alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Apes! Sempat Melepas Helm Tertangkap e-Tilang di Jember

Tidak Sadar, Malah Tertangkap Melanggar Lalu Lintas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BEBERAPA warga di Kabupaten Jember sudah merasakan pengalaman terkena e-tilang. Mereka tak bisa mengelak karena bukti yang dikirim kepolisian adalah foto atau rekaman warga saat melanggar peraturan lalu lintas. Setidaknya ada dua warga yang menyampaikan pengalamannya ke media sosial maupun pesan singkat ke teman-temannya terkait e-tilang.

Pengalaman pertama tertangkap e-tilang disampaikan Krisna, warga yang kena tilang ketika melintas di Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. “Langsung diantar foto bukti sama surat tilang. Ampun wes,” tulisnya di media sosial.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Krisna menceritakan nasibnya tertangkap e-tilang, saat itu dirinya sedang bekerja mengantar es batu di daerah kampus. Lantaran helm yang dipakai terlalu besar, dia kemudian melepas helm tersebut di sekitar Jembatan Semanggi. Begitu sampai di Jalan Jawa, pria ini selanjutnya terekam tidak menggunakan helm. “Di daerah Jalan Jawa salipan sama mobil polisi yang ada kameranya,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria ini pun tak mengira jika dirinya yang sempat melepas helm justru terekam kamera e-tilang dan ditilang. “Dapat empat hari, di pabrik dipanggil sama bos kalau kena tilang. Ya, itu dah. Seperti itu,” ungkapnya. Hal itu kemudian diurus oleh kantor tempatnya bekerja, karena motor yang dipakai saat tertangkap e-tilang adalah motor milik perusahaan.

Cerita warga yang terkena e-tilang juga dialami warga Taman Gading, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates. “Itu tetangga. Kemarin, sempat ramai di grup RT,” kata Kuat Satozi, warga Taman Gading.

Menurutnya, penerapan e-tilang ramai menjadi pembahasan yang serius oleh beberapa orang. Warga disebutnya perlu mengetahui penerapannya di jalan mana saja atau seperti apa. Namun, terlepas dari pro dan kontra, e-tilang bisa menjadi pemicu agar masyarakat patuh terhadap peraturan lalu lintas di mana saja dan setiap saat. “Karena baru, tentu perlu dilakukan sosialisasi,” ucapnya.

Pengalaman warga Taman Gading ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Krisna. Yaitu tidak memakai helm dan terekam kamera. Polisi selanjutnya mengirimkan bukti-bukti pelanggaran sesuai alamat berdasarkan pelat nomor kendaraan.

Tak Dibalas, Blokir!

TIDAK hanya menjadi teguran bagi pengguna motor yang serampangan, tilang elektronik itu juga disebut-sebut bakal mendisiplinkan pengguna jalan agar lebih patuh. Sebab, penerapannya menyasar ke semua pengendara. Tanpa terkecuali. “Diberlakukan untuk semua. Baik roda dua maupun roda empat,” kata AKP Enggarani Laufria, Kasat Lantas Polres Jember.

Menurutnya, sejak sekitar enam bulan terakhir, kepolisian telah mulai menerapkan e-tilang di Jember. Polisi mengerahkan satu unit mobil yang disebut Integrated Node Capture Attitude Record (INCAR). Mobil itu bertugas berpatroli, memantau aktivitas kendaraan, berikut aktivitas para pengguna jalan.

Pada mobil tersebut, dilengkapi seperangkat kamera super canggih yang bisa menangkap gambar pengendara motor atau mobil yang ketahuan menerobos lampu merah, atau melaju di atas kecepatan rata-rata. Kemampuan kamera ini bahkan diakui bisa detail sampai ke pelat nomor kendaraan yang tertangkap kamera.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BEBERAPA warga di Kabupaten Jember sudah merasakan pengalaman terkena e-tilang. Mereka tak bisa mengelak karena bukti yang dikirim kepolisian adalah foto atau rekaman warga saat melanggar peraturan lalu lintas. Setidaknya ada dua warga yang menyampaikan pengalamannya ke media sosial maupun pesan singkat ke teman-temannya terkait e-tilang.

Pengalaman pertama tertangkap e-tilang disampaikan Krisna, warga yang kena tilang ketika melintas di Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. “Langsung diantar foto bukti sama surat tilang. Ampun wes,” tulisnya di media sosial.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Krisna menceritakan nasibnya tertangkap e-tilang, saat itu dirinya sedang bekerja mengantar es batu di daerah kampus. Lantaran helm yang dipakai terlalu besar, dia kemudian melepas helm tersebut di sekitar Jembatan Semanggi. Begitu sampai di Jalan Jawa, pria ini selanjutnya terekam tidak menggunakan helm. “Di daerah Jalan Jawa salipan sama mobil polisi yang ada kameranya,” jelasnya.

Pria ini pun tak mengira jika dirinya yang sempat melepas helm justru terekam kamera e-tilang dan ditilang. “Dapat empat hari, di pabrik dipanggil sama bos kalau kena tilang. Ya, itu dah. Seperti itu,” ungkapnya. Hal itu kemudian diurus oleh kantor tempatnya bekerja, karena motor yang dipakai saat tertangkap e-tilang adalah motor milik perusahaan.

Cerita warga yang terkena e-tilang juga dialami warga Taman Gading, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates. “Itu tetangga. Kemarin, sempat ramai di grup RT,” kata Kuat Satozi, warga Taman Gading.

