. Tetapi, karena saya tidak mau merepotkan orang tua, terpaksa saya urungkan. Nah, pulang itu mata rasanya cekot-cekot. Sampai harus operasi di RSUD dr Haryoto dan dirujuk ke RS di Surabaya karena perlu cangkok mata,” katanya.

Keluarga korban sempat meminta pertanggungjawaban oknum pengasuh pesantren itu. Bahkan, hampir lima kali mereka mendatangi pondok pesantren. Meminta oknum tersebut untuk segera berupaya mengembalikan penglihatan Prayogi. Namun, menurut santri yang berusia 19 tahun itu, kiai hanya menjanjikan saja.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Diduga mengalami tindak kekerasan oleh oknum pengasuh pondok pesantren, seorang santri akhirnya melapor ke pihak kepolisian. Hal itu karena perbuatan penganiayaan yang dilakukan oknum ini membuat salah satu matanya mengalami lebam hingga penglihatannya kabur.

Kejadian penganiayaan tersebut sebetulnya terjadi pada Sabtu (03/04) lalu di Pondok Pesantren Salafiyah Gubug Al-Munir, Desa Sememu, Kecamatan Pasirian. Tepatnya sekitar pukul 08.00. Mulanya, korban ditampar di bagian muka selama beberapa kali sampai pendarahan di bagian mata dan mengakibatkan kebutaan.

Santri yang bernama Prayogi Mulyadi itu mengatakan, penamparan itu karena dirinya bersama 10 orang temannya tidak mengikuti pengajian rutin pada pagi hari itu. Sebab, dia mengaku sedang sakit sehingga memilih untuk absen. Namun, alasan itu tidak diterima oleh pengasuh sampai aksi pemukulan terjadi.

“Rabu setelahnya saya periksa. Katanya ada pendarahan di mata dan harus segera operasi. Tetapi, karena saya tidak mau merepotkan orang tua, terpaksa saya urungkan. Nah, pulang itu mata rasanya cekot-cekot. Sampai harus operasi di RSUD dr Haryoto dan dirujuk ke RS di Surabaya karena perlu cangkok mata,” katanya.

Keluarga korban sempat meminta pertanggungjawaban oknum pengasuh pesantren itu. Bahkan, hampir lima kali mereka mendatangi pondok pesantren. Meminta oknum tersebut untuk segera berupaya mengembalikan penglihatan Prayogi. Namun, menurut santri yang berusia 19 tahun itu, kiai hanya menjanjikan saja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/