alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Berbagi Obat Rindu Suporter Bola lewat Syal

Pandemi Covid-19 sempat membuat dunia bisnis carut-marut. Hal ini juga dirasakan oleh pebisnis clothing, Abdul Aziz. Tapi kenyataannya ada bisnis menarik yang kini membuat Aziz kembali tersenyum lebar. Lewat kemudahan pengiriman, dia banting setir bisnis menjual syal suporter bola sekaligus menjadi obat rindu penggila bola.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Syal sepak bola PSIM Yogyakarta, Bonek Persebaya Surabaya, Persid Jember, hingga Persib Bandung itu mulai dikeluarkan dari lemari Abdul Aziz. Satu per satu syal tersebut dia rapikan, dibungkus plastik, hingga ditandai hendak dikirim ke mana. Termasuk memastikan akan dikirim ke siapa dan di daerah mana. Kemudian, Aziz langsung memasukannya ke kotak kardus packing dari JNE. Kardus itu kian membuat tugas Aziz dalam bisnis online terbantu. Apalagi, fisiknya tidak sempurna.

Pria berusia 22 tahun ini merupakan penyandang disabilitas tunadaksa. Untuk membantu mobilitasnya, dia tidak memakai alat bantu jalan atau kruk. Justru dia mengandalkan papan luncur atau skateboard. Sebab, mulai dari pangkal paha, pertumbuhan kakinya abnormal.

Namun, walau memiliki keterbatasan fisik, Aziz tidak mau menggantungkan hidup ke orang lain dan ingin mendapatkan penghasilan secara mandiri. Berjalan dengan papan luncur telah dilakukan oleh Aziz sejak usia 10 tahun atau kelas 3 SD. “Dulu ke mana-mana digendong. Lalu, oleh bapak dibelikan skateboard agar mandiri,” paparnya. Bekal hidup untuk mandiri inilah yang menjadi dorongan tersendiri baginya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Beranjak remaja, Aziz mulai menyukai dunia sepak bola. Hingga saat ini, dia tercatat sebagai koordinator suporter Persid Jember, Berni, di tingkat kecamatan. Lewat bola itulah menjadi jalan Aziz memulai usaha clothing. “Awalnya, kelompok suporter bola di sekolah mau buat kaus sendiri. Karena pesan kaus harganya mahal, saya cari kaus sendiri dan mencari tukang sablon sendiri,” paparnya.

Berbekal pengalaman itulah, akhirnya Aziz dipercaya kembali membuat kaus suporter bola. Berbekal menguasai desain dan relasi produksi kaus, Aziz memulai bisnis clothing dengan serius. Suporter bola tingkat sekolah adalah target utamanya. Beragam pelajar penggila bola mulai banyak melakukan pemesanan.

Tak hanya dari Jember, pesanan juga datang dari luar kota, bahkan luar negeri. “Dari Surabaya pernah, Jogjakarta pernah. Kalau luar negeri juga pernah, yaitu orang TKI dari Jember di Malaysia yang pesan kaus Persid,” jelasnya.

Menjual kaus ke luar kota hingga luar negeri sebenarnya di luar ekspektasinya. “Karena fisik saya seperti ini, tidak pernah menyangka yang pesan dari jauh,” ungkapnya.

Nah, lokasi jasa pengiriman Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) di dekat Stasiun Rambipuji membuat Aziz terbantu. “Dulu sempat diberi kemudahan untuk dijemput kurir JNE. Tapi karena dekat, dikirim sendiri. Apalagi juga ada kardus packing, semakin membantu,” kata Aziz.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Syal sepak bola PSIM Yogyakarta, Bonek Persebaya Surabaya, Persid Jember, hingga Persib Bandung itu mulai dikeluarkan dari lemari Abdul Aziz. Satu per satu syal tersebut dia rapikan, dibungkus plastik, hingga ditandai hendak dikirim ke mana. Termasuk memastikan akan dikirim ke siapa dan di daerah mana. Kemudian, Aziz langsung memasukannya ke kotak kardus packing dari JNE. Kardus itu kian membuat tugas Aziz dalam bisnis online terbantu. Apalagi, fisiknya tidak sempurna.

Pria berusia 22 tahun ini merupakan penyandang disabilitas tunadaksa. Untuk membantu mobilitasnya, dia tidak memakai alat bantu jalan atau kruk. Justru dia mengandalkan papan luncur atau skateboard. Sebab, mulai dari pangkal paha, pertumbuhan kakinya abnormal.

Namun, walau memiliki keterbatasan fisik, Aziz tidak mau menggantungkan hidup ke orang lain dan ingin mendapatkan penghasilan secara mandiri. Berjalan dengan papan luncur telah dilakukan oleh Aziz sejak usia 10 tahun atau kelas 3 SD. “Dulu ke mana-mana digendong. Lalu, oleh bapak dibelikan skateboard agar mandiri,” paparnya. Bekal hidup untuk mandiri inilah yang menjadi dorongan tersendiri baginya.

