alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Diserang Wereng, Terancam Gagal Panen

Intensitas Hujan Tinggi Juga Berpengaruh

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Serangan wereng di beberapa hektare padi membuat petani resah. Sebab, serangan hama tersebut mengakibatkan pertumbuhan padi tidak maksimal. Alhasil, petani terancam gagal panen.

Seperti yang terlihat di beberapa hektare sawah petani Selokgondang, Sukodono, kemarin. Mereka memilih memanen dengan cara manual dan enggan menjual. Mereka membawanya pulang ke rumah untuk dikonsumsi sendiri. “Sudah bukan terancam lagi. Tapi, memang periode pertama ini gagal panen,” kata Rosyidah, salah satu petani.

Dia mengungkapkan, dua lahan sawah padi miliknya diserang wereng beberapa hari yang lalu. Akibatnya, kini dia tidak bisa panen maksimal. “Rugi banyak. Biasanya satu lahan minimal dapat 20 karung gabah basah. Sekarang ini cuma dapat dua sak saja,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, faktor utama kegagalan panen adalah serangan wereng. Sebab, padi miliknya berwarna hitam. “Padi berwarna hitam karena serangan hama wereng. Sudah saya beri obat wereng, tapi tetap tidak bisa. Justru wereng merusak yang lainnya. Jadi, kerusakan semakin parah. Akhirnya, gagal panen,” jelasnya.

Sementara itu, Joko Winarno, Kepala Seksi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lumajang, mengatakan bahwa serangan wereng tersebut hanya terjadi di beberapa kawasan. Menurut dia, faktor dominan kegagalan panen adalah intensitas hujan yang tinggi. “Memang ada serangan wereng. Tetapi intensitas hujan yang tinggi mendominasi penyebab kegagalan panen,” katanya.

Joko menjelaskan, meski banyak lahan yang terancam gagal, stok gabah masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Lumajang. “Stok gabah sebanyak lima ton. Jumlah tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan beras. Apalagi gabah dari lahan pertanian banyak yang dikelola untuk kebutuhan keluarga sendiri,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Serangan wereng di beberapa hektare padi membuat petani resah. Sebab, serangan hama tersebut mengakibatkan pertumbuhan padi tidak maksimal. Alhasil, petani terancam gagal panen.

Seperti yang terlihat di beberapa hektare sawah petani Selokgondang, Sukodono, kemarin. Mereka memilih memanen dengan cara manual dan enggan menjual. Mereka membawanya pulang ke rumah untuk dikonsumsi sendiri. “Sudah bukan terancam lagi. Tapi, memang periode pertama ini gagal panen,” kata Rosyidah, salah satu petani.

Dia mengungkapkan, dua lahan sawah padi miliknya diserang wereng beberapa hari yang lalu. Akibatnya, kini dia tidak bisa panen maksimal. “Rugi banyak. Biasanya satu lahan minimal dapat 20 karung gabah basah. Sekarang ini cuma dapat dua sak saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, faktor utama kegagalan panen adalah serangan wereng. Sebab, padi miliknya berwarna hitam. “Padi berwarna hitam karena serangan hama wereng. Sudah saya beri obat wereng, tapi tetap tidak bisa. Justru wereng merusak yang lainnya. Jadi, kerusakan semakin parah. Akhirnya, gagal panen,” jelasnya.

Sementara itu, Joko Winarno, Kepala Seksi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lumajang, mengatakan bahwa serangan wereng tersebut hanya terjadi di beberapa kawasan. Menurut dia, faktor dominan kegagalan panen adalah intensitas hujan yang tinggi. “Memang ada serangan wereng. Tetapi intensitas hujan yang tinggi mendominasi penyebab kegagalan panen,” katanya.

Joko menjelaskan, meski banyak lahan yang terancam gagal, stok gabah masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Lumajang. “Stok gabah sebanyak lima ton. Jumlah tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan beras. Apalagi gabah dari lahan pertanian banyak yang dikelola untuk kebutuhan keluarga sendiri,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Serangan wereng di beberapa hektare padi membuat petani resah. Sebab, serangan hama tersebut mengakibatkan pertumbuhan padi tidak maksimal. Alhasil, petani terancam gagal panen.

Seperti yang terlihat di beberapa hektare sawah petani Selokgondang, Sukodono, kemarin. Mereka memilih memanen dengan cara manual dan enggan menjual. Mereka membawanya pulang ke rumah untuk dikonsumsi sendiri. “Sudah bukan terancam lagi. Tapi, memang periode pertama ini gagal panen,” kata Rosyidah, salah satu petani.

Dia mengungkapkan, dua lahan sawah padi miliknya diserang wereng beberapa hari yang lalu. Akibatnya, kini dia tidak bisa panen maksimal. “Rugi banyak. Biasanya satu lahan minimal dapat 20 karung gabah basah. Sekarang ini cuma dapat dua sak saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, faktor utama kegagalan panen adalah serangan wereng. Sebab, padi miliknya berwarna hitam. “Padi berwarna hitam karena serangan hama wereng. Sudah saya beri obat wereng, tapi tetap tidak bisa. Justru wereng merusak yang lainnya. Jadi, kerusakan semakin parah. Akhirnya, gagal panen,” jelasnya.

Sementara itu, Joko Winarno, Kepala Seksi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lumajang, mengatakan bahwa serangan wereng tersebut hanya terjadi di beberapa kawasan. Menurut dia, faktor dominan kegagalan panen adalah intensitas hujan yang tinggi. “Memang ada serangan wereng. Tetapi intensitas hujan yang tinggi mendominasi penyebab kegagalan panen,” katanya.

Joko menjelaskan, meski banyak lahan yang terancam gagal, stok gabah masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Lumajang. “Stok gabah sebanyak lima ton. Jumlah tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan beras. Apalagi gabah dari lahan pertanian banyak yang dikelola untuk kebutuhan keluarga sendiri,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/