alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Dua SMA di Jember Gelar Kurikulum Prototipe

Perlu Pemenuhan Akses dan Fasilitas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah pusat mulai menggagas kurikulum baru, yang akan menghapus jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa pada tahun ajaran mendatang. Nantinya murid-murid akan diberikan pilihan untuk memfokuskan diri pada satu mata pelajaran yang benar-benar disukai. Model pembelajarannya lebih khusus dan spesifik, layaknya model pembelajaran di bangku kuliah.

Di SMA, kurikulum ini dianjurkan diimplementasikan pada dua sekolah yang terjaring program sekolah penggerak, yakni SMA Negeri Arjasa dan SMA Negeri 2 Tanggul. Kurikulum ini diklaim sebagai upaya mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan selama pandemi berlangsung. “Anak-anak yang kemarin mengikuti banyak mata pelajaran itu ada rasa keterpaksaan,” kata Kepala SMA Negeri Arjasa Widi Wasito, Kamis (30/12).

Pihaknya mencontohkan seorang siswa yang masuk kelas IPA. Namun, siswa tersebut tidak menyukai berhitung, dia hanya menyukai mata pelajaran Biologi. Oleh karena itu, siswa tersebut dianjurkan untuk mengikuti kurikulum prototipe. Dengan begitu, ketika ada opsi pilihan belajar, bukan tidak mungkin satu mata pelajaran bakal memiliki peminat yang cukup banyak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk itu, perlu adanya pemenuhan fasilitas dan SDM yang lebih banyak untuk menampung kepentingan kebutuhan anak. “Boleh memilih. Anak senang geografi, ya, ambil geografi. Sepintas seperti itu, seperti kampus,” tambahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah pusat mulai menggagas kurikulum baru, yang akan menghapus jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa pada tahun ajaran mendatang. Nantinya murid-murid akan diberikan pilihan untuk memfokuskan diri pada satu mata pelajaran yang benar-benar disukai. Model pembelajarannya lebih khusus dan spesifik, layaknya model pembelajaran di bangku kuliah.

Di SMA, kurikulum ini dianjurkan diimplementasikan pada dua sekolah yang terjaring program sekolah penggerak, yakni SMA Negeri Arjasa dan SMA Negeri 2 Tanggul. Kurikulum ini diklaim sebagai upaya mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan selama pandemi berlangsung. “Anak-anak yang kemarin mengikuti banyak mata pelajaran itu ada rasa keterpaksaan,” kata Kepala SMA Negeri Arjasa Widi Wasito, Kamis (30/12).

Pihaknya mencontohkan seorang siswa yang masuk kelas IPA. Namun, siswa tersebut tidak menyukai berhitung, dia hanya menyukai mata pelajaran Biologi. Oleh karena itu, siswa tersebut dianjurkan untuk mengikuti kurikulum prototipe. Dengan begitu, ketika ada opsi pilihan belajar, bukan tidak mungkin satu mata pelajaran bakal memiliki peminat yang cukup banyak.

Untuk itu, perlu adanya pemenuhan fasilitas dan SDM yang lebih banyak untuk menampung kepentingan kebutuhan anak. “Boleh memilih. Anak senang geografi, ya, ambil geografi. Sepintas seperti itu, seperti kampus,” tambahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemerintah pusat mulai menggagas kurikulum baru, yang akan menghapus jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa pada tahun ajaran mendatang. Nantinya murid-murid akan diberikan pilihan untuk memfokuskan diri pada satu mata pelajaran yang benar-benar disukai. Model pembelajarannya lebih khusus dan spesifik, layaknya model pembelajaran di bangku kuliah.

Di SMA, kurikulum ini dianjurkan diimplementasikan pada dua sekolah yang terjaring program sekolah penggerak, yakni SMA Negeri Arjasa dan SMA Negeri 2 Tanggul. Kurikulum ini diklaim sebagai upaya mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan selama pandemi berlangsung. “Anak-anak yang kemarin mengikuti banyak mata pelajaran itu ada rasa keterpaksaan,” kata Kepala SMA Negeri Arjasa Widi Wasito, Kamis (30/12).

Pihaknya mencontohkan seorang siswa yang masuk kelas IPA. Namun, siswa tersebut tidak menyukai berhitung, dia hanya menyukai mata pelajaran Biologi. Oleh karena itu, siswa tersebut dianjurkan untuk mengikuti kurikulum prototipe. Dengan begitu, ketika ada opsi pilihan belajar, bukan tidak mungkin satu mata pelajaran bakal memiliki peminat yang cukup banyak.

Untuk itu, perlu adanya pemenuhan fasilitas dan SDM yang lebih banyak untuk menampung kepentingan kebutuhan anak. “Boleh memilih. Anak senang geografi, ya, ambil geografi. Sepintas seperti itu, seperti kampus,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/