Beranjak remaja, Aziz mulai menyukai dunia sepak bola. Hingga saat ini, dia tercatat sebagai koordinator suporter Persid Jember, Berni, di tingkat kecamatan. Lewat bola itulah menjadi jalan Aziz memulai usaha clothing. “Awalnya, kelompok suporter bola di sekolah mau buat kaus sendiri. Karena pesan kaus harganya mahal, saya cari kaus sendiri dan mencari tukang sablon sendiri,” paparnya.

Berbekal pengalaman itulah, akhirnya Aziz dipercaya kembali membuat kaus suporter bola. Berbekal menguasai desain dan relasi produksi kaus, Aziz memulai bisnis clothing dengan serius. Suporter bola tingkat sekolah adalah target utamanya. Beragam pelajar penggila bola mulai banyak melakukan pemesanan.

Tak hanya dari Jember, pesanan juga datang dari luar kota, bahkan luar negeri. “Dari Surabaya pernah, Jogjakarta pernah. Kalau luar negeri juga pernah, yaitu orang TKI dari Jember di Malaysia yang pesan kaus Persid,” jelasnya.

Menjual kaus ke luar kota hingga luar negeri sebenarnya di luar ekspektasinya. “Karena fisik saya seperti ini, tidak pernah menyangka yang pesan dari jauh,” ungkapnya.

Nah, lokasi jasa pengiriman Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) di dekat Stasiun Rambipuji membuat Aziz terbantu. “Dulu sempat diberi kemudahan untuk dijemput kurir JNE. Tapi karena dekat, dikirim sendiri. Apalagi juga ada kardus packing, semakin membantu,” kata Aziz.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Syal sepak bola PSIM Yogyakarta, Bonek Persebaya Surabaya, Persid Jember, hingga Persib Bandung itu mulai dikeluarkan dari lemari Abdul Aziz. Satu per satu syal tersebut dia rapikan, dibungkus plastik, hingga ditandai hendak dikirim ke mana. Termasuk memastikan akan dikirim ke siapa dan di daerah mana. Kemudian, Aziz langsung memasukannya ke kotak kardus packing dari JNE. Kardus itu kian membuat tugas Aziz dalam bisnis online terbantu. Apalagi, fisiknya tidak sempurna.

Pria berusia 22 tahun ini merupakan penyandang disabilitas tunadaksa. Untuk membantu mobilitasnya, dia tidak memakai alat bantu jalan atau kruk. Justru dia mengandalkan papan luncur atau skateboard. Sebab, mulai dari pangkal paha, pertumbuhan kakinya abnormal.

Namun, walau memiliki keterbatasan fisik, Aziz tidak mau menggantungkan hidup ke orang lain dan ingin mendapatkan penghasilan secara mandiri. Berjalan dengan papan luncur telah dilakukan oleh Aziz sejak usia 10 tahun atau kelas 3 SD. “Dulu ke mana-mana digendong. Lalu, oleh bapak dibelikan skateboard agar mandiri,” paparnya. Bekal hidup untuk mandiri inilah yang menjadi dorongan tersendiri baginya.

Beranjak remaja, Aziz mulai menyukai dunia sepak bola. Hingga saat ini, dia tercatat sebagai koordinator suporter Persid Jember, Berni, di tingkat kecamatan. Lewat bola itulah menjadi jalan Aziz memulai usaha clothing. “Awalnya, kelompok suporter bola di sekolah mau buat kaus sendiri. Karena pesan kaus harganya mahal, saya cari kaus sendiri dan mencari tukang sablon sendiri,” paparnya.

Berbekal pengalaman itulah, akhirnya Aziz dipercaya kembali membuat kaus suporter bola. Berbekal menguasai desain dan relasi produksi kaus, Aziz memulai bisnis clothing dengan serius. Suporter bola tingkat sekolah adalah target utamanya. Beragam pelajar penggila bola mulai banyak melakukan pemesanan.

Tak hanya dari Jember, pesanan juga datang dari luar kota, bahkan luar negeri. “Dari Surabaya pernah, Jogjakarta pernah. Kalau luar negeri juga pernah, yaitu orang TKI dari Jember di Malaysia yang pesan kaus Persid,” jelasnya.

Menjual kaus ke luar kota hingga luar negeri sebenarnya di luar ekspektasinya. “Karena fisik saya seperti ini, tidak pernah menyangka yang pesan dari jauh,” ungkapnya.

Nah, lokasi jasa pengiriman Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) di dekat Stasiun Rambipuji membuat Aziz terbantu. “Dulu sempat diberi kemudahan untuk dijemput kurir JNE. Tapi karena dekat, dikirim sendiri. Apalagi juga ada kardus packing, semakin membantu,” kata Aziz.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/