alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Harus Cek Suhu Badan, Keluar Asrama Wajib Isi Formulir

Sejak Novel Coronavirus atau wabah Korona menjangkiti ribuan warga di Tiongkok, beberapa daerah di Negara Tirai Bambu seakan-akan seperti ‘kota mati’. Tak semua warga bisa beraktivitas dengan normal. Hal yang sama juga berlaku pada WNI yang berada di sana. Termasuk kalangan mahasiswa. Bagaimana mereka bertahan?

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan WNI Indonesia yang berada di kota Wuhan sudah dipulangkan ke Indonesia. Namun, ada beberapa WNI yang masih menetap di Tiongkok. Salah satunya adalah Muhammad Arif Hidayat, mahasiswa asal Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang. Sejak wabah Korona merebak di Kota Wuhan, mahasiswa yang sedang menempuh bangku kuliah di Yangzhou Politechnic Institute ini tetap berada di asramanya, Kota Yangzhou, Provinsi Jiangyu.

Kondisi Tiongkok yang saat ini terserang virus mematikan membuat dia terancam. Ancaman tersebut sangat dia rasakan lantaran kebebasannya keluar asrama terganggu. Virus yang telah mewabah hingga ke berbagai negara tersebut begitu serius. Hal itu membuat dia harus menunggu pertolongan.

Total ada 20 mahasiswa asal Lumajang yang tinggal di Tiongkok. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya sudah dipulangkan ke Indonesia. Sementara itu, sisanya masih menetap di sana. Mereka yang masih bertahan lebih banyak berdiam di asrama.

Mobile_AP_Rectangle 2

Masker tersebut, lanjut dia, sudah disediakan pemerintah setempat. Satu orang dialokasikan satu masker. Sayang, dia sering kehabisan masker. “Pemerintah tidak membolehkan keluar asrama. Namun, jika terpaksa ya harus membawa masker,” ucapnya.

Bahkan, untuk keluar dari asrama kampus pun dia harus mengisi formulir. “Kami kini dihimbau untuk makan di kantin kampus. Kalau semisal mau keluar harus ngisi formulir dulu,” bebernya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan WNI Indonesia yang berada di kota Wuhan sudah dipulangkan ke Indonesia. Namun, ada beberapa WNI yang masih menetap di Tiongkok. Salah satunya adalah Muhammad Arif Hidayat, mahasiswa asal Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang. Sejak wabah Korona merebak di Kota Wuhan, mahasiswa yang sedang menempuh bangku kuliah di Yangzhou Politechnic Institute ini tetap berada di asramanya, Kota Yangzhou, Provinsi Jiangyu.

Kondisi Tiongkok yang saat ini terserang virus mematikan membuat dia terancam. Ancaman tersebut sangat dia rasakan lantaran kebebasannya keluar asrama terganggu. Virus yang telah mewabah hingga ke berbagai negara tersebut begitu serius. Hal itu membuat dia harus menunggu pertolongan.

Total ada 20 mahasiswa asal Lumajang yang tinggal di Tiongkok. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya sudah dipulangkan ke Indonesia. Sementara itu, sisanya masih menetap di sana. Mereka yang masih bertahan lebih banyak berdiam di asrama.

Masker tersebut, lanjut dia, sudah disediakan pemerintah setempat. Satu orang dialokasikan satu masker. Sayang, dia sering kehabisan masker. “Pemerintah tidak membolehkan keluar asrama. Namun, jika terpaksa ya harus membawa masker,” ucapnya.

Bahkan, untuk keluar dari asrama kampus pun dia harus mengisi formulir. “Kami kini dihimbau untuk makan di kantin kampus. Kalau semisal mau keluar harus ngisi formulir dulu,” bebernya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan WNI Indonesia yang berada di kota Wuhan sudah dipulangkan ke Indonesia. Namun, ada beberapa WNI yang masih menetap di Tiongkok. Salah satunya adalah Muhammad Arif Hidayat, mahasiswa asal Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang. Sejak wabah Korona merebak di Kota Wuhan, mahasiswa yang sedang menempuh bangku kuliah di Yangzhou Politechnic Institute ini tetap berada di asramanya, Kota Yangzhou, Provinsi Jiangyu.

Kondisi Tiongkok yang saat ini terserang virus mematikan membuat dia terancam. Ancaman tersebut sangat dia rasakan lantaran kebebasannya keluar asrama terganggu. Virus yang telah mewabah hingga ke berbagai negara tersebut begitu serius. Hal itu membuat dia harus menunggu pertolongan.

Total ada 20 mahasiswa asal Lumajang yang tinggal di Tiongkok. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya sudah dipulangkan ke Indonesia. Sementara itu, sisanya masih menetap di sana. Mereka yang masih bertahan lebih banyak berdiam di asrama.

Masker tersebut, lanjut dia, sudah disediakan pemerintah setempat. Satu orang dialokasikan satu masker. Sayang, dia sering kehabisan masker. “Pemerintah tidak membolehkan keluar asrama. Namun, jika terpaksa ya harus membawa masker,” ucapnya.

Bahkan, untuk keluar dari asrama kampus pun dia harus mengisi formulir. “Kami kini dihimbau untuk makan di kantin kampus. Kalau semisal mau keluar harus ngisi formulir dulu,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/