alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Belum Semua Sampah Dipilah

Fasilitas Juga Masih Terbatas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Pemilahan sampah bisa dengan mudah dilakukan oleh siapa saja. Dengan catatan, tempat sampahnya berbeda-beda seperti yang ada di Alun-Alun Jember. Akan tetapi, fakta di lapangan, masih sangat jarang tempat sampah yang demikian.

Sejauh ini, tempat sampah yang membedakan sampah B3 atau limbah medis, organik, dan anorganik terbatas pada sejumlah fasilitas umum dan perkantoran. Tetapi, untuk menemukannya di lingkungan perumahan masih cukup sulit. Alhasil, masyarakat pun membuang sampah menjadi satu. Tanpa membedakan apakah itu sampah basah, kering, B3, maupun sampah jenis lain.

Dalam waktu hampir dua tahun ini, sampah yang dibuang warga juga berkembang. Salah satunya ada sampah yang berkaitan dengan pandemi korona, yaitu masker. Nah, masker di tengah masyarakat ini pun banyak dibuang menjadi satu dengan sampah yang lain. “Kalau ada masker yang masuk TPA (tempat pembuangan akhir, Red), itu langsung dibakar. Ini demi mencegah kemungkinan buruk,” kata Eko Heru Sunarso, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) itu mengakui, memang ada keterbatasan penanganan sampah, khususnya masker. “Seharusnya memang dibedakan. Tetapi, rata-rata masih dibuang menjadi satu dengan yang lain. Di situ masker yang ditemukan langsung dibakar di TPA,” imbuhnya.

Penanganan sampah ini, menurut Heru, telah menjadi pembahasan tersendiri, termasuk dengan DPRD Jember. “Sementara waktu, penanganannya dibakar sendiri karena kumpul dengan sampah lain,” ulasnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto membenarkan keterbatasan penanganan sampah masker. Menurut dia, karena belum tersedia fasilitas khusus pembuangan sampah, maka masker diharapkan dibuang dengan cara dibungkus. “Dengan DLH sempat dibahas. Karena fasilitas khusus belum ada, maka pembuangannya perlu dipilah oleh masyarakat,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Pemilahan sampah bisa dengan mudah dilakukan oleh siapa saja. Dengan catatan, tempat sampahnya berbeda-beda seperti yang ada di Alun-Alun Jember. Akan tetapi, fakta di lapangan, masih sangat jarang tempat sampah yang demikian.

Sejauh ini, tempat sampah yang membedakan sampah B3 atau limbah medis, organik, dan anorganik terbatas pada sejumlah fasilitas umum dan perkantoran. Tetapi, untuk menemukannya di lingkungan perumahan masih cukup sulit. Alhasil, masyarakat pun membuang sampah menjadi satu. Tanpa membedakan apakah itu sampah basah, kering, B3, maupun sampah jenis lain.

Dalam waktu hampir dua tahun ini, sampah yang dibuang warga juga berkembang. Salah satunya ada sampah yang berkaitan dengan pandemi korona, yaitu masker. Nah, masker di tengah masyarakat ini pun banyak dibuang menjadi satu dengan sampah yang lain. “Kalau ada masker yang masuk TPA (tempat pembuangan akhir, Red), itu langsung dibakar. Ini demi mencegah kemungkinan buruk,” kata Eko Heru Sunarso, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Jember.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) itu mengakui, memang ada keterbatasan penanganan sampah, khususnya masker. “Seharusnya memang dibedakan. Tetapi, rata-rata masih dibuang menjadi satu dengan yang lain. Di situ masker yang ditemukan langsung dibakar di TPA,” imbuhnya.

Penanganan sampah ini, menurut Heru, telah menjadi pembahasan tersendiri, termasuk dengan DPRD Jember. “Sementara waktu, penanganannya dibakar sendiri karena kumpul dengan sampah lain,” ulasnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto membenarkan keterbatasan penanganan sampah masker. Menurut dia, karena belum tersedia fasilitas khusus pembuangan sampah, maka masker diharapkan dibuang dengan cara dibungkus. “Dengan DLH sempat dibahas. Karena fasilitas khusus belum ada, maka pembuangannya perlu dipilah oleh masyarakat,” jelasnya.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Pemilahan sampah bisa dengan mudah dilakukan oleh siapa saja. Dengan catatan, tempat sampahnya berbeda-beda seperti yang ada di Alun-Alun Jember. Akan tetapi, fakta di lapangan, masih sangat jarang tempat sampah yang demikian.

Sejauh ini, tempat sampah yang membedakan sampah B3 atau limbah medis, organik, dan anorganik terbatas pada sejumlah fasilitas umum dan perkantoran. Tetapi, untuk menemukannya di lingkungan perumahan masih cukup sulit. Alhasil, masyarakat pun membuang sampah menjadi satu. Tanpa membedakan apakah itu sampah basah, kering, B3, maupun sampah jenis lain.

Dalam waktu hampir dua tahun ini, sampah yang dibuang warga juga berkembang. Salah satunya ada sampah yang berkaitan dengan pandemi korona, yaitu masker. Nah, masker di tengah masyarakat ini pun banyak dibuang menjadi satu dengan sampah yang lain. “Kalau ada masker yang masuk TPA (tempat pembuangan akhir, Red), itu langsung dibakar. Ini demi mencegah kemungkinan buruk,” kata Eko Heru Sunarso, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Jember.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) itu mengakui, memang ada keterbatasan penanganan sampah, khususnya masker. “Seharusnya memang dibedakan. Tetapi, rata-rata masih dibuang menjadi satu dengan yang lain. Di situ masker yang ditemukan langsung dibakar di TPA,” imbuhnya.

Penanganan sampah ini, menurut Heru, telah menjadi pembahasan tersendiri, termasuk dengan DPRD Jember. “Sementara waktu, penanganannya dibakar sendiri karena kumpul dengan sampah lain,” ulasnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto membenarkan keterbatasan penanganan sampah masker. Menurut dia, karena belum tersedia fasilitas khusus pembuangan sampah, maka masker diharapkan dibuang dengan cara dibungkus. “Dengan DLH sempat dibahas. Karena fasilitas khusus belum ada, maka pembuangannya perlu dipilah oleh masyarakat,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/