alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Guru Mapel Banyak yang Tidak Linier

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember masih mengalami krisis tenaga pendidik. Saat ini, kekurangan guru mencapai lebih dari seribu orang. Baik untuk SD negeri maupun SMP negeri. Paling mendesak adalah guru mata pelajaran (mapel). Di antaranya sejarah, olahraga bimbingan konseling (BK), dan guru pendidikan agama Islam (PAI). Dampaknya, banyak guru yang mengajar tidak linier dengan keilmuannya.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono menyebut, empat posisi guru mapel tersebut paling banyak dibutuhkan pada jenjang SMP. Karena saat ini, banyak guru bidang itu yang telah purna tugas. Otomatis jumlahnya jauh berkurang. Padahal posisinya sangat dibutuhkan sekolah.

Menurut dia, saat ini jumlah SD negeri di Jember sekitar 900 lembaga. Sedangkan jumlah guru PNS hanya 4.000-an orang. Jumlah ini mencakup SD dan SMP. Sehingga rasionya masih jomplang yakni 4:1. Artinya, rata-rata satu sekolah hanya punya empat guru PNS.

Mobile_AP_Rectangle 2

Supriyono menilai, rasio ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sehingga perlu ada peningkatan jumlah guru PNS di setiap lembaga agar kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih memadai. Ini juga untuk mencegah bertumpuknya guru mapel yang tidak linier dengan keilmuan mereka. “Di Jember memang masih banyak guru yang mengajar bukan bidangnya alias tidak linier,” ungkap Supriyono.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember masih mengalami krisis tenaga pendidik. Saat ini, kekurangan guru mencapai lebih dari seribu orang. Baik untuk SD negeri maupun SMP negeri. Paling mendesak adalah guru mata pelajaran (mapel). Di antaranya sejarah, olahraga bimbingan konseling (BK), dan guru pendidikan agama Islam (PAI). Dampaknya, banyak guru yang mengajar tidak linier dengan keilmuannya.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono menyebut, empat posisi guru mapel tersebut paling banyak dibutuhkan pada jenjang SMP. Karena saat ini, banyak guru bidang itu yang telah purna tugas. Otomatis jumlahnya jauh berkurang. Padahal posisinya sangat dibutuhkan sekolah.

Menurut dia, saat ini jumlah SD negeri di Jember sekitar 900 lembaga. Sedangkan jumlah guru PNS hanya 4.000-an orang. Jumlah ini mencakup SD dan SMP. Sehingga rasionya masih jomplang yakni 4:1. Artinya, rata-rata satu sekolah hanya punya empat guru PNS.

Supriyono menilai, rasio ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sehingga perlu ada peningkatan jumlah guru PNS di setiap lembaga agar kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih memadai. Ini juga untuk mencegah bertumpuknya guru mapel yang tidak linier dengan keilmuan mereka. “Di Jember memang masih banyak guru yang mengajar bukan bidangnya alias tidak linier,” ungkap Supriyono.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember masih mengalami krisis tenaga pendidik. Saat ini, kekurangan guru mencapai lebih dari seribu orang. Baik untuk SD negeri maupun SMP negeri. Paling mendesak adalah guru mata pelajaran (mapel). Di antaranya sejarah, olahraga bimbingan konseling (BK), dan guru pendidikan agama Islam (PAI). Dampaknya, banyak guru yang mengajar tidak linier dengan keilmuannya.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono menyebut, empat posisi guru mapel tersebut paling banyak dibutuhkan pada jenjang SMP. Karena saat ini, banyak guru bidang itu yang telah purna tugas. Otomatis jumlahnya jauh berkurang. Padahal posisinya sangat dibutuhkan sekolah.

Menurut dia, saat ini jumlah SD negeri di Jember sekitar 900 lembaga. Sedangkan jumlah guru PNS hanya 4.000-an orang. Jumlah ini mencakup SD dan SMP. Sehingga rasionya masih jomplang yakni 4:1. Artinya, rata-rata satu sekolah hanya punya empat guru PNS.

Supriyono menilai, rasio ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Sehingga perlu ada peningkatan jumlah guru PNS di setiap lembaga agar kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih memadai. Ini juga untuk mencegah bertumpuknya guru mapel yang tidak linier dengan keilmuan mereka. “Di Jember memang masih banyak guru yang mengajar bukan bidangnya alias tidak linier,” ungkap Supriyono.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/