alexametrics
23.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Heboh, Rumah Sendiri kok Dibakar

Mobile_AP_Rectangle 1

Syaiful membakar rumahnya karena memang stres selama enam tahun. “Korban sehari-harinya sendirian. Untuk makan saja diberi tetangga dan saudara,” ujarnya.

Syaiful ini suka merokok setiap hari. Bila tak punya, dia menulis surat minta rokok kepada Tuhan. “Dia ada tekanan mental, bahkan tidak pernah bersosialisasi dengan para tetangga. Semakin lama semakin parah,” tuturnya. Kebiasaan korban juga  mandi di sungai dan berendam berlama-lama. Setelah itu, biasanya pulang dan mengurung diri di dalam rumahnya.

Arrumaisha Fitri M. Psi, dari Biro Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember mengatakan, korban sekaligus pelaku tersebut perlu dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater untuk dilakukan assessment, apakah benar diagnosis gangguan jiwa.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pemeriksaan itu nanti melihat terkait penyebab dari perilakunya, alasannya, apa yang dipikirkan dan dirasakannya ketika melakukan hal tersebut,” terangnya.

Dia menilai, penderita yang melakukan hal tersebut bisa karena mendengarkan suara-suara yang tidak nyata atau halusinasi, atau ada waham dan lain-lain.

Sikap yang seharusnya ditunjukkan ke masyarakat kepada penderita itu, lanjutnya, bisa cukup beragam. “Pertama dengan mulai mengajak penderita ke tempat pelayanan psikologi secara berkala dan memastikan kondisi rumah aman dari benda tajam dan berbahaya,” imbuh dosen Psikologi IAIN Jember itu.

Selain itu, Fitri menambahkan bahwa sebisa mungkin keluarga ataupun masyarakat menghindari informasi berupa siaran maupun tayangan yang dapat menimbulkan rasa takut bagi penderita. “Berikan perhatian, misalnya mengajak mengobrol topik-topik sederhana yang tidak bernada merendahkan dan mengejek dengan situasi yang tidak terlalu ramai,” imbuh Fitri.

Meski demikian, baginya penderita gangguan kejiwaan harus terus diberikan jarak. Jika semisal kurang nyaman dengan orang banyak, bisa diberikan waktu untuk menyendiri, dengan memastikan situasinya tetap aman. “Yang terpenting adalah, masyarakat menerima penderita dengan tangan terbuka. Tidak mencemooh karena mengalami gangguan jiwa. Menerima layaknya manusia,” tukasnya.  (*)

- Advertisement -

Syaiful membakar rumahnya karena memang stres selama enam tahun. “Korban sehari-harinya sendirian. Untuk makan saja diberi tetangga dan saudara,” ujarnya.

Syaiful ini suka merokok setiap hari. Bila tak punya, dia menulis surat minta rokok kepada Tuhan. “Dia ada tekanan mental, bahkan tidak pernah bersosialisasi dengan para tetangga. Semakin lama semakin parah,” tuturnya. Kebiasaan korban juga  mandi di sungai dan berendam berlama-lama. Setelah itu, biasanya pulang dan mengurung diri di dalam rumahnya.

Arrumaisha Fitri M. Psi, dari Biro Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember mengatakan, korban sekaligus pelaku tersebut perlu dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater untuk dilakukan assessment, apakah benar diagnosis gangguan jiwa.

“Pemeriksaan itu nanti melihat terkait penyebab dari perilakunya, alasannya, apa yang dipikirkan dan dirasakannya ketika melakukan hal tersebut,” terangnya.

Dia menilai, penderita yang melakukan hal tersebut bisa karena mendengarkan suara-suara yang tidak nyata atau halusinasi, atau ada waham dan lain-lain.

Sikap yang seharusnya ditunjukkan ke masyarakat kepada penderita itu, lanjutnya, bisa cukup beragam. “Pertama dengan mulai mengajak penderita ke tempat pelayanan psikologi secara berkala dan memastikan kondisi rumah aman dari benda tajam dan berbahaya,” imbuh dosen Psikologi IAIN Jember itu.

Selain itu, Fitri menambahkan bahwa sebisa mungkin keluarga ataupun masyarakat menghindari informasi berupa siaran maupun tayangan yang dapat menimbulkan rasa takut bagi penderita. “Berikan perhatian, misalnya mengajak mengobrol topik-topik sederhana yang tidak bernada merendahkan dan mengejek dengan situasi yang tidak terlalu ramai,” imbuh Fitri.

Meski demikian, baginya penderita gangguan kejiwaan harus terus diberikan jarak. Jika semisal kurang nyaman dengan orang banyak, bisa diberikan waktu untuk menyendiri, dengan memastikan situasinya tetap aman. “Yang terpenting adalah, masyarakat menerima penderita dengan tangan terbuka. Tidak mencemooh karena mengalami gangguan jiwa. Menerima layaknya manusia,” tukasnya.  (*)

Syaiful membakar rumahnya karena memang stres selama enam tahun. “Korban sehari-harinya sendirian. Untuk makan saja diberi tetangga dan saudara,” ujarnya.

Syaiful ini suka merokok setiap hari. Bila tak punya, dia menulis surat minta rokok kepada Tuhan. “Dia ada tekanan mental, bahkan tidak pernah bersosialisasi dengan para tetangga. Semakin lama semakin parah,” tuturnya. Kebiasaan korban juga  mandi di sungai dan berendam berlama-lama. Setelah itu, biasanya pulang dan mengurung diri di dalam rumahnya.

Arrumaisha Fitri M. Psi, dari Biro Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember mengatakan, korban sekaligus pelaku tersebut perlu dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater untuk dilakukan assessment, apakah benar diagnosis gangguan jiwa.

“Pemeriksaan itu nanti melihat terkait penyebab dari perilakunya, alasannya, apa yang dipikirkan dan dirasakannya ketika melakukan hal tersebut,” terangnya.

Dia menilai, penderita yang melakukan hal tersebut bisa karena mendengarkan suara-suara yang tidak nyata atau halusinasi, atau ada waham dan lain-lain.

Sikap yang seharusnya ditunjukkan ke masyarakat kepada penderita itu, lanjutnya, bisa cukup beragam. “Pertama dengan mulai mengajak penderita ke tempat pelayanan psikologi secara berkala dan memastikan kondisi rumah aman dari benda tajam dan berbahaya,” imbuh dosen Psikologi IAIN Jember itu.

Selain itu, Fitri menambahkan bahwa sebisa mungkin keluarga ataupun masyarakat menghindari informasi berupa siaran maupun tayangan yang dapat menimbulkan rasa takut bagi penderita. “Berikan perhatian, misalnya mengajak mengobrol topik-topik sederhana yang tidak bernada merendahkan dan mengejek dengan situasi yang tidak terlalu ramai,” imbuh Fitri.

Meski demikian, baginya penderita gangguan kejiwaan harus terus diberikan jarak. Jika semisal kurang nyaman dengan orang banyak, bisa diberikan waktu untuk menyendiri, dengan memastikan situasinya tetap aman. “Yang terpenting adalah, masyarakat menerima penderita dengan tangan terbuka. Tidak mencemooh karena mengalami gangguan jiwa. Menerima layaknya manusia,” tukasnya.  (*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/