Menurutnya, penerapan e-tilang ramai menjadi pembahasan yang serius oleh beberapa orang. Warga disebutnya perlu mengetahui penerapannya di jalan mana saja atau seperti apa. Namun, terlepas dari pro dan kontra, e-tilang bisa menjadi pemicu agar masyarakat patuh terhadap peraturan lalu lintas di mana saja dan setiap saat. “Karena baru, tentu perlu dilakukan sosialisasi,” ucapnya.

Pengalaman warga Taman Gading ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Krisna. Yaitu tidak memakai helm dan terekam kamera. Polisi selanjutnya mengirimkan bukti-bukti pelanggaran sesuai alamat berdasarkan pelat nomor kendaraan.

Tak Dibalas, Blokir!

TIDAK hanya menjadi teguran bagi pengguna motor yang serampangan, tilang elektronik itu juga disebut-sebut bakal mendisiplinkan pengguna jalan agar lebih patuh. Sebab, penerapannya menyasar ke semua pengendara. Tanpa terkecuali. “Diberlakukan untuk semua. Baik roda dua maupun roda empat,” kata AKP Enggarani Laufria, Kasat Lantas Polres Jember.

Menurutnya, sejak sekitar enam bulan terakhir, kepolisian telah mulai menerapkan e-tilang di Jember. Polisi mengerahkan satu unit mobil yang disebut Integrated Node Capture Attitude Record (INCAR). Mobil itu bertugas berpatroli, memantau aktivitas kendaraan, berikut aktivitas para pengguna jalan.

Pada mobil tersebut, dilengkapi seperangkat kamera super canggih yang bisa menangkap gambar pengendara motor atau mobil yang ketahuan menerobos lampu merah, atau melaju di atas kecepatan rata-rata. Kemampuan kamera ini bahkan diakui bisa detail sampai ke pelat nomor kendaraan yang tertangkap kamera.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BEBERAPA warga di Kabupaten Jember sudah merasakan pengalaman terkena e-tilang. Mereka tak bisa mengelak karena bukti yang dikirim kepolisian adalah foto atau rekaman warga saat melanggar peraturan lalu lintas. Setidaknya ada dua warga yang menyampaikan pengalamannya ke media sosial maupun pesan singkat ke teman-temannya terkait e-tilang.

Pengalaman pertama tertangkap e-tilang disampaikan Krisna, warga yang kena tilang ketika melintas di Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. “Langsung diantar foto bukti sama surat tilang. Ampun wes,” tulisnya di media sosial.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Krisna menceritakan nasibnya tertangkap e-tilang, saat itu dirinya sedang bekerja mengantar es batu di daerah kampus. Lantaran helm yang dipakai terlalu besar, dia kemudian melepas helm tersebut di sekitar Jembatan Semanggi. Begitu sampai di Jalan Jawa, pria ini selanjutnya terekam tidak menggunakan helm. “Di daerah Jalan Jawa salipan sama mobil polisi yang ada kameranya,” jelasnya.

Pria ini pun tak mengira jika dirinya yang sempat melepas helm justru terekam kamera e-tilang dan ditilang. “Dapat empat hari, di pabrik dipanggil sama bos kalau kena tilang. Ya, itu dah. Seperti itu,” ungkapnya. Hal itu kemudian diurus oleh kantor tempatnya bekerja, karena motor yang dipakai saat tertangkap e-tilang adalah motor milik perusahaan.

Cerita warga yang terkena e-tilang juga dialami warga Taman Gading, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates. “Itu tetangga. Kemarin, sempat ramai di grup RT,” kata Kuat Satozi, warga Taman Gading.

Menurutnya, penerapan e-tilang ramai menjadi pembahasan yang serius oleh beberapa orang. Warga disebutnya perlu mengetahui penerapannya di jalan mana saja atau seperti apa. Namun, terlepas dari pro dan kontra, e-tilang bisa menjadi pemicu agar masyarakat patuh terhadap peraturan lalu lintas di mana saja dan setiap saat. “Karena baru, tentu perlu dilakukan sosialisasi,” ucapnya.

Pengalaman warga Taman Gading ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Krisna. Yaitu tidak memakai helm dan terekam kamera. Polisi selanjutnya mengirimkan bukti-bukti pelanggaran sesuai alamat berdasarkan pelat nomor kendaraan.

Tak Dibalas, Blokir!

TIDAK hanya menjadi teguran bagi pengguna motor yang serampangan, tilang elektronik itu juga disebut-sebut bakal mendisiplinkan pengguna jalan agar lebih patuh. Sebab, penerapannya menyasar ke semua pengendara. Tanpa terkecuali. “Diberlakukan untuk semua. Baik roda dua maupun roda empat,” kata AKP Enggarani Laufria, Kasat Lantas Polres Jember.

Menurutnya, sejak sekitar enam bulan terakhir, kepolisian telah mulai menerapkan e-tilang di Jember. Polisi mengerahkan satu unit mobil yang disebut Integrated Node Capture Attitude Record (INCAR). Mobil itu bertugas berpatroli, memantau aktivitas kendaraan, berikut aktivitas para pengguna jalan.

Pada mobil tersebut, dilengkapi seperangkat kamera super canggih yang bisa menangkap gambar pengendara motor atau mobil yang ketahuan menerobos lampu merah, atau melaju di atas kecepatan rata-rata. Kemampuan kamera ini bahkan diakui bisa detail sampai ke pelat nomor kendaraan yang tertangkap kamera.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/