alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Kantor Desa Ranupane Diluruk

Buntut Pembubaran Ritual Entas-Entas

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Benang kusut penyebab konflik yang kerap terjadi di Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, mulai terurai. Rupanya sejak awal menjabat kades tidak pernah mengikuti ritual adat desa setempat. Akibatnya, ratusan orang yang terdiri atas tokoh pemuda dan tokoh masyarakat setempat kembali ngluruk kantor desa.

Pada periode pemerintahan saat ini, kegiatan maupun perayaan adat yang digelar memang kadang sering miskomunikasi. Puncaknya, beberapa waktu lalu, miskomunikasi itu mengakibatkan pembubaran ritual entas-entas hingga berujung perusakan sejumlah fasilitas umum. Lalu, berlanjut pada hari Sabtu siang (31/07) kemarin.

Sekitar pukul 12.30, ratusan warga yang mulai geram akhirnya mendatangi kantor desa. Mereka meminta kesediaan kades untuk mengundurkan diri. Sebab, sikap kades yang cenderung tidak bisa menerima adat istiadat, yang telah berjalan secara turun temurun, menjadi pemicu terjadinya konflik yang tak berujung usai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Konsolidasi warga yang dilakukan sejak Jumat (30-07) ini ternyata terdengar banyak pihak. Karena itu, sebelum warga berdatangan, TNI-Polri sudah berjaga-jaga di sekitar kantor desa. Setelah warga puas menyampaikan aspirasinya, musyawarah desa akhirnya digelar. Tujuannya untuk menemukan solusi.

Bandrik, tokoh pemuda desa setempat, menceritakan, sejak terpilih, kades tidak mau menerima seluruh adat istiadat yang sudah berjalan selama ini. Mulai dari tidak bersedia rumahnya dijadikan sanggar hingga menggelar ritual adat lainnya. Sehingga warga meminta kejelasan posisi kades di tanah adat tersebut.

“Kami ingin meminta respons kades ini seperti apa? Apakah bersedia mengundurkan diri atau meneruskan kepemimpinannya. Namun dengan catatan, ketika ingin meneruskan jabatannya harus mengikuti adat istiadat kami. Tidak boleh menolak, karena itu kemauan sebagian besar warga yang tinggal di desa adat ini,” katanya.

Kades Untung Raharjo saat musyawarah desa itu akhirnya bersedia memenuhi persyaratan yang diminta warga. Dia bakal melanjutkan kepemimpinannya dengan mengikuti sejumlah ritual adat istiadat yang telah berjalan. “Saya akan mengikuti hasil musyawarah ini dengan sadar,” jawabnya.

 

Diminta Teken Sembilan Poin, Jabatannya Ditentukan Hari Selasa

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Benang kusut penyebab konflik yang kerap terjadi di Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, mulai terurai. Rupanya sejak awal menjabat kades tidak pernah mengikuti ritual adat desa setempat. Akibatnya, ratusan orang yang terdiri atas tokoh pemuda dan tokoh masyarakat setempat kembali ngluruk kantor desa.

Pada periode pemerintahan saat ini, kegiatan maupun perayaan adat yang digelar memang kadang sering miskomunikasi. Puncaknya, beberapa waktu lalu, miskomunikasi itu mengakibatkan pembubaran ritual entas-entas hingga berujung perusakan sejumlah fasilitas umum. Lalu, berlanjut pada hari Sabtu siang (31/07) kemarin.

Sekitar pukul 12.30, ratusan warga yang mulai geram akhirnya mendatangi kantor desa. Mereka meminta kesediaan kades untuk mengundurkan diri. Sebab, sikap kades yang cenderung tidak bisa menerima adat istiadat, yang telah berjalan secara turun temurun, menjadi pemicu terjadinya konflik yang tak berujung usai.

