alexametrics
24.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Prosedur Pelaporan Kasus Kekerasan di Lumajang

Mencuatnya kasus kekerasan seksual pada salah satu lembaga pendidikan keagamaan di Lumajang menyita perhatian publik. Sebab, kasus itu langsung ramai diperbincangkan. Jika dikulik, ternyata cukup banyak kasus yang tidak dilaporkan. Kebanyakan korban tidak tahu hari melaporkannya ke mana.

Mobile_AP_Rectangle 1

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Akhir-akhir ini, kasus kekerasan berbasis gender (KBG) di Lumajang makin banyak. Terlebih, kasus itu terjadi di lingkungan yang paling dekat dengan korban. Mulai lingkungan keluarga, sosial, hingga institusi pendidikan.

BACA JUGA : Dua Kali Letusan dalam Sehari, Semeru Keluarkan Asap Putih

Paling banyak kasus itu membuat anak dan perempuan menjadi korban. Namun, bukan berarti lelaki selalu menjadi pelakunya. Sebab, sejumlah kasus juga dialami laki-laki. Ini menunjukkan KBG di Lumajang tidak memandang jenis kelamin maupun usia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Lumajang drg Ida Ayu Qomariyati mengungkapkan, KBG mulai marak kembali. Oleh sebab itu, diperlukan sinergisitas seluruh pihak. Mulai tingkatan bawah, keluarga, hingga pengampu kebijakan tingkat kabupaten.

Selama ini, kata Dayu, saat terjadi kasus kekerasan, beragam faktor mengurungkan niat masyarakat melaporkan hal tersebut. Rata-rata mereka takut hal itu menjadi perbincangan, sehingga berdampak terhadap psikologis korban.

- Advertisement -

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Akhir-akhir ini, kasus kekerasan berbasis gender (KBG) di Lumajang makin banyak. Terlebih, kasus itu terjadi di lingkungan yang paling dekat dengan korban. Mulai lingkungan keluarga, sosial, hingga institusi pendidikan.

BACA JUGA : Dua Kali Letusan dalam Sehari, Semeru Keluarkan Asap Putih

Paling banyak kasus itu membuat anak dan perempuan menjadi korban. Namun, bukan berarti lelaki selalu menjadi pelakunya. Sebab, sejumlah kasus juga dialami laki-laki. Ini menunjukkan KBG di Lumajang tidak memandang jenis kelamin maupun usia.

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Lumajang drg Ida Ayu Qomariyati mengungkapkan, KBG mulai marak kembali. Oleh sebab itu, diperlukan sinergisitas seluruh pihak. Mulai tingkatan bawah, keluarga, hingga pengampu kebijakan tingkat kabupaten.

Selama ini, kata Dayu, saat terjadi kasus kekerasan, beragam faktor mengurungkan niat masyarakat melaporkan hal tersebut. Rata-rata mereka takut hal itu menjadi perbincangan, sehingga berdampak terhadap psikologis korban.

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Akhir-akhir ini, kasus kekerasan berbasis gender (KBG) di Lumajang makin banyak. Terlebih, kasus itu terjadi di lingkungan yang paling dekat dengan korban. Mulai lingkungan keluarga, sosial, hingga institusi pendidikan.

BACA JUGA : Dua Kali Letusan dalam Sehari, Semeru Keluarkan Asap Putih

Paling banyak kasus itu membuat anak dan perempuan menjadi korban. Namun, bukan berarti lelaki selalu menjadi pelakunya. Sebab, sejumlah kasus juga dialami laki-laki. Ini menunjukkan KBG di Lumajang tidak memandang jenis kelamin maupun usia.

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Lumajang drg Ida Ayu Qomariyati mengungkapkan, KBG mulai marak kembali. Oleh sebab itu, diperlukan sinergisitas seluruh pihak. Mulai tingkatan bawah, keluarga, hingga pengampu kebijakan tingkat kabupaten.

Selama ini, kata Dayu, saat terjadi kasus kekerasan, beragam faktor mengurungkan niat masyarakat melaporkan hal tersebut. Rata-rata mereka takut hal itu menjadi perbincangan, sehingga berdampak terhadap psikologis korban.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/