alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Habiskan Rp 28,2 miliar Untuk Anggaran BTT 2021

Tidak sedikit kejadian yang mengharuskan penanganan menggunakan anggaran di luar perencanaan. Sampai-sampai serapan belanja tidak terduga (BTT) tahun ini cukup besar. Namun, setelah diamati, rupanya paling banyak dihabiskan untuk program santunan kematian.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Musibah dan bencana apa saja yang datang dalam setahun anggaran berjalan memang tidak dapat diprediksi. Untuk itu, Pemkab Lumajang juga menyediakan anggaran BTT dengan nilai yang besar untuk peristiwa yang membutuhkan penanganan darurat. Bahkan, nominalnya mencapai Rp 28,2 miliar.

Mendekati akhir tahun, serapan BTT ternyata tembus Rp 19,3 miliar per tanggal 23 November. Angka yang cukup besar itu telah mengambil 68,47 persen dari total ketersediaan. Tetapi, paling banyak BTT tersebut dihabiskan untuk mengakomodasi janji politik pasangan kepala daerah ketimbang kebutuhan penanganan bencana.

Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Lumajang Romawati Biana mengatakan, ada belasan ribu warga yang mengajukan penerimaan santunan kematian. Baik itu dari kalangan orang kaya, miskin, maupun orang yang meninggal karena terkena korona.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Setiap tahun jumlah orang yang meninggal bertambah. Setiap minggu kami ajukan ke bagian keuangan. Kemudian, proses menunggu seminggu. Jadi, perkiraannya waktu pencairan orang yang mengajukan itu kurang lebih sekitar dua minggu. Itu nanti dari kecamatan yang mencairkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Lumajang Sunyoto mengatakan, penggunaan anggaran BTT itu sebenarnya untuk penanganan bencana alam, bencana nonalam, dan bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan. “Anggarannya sebesar Rp 28,2 miliar,” katanya singkat.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Musibah dan bencana apa saja yang datang dalam setahun anggaran berjalan memang tidak dapat diprediksi. Untuk itu, Pemkab Lumajang juga menyediakan anggaran BTT dengan nilai yang besar untuk peristiwa yang membutuhkan penanganan darurat. Bahkan, nominalnya mencapai Rp 28,2 miliar.

Mendekati akhir tahun, serapan BTT ternyata tembus Rp 19,3 miliar per tanggal 23 November. Angka yang cukup besar itu telah mengambil 68,47 persen dari total ketersediaan. Tetapi, paling banyak BTT tersebut dihabiskan untuk mengakomodasi janji politik pasangan kepala daerah ketimbang kebutuhan penanganan bencana.

Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Lumajang Romawati Biana mengatakan, ada belasan ribu warga yang mengajukan penerimaan santunan kematian. Baik itu dari kalangan orang kaya, miskin, maupun orang yang meninggal karena terkena korona.

“Setiap tahun jumlah orang yang meninggal bertambah. Setiap minggu kami ajukan ke bagian keuangan. Kemudian, proses menunggu seminggu. Jadi, perkiraannya waktu pencairan orang yang mengajukan itu kurang lebih sekitar dua minggu. Itu nanti dari kecamatan yang mencairkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Lumajang Sunyoto mengatakan, penggunaan anggaran BTT itu sebenarnya untuk penanganan bencana alam, bencana nonalam, dan bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan. “Anggarannya sebesar Rp 28,2 miliar,” katanya singkat.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Musibah dan bencana apa saja yang datang dalam setahun anggaran berjalan memang tidak dapat diprediksi. Untuk itu, Pemkab Lumajang juga menyediakan anggaran BTT dengan nilai yang besar untuk peristiwa yang membutuhkan penanganan darurat. Bahkan, nominalnya mencapai Rp 28,2 miliar.

Mendekati akhir tahun, serapan BTT ternyata tembus Rp 19,3 miliar per tanggal 23 November. Angka yang cukup besar itu telah mengambil 68,47 persen dari total ketersediaan. Tetapi, paling banyak BTT tersebut dihabiskan untuk mengakomodasi janji politik pasangan kepala daerah ketimbang kebutuhan penanganan bencana.

Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Lumajang Romawati Biana mengatakan, ada belasan ribu warga yang mengajukan penerimaan santunan kematian. Baik itu dari kalangan orang kaya, miskin, maupun orang yang meninggal karena terkena korona.

“Setiap tahun jumlah orang yang meninggal bertambah. Setiap minggu kami ajukan ke bagian keuangan. Kemudian, proses menunggu seminggu. Jadi, perkiraannya waktu pencairan orang yang mengajukan itu kurang lebih sekitar dua minggu. Itu nanti dari kecamatan yang mencairkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Lumajang Sunyoto mengatakan, penggunaan anggaran BTT itu sebenarnya untuk penanganan bencana alam, bencana nonalam, dan bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan. “Anggarannya sebesar Rp 28,2 miliar,” katanya singkat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca