alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Kalau Malas Beli Solar, Tak Ada Lampu Menyala

Listrik menjadi kebutuhan energi dasar manusia. Tapi ada sebagian masyarakat perlu tenaga ekstra demi mendapat listrik. Tidak seperti warga kota. Lewat panel surya, mereka bisa menikmati lebih murah dan mudah daripada diesel.

Mobile_AP_Rectangle 1

Dengan pengetahuan elektronikanya, Sasmito mulai merangkai panel surya dan mampu menghidupkan lampu serta televisi LED. Dia mengaku, pada 2012 lalu teknologi panel surya masih belum dipahami masyarakat awam. Ditambah lagi harganya tidak terjangkau bagi orang-orang perdesaan.

Harga panel surya 40 watt beserta instalasi dan serta aki dipatok senilai Rp 2,5 juta. “Kalau sekarang panel suryanya atau solar cell-nya saja itu murah, 100 watt saja harganya satu jutaan. Ada yang kurang dari satu juta. Dulu 100 watt panel surya saja di atas Rp 2 juta,” ungkapnya.

Pria yang hanya merupakan lulusan SMP ini juga terus menerima jasa pemasangan panel surya ke lokasi sulit listrik. Seperti di daerah Pantai Bandealit. Di Kawasan yang masuk Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini, warganya selama ini hanya mengandalkan listrik dari pembangkit genset. “Listrik baru ada ya mulai Magrib sampai sekitar pukul 9-10 malam saja. Siang tidak ada listrik,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bila dibandingkan dengan listrik PLN 450 watt subsidi, Sasmito mengakui biayanya tentu lebih murah PLN daripada solar cell. “Lebih murah PLN. Tapi warga pasang solar cell, listriknya pakai genset. Kalau pakai genset ya lebih murah solar cell,” tuturnya.

Dia mencontohkan, satu genset yang berada di kampung nelayan Pantai Bandealit digunakan untuk dua rumah. Mulai Magrib hingga pukul 9 atau 10 malam, mereka menghabiskan empat liter solar. Dengan asumsi harga solar Rp 10 ribu per liter, maka satu rumah per bulan menghabisan Rp 600 ribu, dan satu tahun mencapai Rp 7,2 juta.

Nah, biaya setahun tersebut bisa membeli solar cell. “Kalau solar cell biaya dikeluarkan lagi itu aki, usianya sekitar 2 tahun. Kalau panel suryanya bisa 20 tahunan dengan catatan tidak pecah,” jelasnya.

Kini, pemasangan panel surya tidak begitu ramai seperti dulu. Sebab, kata dia, sudah banyak bantuan dari pemerintah untuk masyarakat pedalaman yang tidak terakses PLN. Tapi, setidaknya lewat solar cell, membuktikan bahwa Indonesia ini kaya dengan energi terbarukan. Sebagai negara tropis dengan paparan matahari melimpah, energi terbarukan menjadi jawaban tentang kemandirian energi.

- Advertisement -

Dengan pengetahuan elektronikanya, Sasmito mulai merangkai panel surya dan mampu menghidupkan lampu serta televisi LED. Dia mengaku, pada 2012 lalu teknologi panel surya masih belum dipahami masyarakat awam. Ditambah lagi harganya tidak terjangkau bagi orang-orang perdesaan.

Harga panel surya 40 watt beserta instalasi dan serta aki dipatok senilai Rp 2,5 juta. “Kalau sekarang panel suryanya atau solar cell-nya saja itu murah, 100 watt saja harganya satu jutaan. Ada yang kurang dari satu juta. Dulu 100 watt panel surya saja di atas Rp 2 juta,” ungkapnya.

Pria yang hanya merupakan lulusan SMP ini juga terus menerima jasa pemasangan panel surya ke lokasi sulit listrik. Seperti di daerah Pantai Bandealit. Di Kawasan yang masuk Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini, warganya selama ini hanya mengandalkan listrik dari pembangkit genset. “Listrik baru ada ya mulai Magrib sampai sekitar pukul 9-10 malam saja. Siang tidak ada listrik,” ujarnya.