Konsolidasi warga yang dilakukan sejak Jumat (30-07) ini ternyata terdengar banyak pihak. Karena itu, sebelum warga berdatangan, TNI-Polri sudah berjaga-jaga di sekitar kantor desa. Setelah warga puas menyampaikan aspirasinya, musyawarah desa akhirnya digelar. Tujuannya untuk menemukan solusi.

Bandrik, tokoh pemuda desa setempat, menceritakan, sejak terpilih, kades tidak mau menerima seluruh adat istiadat yang sudah berjalan selama ini. Mulai dari tidak bersedia rumahnya dijadikan sanggar hingga menggelar ritual adat lainnya. Sehingga warga meminta kejelasan posisi kades di tanah adat tersebut.

“Kami ingin meminta respons kades ini seperti apa? Apakah bersedia mengundurkan diri atau meneruskan kepemimpinannya. Namun dengan catatan, ketika ingin meneruskan jabatannya harus mengikuti adat istiadat kami. Tidak boleh menolak, karena itu kemauan sebagian besar warga yang tinggal di desa adat ini,” katanya.

Kades Untung Raharjo saat musyawarah desa itu akhirnya bersedia memenuhi persyaratan yang diminta warga. Dia bakal melanjutkan kepemimpinannya dengan mengikuti sejumlah ritual adat istiadat yang telah berjalan. “Saya akan mengikuti hasil musyawarah ini dengan sadar,” jawabnya.

 

Diminta Teken Sembilan Poin, Jabatannya Ditentukan Hari Selasa

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Benang kusut penyebab konflik yang kerap terjadi di Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, mulai terurai. Rupanya sejak awal menjabat kades tidak pernah mengikuti ritual adat desa setempat. Akibatnya, ratusan orang yang terdiri atas tokoh pemuda dan tokoh masyarakat setempat kembali ngluruk kantor desa.

Pada periode pemerintahan saat ini, kegiatan maupun perayaan adat yang digelar memang kadang sering miskomunikasi. Puncaknya, beberapa waktu lalu, miskomunikasi itu mengakibatkan pembubaran ritual entas-entas hingga berujung perusakan sejumlah fasilitas umum. Lalu, berlanjut pada hari Sabtu siang (31/07) kemarin.

Sekitar pukul 12.30, ratusan warga yang mulai geram akhirnya mendatangi kantor desa. Mereka meminta kesediaan kades untuk mengundurkan diri. Sebab, sikap kades yang cenderung tidak bisa menerima adat istiadat, yang telah berjalan secara turun temurun, menjadi pemicu terjadinya konflik yang tak berujung usai.

Konsolidasi warga yang dilakukan sejak Jumat (30-07) ini ternyata terdengar banyak pihak. Karena itu, sebelum warga berdatangan, TNI-Polri sudah berjaga-jaga di sekitar kantor desa. Setelah warga puas menyampaikan aspirasinya, musyawarah desa akhirnya digelar. Tujuannya untuk menemukan solusi.

Bandrik, tokoh pemuda desa setempat, menceritakan, sejak terpilih, kades tidak mau menerima seluruh adat istiadat yang sudah berjalan selama ini. Mulai dari tidak bersedia rumahnya dijadikan sanggar hingga menggelar ritual adat lainnya. Sehingga warga meminta kejelasan posisi kades di tanah adat tersebut.

“Kami ingin meminta respons kades ini seperti apa? Apakah bersedia mengundurkan diri atau meneruskan kepemimpinannya. Namun dengan catatan, ketika ingin meneruskan jabatannya harus mengikuti adat istiadat kami. Tidak boleh menolak, karena itu kemauan sebagian besar warga yang tinggal di desa adat ini,” katanya.

Kades Untung Raharjo saat musyawarah desa itu akhirnya bersedia memenuhi persyaratan yang diminta warga. Dia bakal melanjutkan kepemimpinannya dengan mengikuti sejumlah ritual adat istiadat yang telah berjalan. “Saya akan mengikuti hasil musyawarah ini dengan sadar,” jawabnya.

 

Diminta Teken Sembilan Poin, Jabatannya Ditentukan Hari Selasa

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/