alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sejarah Terparah, Lumajang Berduka Dikepung Bencana.

Bencana alam yang terjadi di Lumajang dalam beberapa bulan terakhir datang bertubi-tubi. Setelah erupsi Gunung Semeru, disusul sejumlah kejadian alam seperti puting beliung dan banjir. Kemarin, bencana banjir terjadi sampai mengepung kawasan kota.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Selain wabah korona yang menjadi pandemi, warga Lumajang terus-menerus diuji oleh bencana. Erupsi Gunung Semeru, 1 Desember lalu, bukan puncaknya, tetapi menjadi awal kejadian besar lain yang silih berganti.

Terbaru adalah banjir bandang yang terjadi akhir pekan, kemarin. Diawali dari luapan Kali Asem dan Sungai Bondoyudo pada Sabtu (27/2) sore. Air luapan Kali Asem masuk ke perkampungan warga. Rumah warga yang berada di bantaran sungai mulai Gladak Abang sampai Jembatan Gambiran sudah kemasukan air. Baru surut sebelum tengah malam.

Belum selesai kejadian di sana, dalam waktu seharian kemarin, aliran luberan juga menggenangi ratusan rumah di Dusun Biting. Aliran luberan air berlanjut menggenangi sebagian besar warga Selokbesuki, Bondoyudo, dan Selokgondang. Dalam waktu yang relatif bersamaan, di Senduro, Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang terjadi banjir, dan longsor di Piket Nol serta di Klakah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sisil, ibu rumah tangga asal Dusun Biting, Kecamatan Sukodono, mengungkapkan, dia tidak pernah merasakan banjir yang besar seperti ini. Banjir kali ini terbesar yang pernah dialami. Ada ratusan kepala keluarga (KK) yang terdampak. Tidak hanya rumah yang tergenang, ternak banyak yang terseret banjir, perabot rumah dan mobil warga juga ada yang tenggelam. Bahkan, ada juga bayi yang baru dilahirkan terpaksa dievakuasi secara dramatis.

Bupati Lumajang Thoriq dan Wakil Bupati Indah Amperawati sejak awal kejadian langsung turun ke lokasi. Wabup menegaskan bahwa banjir kemarin adalah yang terbesar sepanjang sejarah Lumajang. “Banjir kali ini yang terbesar di kota. Juga ada sejumlah daerah yang terkena banjir,” ungkap wabup saat membantu proses evakuasi warga Kutorenon dan Selokbesuki.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Selain wabah korona yang menjadi pandemi, warga Lumajang terus-menerus diuji oleh bencana. Erupsi Gunung Semeru, 1 Desember lalu, bukan puncaknya, tetapi menjadi awal kejadian besar lain yang silih berganti.

Terbaru adalah banjir bandang yang terjadi akhir pekan, kemarin. Diawali dari luapan Kali Asem dan Sungai Bondoyudo pada Sabtu (27/2) sore. Air luapan Kali Asem masuk ke perkampungan warga. Rumah warga yang berada di bantaran sungai mulai Gladak Abang sampai Jembatan Gambiran sudah kemasukan air. Baru surut sebelum tengah malam.

Belum selesai kejadian di sana, dalam waktu seharian kemarin, aliran luberan juga menggenangi ratusan rumah di Dusun Biting. Aliran luberan air berlanjut menggenangi sebagian besar warga Selokbesuki, Bondoyudo, dan Selokgondang. Dalam waktu yang relatif bersamaan, di Senduro, Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang terjadi banjir, dan longsor di Piket Nol serta di Klakah.

Sisil, ibu rumah tangga asal Dusun Biting, Kecamatan Sukodono, mengungkapkan, dia tidak pernah merasakan banjir yang besar seperti ini. Banjir kali ini terbesar yang pernah dialami. Ada ratusan kepala keluarga (KK) yang terdampak. Tidak hanya rumah yang tergenang, ternak banyak yang terseret banjir, perabot rumah dan mobil warga juga ada yang tenggelam. Bahkan, ada juga bayi yang baru dilahirkan terpaksa dievakuasi secara dramatis.

Bupati Lumajang Thoriq dan Wakil Bupati Indah Amperawati sejak awal kejadian langsung turun ke lokasi. Wabup menegaskan bahwa banjir kemarin adalah yang terbesar sepanjang sejarah Lumajang. “Banjir kali ini yang terbesar di kota. Juga ada sejumlah daerah yang terkena banjir,” ungkap wabup saat membantu proses evakuasi warga Kutorenon dan Selokbesuki.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Selain wabah korona yang menjadi pandemi, warga Lumajang terus-menerus diuji oleh bencana. Erupsi Gunung Semeru, 1 Desember lalu, bukan puncaknya, tetapi menjadi awal kejadian besar lain yang silih berganti.

Terbaru adalah banjir bandang yang terjadi akhir pekan, kemarin. Diawali dari luapan Kali Asem dan Sungai Bondoyudo pada Sabtu (27/2) sore. Air luapan Kali Asem masuk ke perkampungan warga. Rumah warga yang berada di bantaran sungai mulai Gladak Abang sampai Jembatan Gambiran sudah kemasukan air. Baru surut sebelum tengah malam.

Belum selesai kejadian di sana, dalam waktu seharian kemarin, aliran luberan juga menggenangi ratusan rumah di Dusun Biting. Aliran luberan air berlanjut menggenangi sebagian besar warga Selokbesuki, Bondoyudo, dan Selokgondang. Dalam waktu yang relatif bersamaan, di Senduro, Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang terjadi banjir, dan longsor di Piket Nol serta di Klakah.

Sisil, ibu rumah tangga asal Dusun Biting, Kecamatan Sukodono, mengungkapkan, dia tidak pernah merasakan banjir yang besar seperti ini. Banjir kali ini terbesar yang pernah dialami. Ada ratusan kepala keluarga (KK) yang terdampak. Tidak hanya rumah yang tergenang, ternak banyak yang terseret banjir, perabot rumah dan mobil warga juga ada yang tenggelam. Bahkan, ada juga bayi yang baru dilahirkan terpaksa dievakuasi secara dramatis.

Bupati Lumajang Thoriq dan Wakil Bupati Indah Amperawati sejak awal kejadian langsung turun ke lokasi. Wabup menegaskan bahwa banjir kemarin adalah yang terbesar sepanjang sejarah Lumajang. “Banjir kali ini yang terbesar di kota. Juga ada sejumlah daerah yang terkena banjir,” ungkap wabup saat membantu proses evakuasi warga Kutorenon dan Selokbesuki.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/