Bila dibandingkan dengan listrik PLN 450 watt subsidi, Sasmito mengakui biayanya tentu lebih murah PLN daripada solar cell. “Lebih murah PLN. Tapi warga pasang solar cell, listriknya pakai genset. Kalau pakai genset ya lebih murah solar cell,” tuturnya.

Dia mencontohkan, satu genset yang berada di kampung nelayan Pantai Bandealit digunakan untuk dua rumah. Mulai Magrib hingga pukul 9 atau 10 malam, mereka menghabiskan empat liter solar. Dengan asumsi harga solar Rp 10 ribu per liter, maka satu rumah per bulan menghabisan Rp 600 ribu, dan satu tahun mencapai Rp 7,2 juta.

Nah, biaya setahun tersebut bisa membeli solar cell. “Kalau solar cell biaya dikeluarkan lagi itu aki, usianya sekitar 2 tahun. Kalau panel suryanya bisa 20 tahunan dengan catatan tidak pecah,” jelasnya.

Kini, pemasangan panel surya tidak begitu ramai seperti dulu. Sebab, kata dia, sudah banyak bantuan dari pemerintah untuk masyarakat pedalaman yang tidak terakses PLN. Tapi, setidaknya lewat solar cell, membuktikan bahwa Indonesia ini kaya dengan energi terbarukan. Sebagai negara tropis dengan paparan matahari melimpah, energi terbarukan menjadi jawaban tentang kemandirian energi.

Dengan pengetahuan elektronikanya, Sasmito mulai merangkai panel surya dan mampu menghidupkan lampu serta televisi LED. Dia mengaku, pada 2012 lalu teknologi panel surya masih belum dipahami masyarakat awam. Ditambah lagi harganya tidak terjangkau bagi orang-orang perdesaan.

Harga panel surya 40 watt beserta instalasi dan serta aki dipatok senilai Rp 2,5 juta. “Kalau sekarang panel suryanya atau solar cell-nya saja itu murah, 100 watt saja harganya satu jutaan. Ada yang kurang dari satu juta. Dulu 100 watt panel surya saja di atas Rp 2 juta,” ungkapnya.

Pria yang hanya merupakan lulusan SMP ini juga terus menerima jasa pemasangan panel surya ke lokasi sulit listrik. Seperti di daerah Pantai Bandealit. Di Kawasan yang masuk Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini, warganya selama ini hanya mengandalkan listrik dari pembangkit genset. “Listrik baru ada ya mulai Magrib sampai sekitar pukul 9-10 malam saja. Siang tidak ada listrik,” ujarnya.

Bila dibandingkan dengan listrik PLN 450 watt subsidi, Sasmito mengakui biayanya tentu lebih murah PLN daripada solar cell. “Lebih murah PLN. Tapi warga pasang solar cell, listriknya pakai genset. Kalau pakai genset ya lebih murah solar cell,” tuturnya.

Dia mencontohkan, satu genset yang berada di kampung nelayan Pantai Bandealit digunakan untuk dua rumah. Mulai Magrib hingga pukul 9 atau 10 malam, mereka menghabiskan empat liter solar. Dengan asumsi harga solar Rp 10 ribu per liter, maka satu rumah per bulan menghabisan Rp 600 ribu, dan satu tahun mencapai Rp 7,2 juta.

Nah, biaya setahun tersebut bisa membeli solar cell. “Kalau solar cell biaya dikeluarkan lagi itu aki, usianya sekitar 2 tahun. Kalau panel suryanya bisa 20 tahunan dengan catatan tidak pecah,” jelasnya.

Kini, pemasangan panel surya tidak begitu ramai seperti dulu. Sebab, kata dia, sudah banyak bantuan dari pemerintah untuk masyarakat pedalaman yang tidak terakses PLN. Tapi, setidaknya lewat solar cell, membuktikan bahwa Indonesia ini kaya dengan energi terbarukan. Sebagai negara tropis dengan paparan matahari melimpah, energi terbarukan menjadi jawaban tentang kemandirian energi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/