alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Kalau Malas Beli Solar, Tak Ada Lampu Menyala

Listrik menjadi kebutuhan energi dasar manusia. Tapi ada sebagian masyarakat perlu tenaga ekstra demi mendapat listrik. Tidak seperti warga kota. Lewat panel surya, mereka bisa menikmati lebih murah dan mudah daripada diesel.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pohon mangga menjadi peneduh yang nyaman saat bercengkerama di teras Sasmito. Berada di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, pria yang satu ini kerap didatangi warga untuk meminta pertolongan. “Niki HP-ku kenopo nggeh (Ini HP saya kenapa ya, Red),” tanya tetangga Sasmito.

Ya, di sekitar rumahnya, Sasmito dikenal piawai dalam memperbaiki telepon genggam. Apalagi dia juga membuka usaha konter HP tak jauh dari kediamannya. Selain dikenal memperbaiki HP, dia juga suka utak-atik kelistrikan. Di rumahnya juga ada serangkaian aki kering yang dirangkai sedemikian rupa. Ada kabel yang menjulur ke atas.

Siapa sangka, aki kering ini menjadi penyimpan daya energi listrik yang dihasilkan dari panel surya. Listrik dari panel surya inilah yang membuat lampu di rumah Sasmito terus menyala, walau aliran listrik dari PLN padam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Energi panel surya tersebut memakai arus DC. Tidak lagi AC seperti kelistrikan rumah pada umumnya. “Kalau pakai AC lebih boros, enak DC. Sebenarnya ya bisa dibuat AC,” jelasnya.

Energi listrik gratisan dari matahari, kata dia, hanya dipakai untuk penerangan saja. Sedangkan listrik untuk televisi, mesin cuci, dan perangkat elektronik lainnya tetap pakai PLN. Lampu LED-nya pun diubah jadi 12 volt saja, agar lebih hemat energy.

Rumah Sasmito bukan termasuk rumah pedalaman yang tidak teraliri listrik negara dari PLN. Tapi dirinya sengaja tetap memakai panel surya, lantaran pusing jika listrik dari PLN itu padam. “Kalau di kota enak, jarang padam. Kalau di desa bisa dikatakan sering. Ya beginilah hidup di desa,” ujarnya.

Setidaknya, lanjut dia, seminggu sekali listrik di desanya itu padam. “Nggak ada hujan nggak ada angin ya padam,” terangnya. Oleh sebab itu, dia pun semakin mantap memasang panel surya di rumahnya.

Sebelum memasang panel surya, Sasmito dibantu rekan-rekannya juga memasangkan sekaligus merangkai panel surya di rumah warga yang tidak mendapatkan listrik negara. Dimulai pada 2012 di daerah Slerok, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo. “Pokok lewat Sempolan, Silo. Naik terus ke atas, ke kaki Gunung Raung,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pohon mangga menjadi peneduh yang nyaman saat bercengkerama di teras Sasmito. Berada di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, pria yang satu ini kerap didatangi warga untuk meminta pertolongan. “Niki HP-ku kenopo nggeh (Ini HP saya kenapa ya, Red),” tanya tetangga Sasmito.

Ya, di sekitar rumahnya, Sasmito dikenal piawai dalam memperbaiki telepon genggam. Apalagi dia juga membuka usaha konter HP tak jauh dari kediamannya. Selain dikenal memperbaiki HP, dia juga suka utak-atik kelistrikan. Di rumahnya juga ada serangkaian aki kering yang dirangkai sedemikian rupa. Ada kabel yang menjulur ke atas.

Siapa sangka, aki kering ini menjadi penyimpan daya energi listrik yang dihasilkan dari panel surya. Listrik dari panel surya inilah yang membuat lampu di rumah Sasmito terus menyala, walau aliran listrik dari PLN padam.

Energi panel surya tersebut memakai arus DC. Tidak lagi AC seperti kelistrikan rumah pada umumnya. “Kalau pakai AC lebih boros, enak DC. Sebenarnya ya bisa dibuat AC,” jelasnya.

Energi listrik gratisan dari matahari, kata dia, hanya dipakai untuk penerangan saja. Sedangkan listrik untuk televisi, mesin cuci, dan perangkat elektronik lainnya tetap pakai PLN. Lampu LED-nya pun diubah jadi 12 volt saja, agar lebih hemat energy.

Rumah Sasmito bukan termasuk rumah pedalaman yang tidak teraliri listrik negara dari PLN. Tapi dirinya sengaja tetap memakai panel surya, lantaran pusing jika listrik dari PLN itu padam. “Kalau di kota enak, jarang padam. Kalau di desa bisa dikatakan sering. Ya beginilah hidup di desa,” ujarnya.

Setidaknya, lanjut dia, seminggu sekali listrik di desanya itu padam. “Nggak ada hujan nggak ada angin ya padam,” terangnya. Oleh sebab itu, dia pun semakin mantap memasang panel surya di rumahnya.

Sebelum memasang panel surya, Sasmito dibantu rekan-rekannya juga memasangkan sekaligus merangkai panel surya di rumah warga yang tidak mendapatkan listrik negara. Dimulai pada 2012 di daerah Slerok, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo. “Pokok lewat Sempolan, Silo. Naik terus ke atas, ke kaki Gunung Raung,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pohon mangga menjadi peneduh yang nyaman saat bercengkerama di teras Sasmito. Berada di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, pria yang satu ini kerap didatangi warga untuk meminta pertolongan. “Niki HP-ku kenopo nggeh (Ini HP saya kenapa ya, Red),” tanya tetangga Sasmito.

Ya, di sekitar rumahnya, Sasmito dikenal piawai dalam memperbaiki telepon genggam. Apalagi dia juga membuka usaha konter HP tak jauh dari kediamannya. Selain dikenal memperbaiki HP, dia juga suka utak-atik kelistrikan. Di rumahnya juga ada serangkaian aki kering yang dirangkai sedemikian rupa. Ada kabel yang menjulur ke atas.

Siapa sangka, aki kering ini menjadi penyimpan daya energi listrik yang dihasilkan dari panel surya. Listrik dari panel surya inilah yang membuat lampu di rumah Sasmito terus menyala, walau aliran listrik dari PLN padam.

Energi panel surya tersebut memakai arus DC. Tidak lagi AC seperti kelistrikan rumah pada umumnya. “Kalau pakai AC lebih boros, enak DC. Sebenarnya ya bisa dibuat AC,” jelasnya.

Energi listrik gratisan dari matahari, kata dia, hanya dipakai untuk penerangan saja. Sedangkan listrik untuk televisi, mesin cuci, dan perangkat elektronik lainnya tetap pakai PLN. Lampu LED-nya pun diubah jadi 12 volt saja, agar lebih hemat energy.

Rumah Sasmito bukan termasuk rumah pedalaman yang tidak teraliri listrik negara dari PLN. Tapi dirinya sengaja tetap memakai panel surya, lantaran pusing jika listrik dari PLN itu padam. “Kalau di kota enak, jarang padam. Kalau di desa bisa dikatakan sering. Ya beginilah hidup di desa,” ujarnya.

Setidaknya, lanjut dia, seminggu sekali listrik di desanya itu padam. “Nggak ada hujan nggak ada angin ya padam,” terangnya. Oleh sebab itu, dia pun semakin mantap memasang panel surya di rumahnya.

Sebelum memasang panel surya, Sasmito dibantu rekan-rekannya juga memasangkan sekaligus merangkai panel surya di rumah warga yang tidak mendapatkan listrik negara. Dimulai pada 2012 di daerah Slerok, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo. “Pokok lewat Sempolan, Silo. Naik terus ke atas, ke kaki Gunung Raung,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/