alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Dulu Nasi Bungkus, Kini Sumbang Bingkisan

Mendedikasikan diri untuk bergabung dalam komunitas peduli duafa tidak mudah dilakukan. Banyak tantangan yang harus di lawan. Seperti waktu yang terbuang, keluar materi, hingga harus memeras tenaga karena kerap mendatangi rumah-rumah warga miskin.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi Komunitas Peduli Jenggawah, pekerjaan semacam itu sudah rutin dilakukan dua tahun terakhir. Perkumpulan ini pun tak memikirkan upah dari siapapun. Yang penting, warga miskin bisa mereka bantu semampunya.

Menurut ketua komunitas, Mistoro, perkumpulan sejumlah orang tersebut awalnya hanya sekadar membagi-bagikan nasi bungkus secara rutin. Yaitu dilakukan setiap hari Jumat di delapan desa, Kecamatan Jenggawah. “Sistem pembagiannya digilir dan dipilih warga yang tidak mampu,” kata pria yang datang ke kantor Jawa Pos Radar Jember bersama lima temannya, seperti Alfia, Hesti, Romla, Santi, dan Yuyun itu.

Mistoro menambahkan, kekompakan komunitas ini membuat kegiatan tersebut bisa berjalan rutin. Bahkan, setelah cukup lama berjalan, mereka pun mampu mengganti nasi bungkus menjadi bingkisan. “Dari delapan desa yang ada di Jenggawah, sudah lima desa yang juga ada relawannya. Tiga desa ada tetapi masih minim,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengenai bingkisan tersebut, Alfia anggota komunitas menjelaskan, hal itu merupakan pengganti nasi bungkus. Bingkisan dinilai lebih efektif karena bisa disimpan oleh penerimanya. “Untuk bingkisannya berisi sembako. Ada beras, gula, minyak, mie instant serta beberapa bahan pokok lain. Itu pengganti nasi bungkus. Tetapi untuk nasi bungkus juga tetap kami lakukan dan semuanya masak sendiri,” jelasnya.

Disinggung terkait pendanaan komunitas, Alfia menyebut, hal itu didapatkan dari sumbangan sukarelawan. Terutama dari mereka yang tergabung di Komunitas Peduli Jenggawah. “Donatur tetap untuk kami belum ada, tetapi sumbangan-sumbangan dari sukarelawan sudah cukup banyak,” jelasnya.

Pembanguan nasi bungkus yang kini berubah menjadi bingkisan terus dilakukan. Warga yang memperoleh pun dipastikan tepat sasaran karena anggota komunitas turun langsung menemui warga miskin yang benar-benar membutuhkan. “Jadi warga yang benar-benar miskin juga kami data. Semoga ke depan komunitas ini tetap bisa membantu mereka yang membutuhkan,” tegasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi Komunitas Peduli Jenggawah, pekerjaan semacam itu sudah rutin dilakukan dua tahun terakhir. Perkumpulan ini pun tak memikirkan upah dari siapapun. Yang penting, warga miskin bisa mereka bantu semampunya.

Menurut ketua komunitas, Mistoro, perkumpulan sejumlah orang tersebut awalnya hanya sekadar membagi-bagikan nasi bungkus secara rutin. Yaitu dilakukan setiap hari Jumat di delapan desa, Kecamatan Jenggawah. “Sistem pembagiannya digilir dan dipilih warga yang tidak mampu,” kata pria yang datang ke kantor Jawa Pos Radar Jember bersama lima temannya, seperti Alfia, Hesti, Romla, Santi, dan Yuyun itu.

Mistoro menambahkan, kekompakan komunitas ini membuat kegiatan tersebut bisa berjalan rutin. Bahkan, setelah cukup lama berjalan, mereka pun mampu mengganti nasi bungkus menjadi bingkisan. “Dari delapan desa yang ada di Jenggawah, sudah lima desa yang juga ada relawannya. Tiga desa ada tetapi masih minim,” ucapnya.

Mengenai bingkisan tersebut, Alfia anggota komunitas menjelaskan, hal itu merupakan pengganti nasi bungkus. Bingkisan dinilai lebih efektif karena bisa disimpan oleh penerimanya. “Untuk bingkisannya berisi sembako. Ada beras, gula, minyak, mie instant serta beberapa bahan pokok lain. Itu pengganti nasi bungkus. Tetapi untuk nasi bungkus juga tetap kami lakukan dan semuanya masak sendiri,” jelasnya.

Disinggung terkait pendanaan komunitas, Alfia menyebut, hal itu didapatkan dari sumbangan sukarelawan. Terutama dari mereka yang tergabung di Komunitas Peduli Jenggawah. “Donatur tetap untuk kami belum ada, tetapi sumbangan-sumbangan dari sukarelawan sudah cukup banyak,” jelasnya.

Pembanguan nasi bungkus yang kini berubah menjadi bingkisan terus dilakukan. Warga yang memperoleh pun dipastikan tepat sasaran karena anggota komunitas turun langsung menemui warga miskin yang benar-benar membutuhkan. “Jadi warga yang benar-benar miskin juga kami data. Semoga ke depan komunitas ini tetap bisa membantu mereka yang membutuhkan,” tegasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi Komunitas Peduli Jenggawah, pekerjaan semacam itu sudah rutin dilakukan dua tahun terakhir. Perkumpulan ini pun tak memikirkan upah dari siapapun. Yang penting, warga miskin bisa mereka bantu semampunya.

Menurut ketua komunitas, Mistoro, perkumpulan sejumlah orang tersebut awalnya hanya sekadar membagi-bagikan nasi bungkus secara rutin. Yaitu dilakukan setiap hari Jumat di delapan desa, Kecamatan Jenggawah. “Sistem pembagiannya digilir dan dipilih warga yang tidak mampu,” kata pria yang datang ke kantor Jawa Pos Radar Jember bersama lima temannya, seperti Alfia, Hesti, Romla, Santi, dan Yuyun itu.

Mistoro menambahkan, kekompakan komunitas ini membuat kegiatan tersebut bisa berjalan rutin. Bahkan, setelah cukup lama berjalan, mereka pun mampu mengganti nasi bungkus menjadi bingkisan. “Dari delapan desa yang ada di Jenggawah, sudah lima desa yang juga ada relawannya. Tiga desa ada tetapi masih minim,” ucapnya.

Mengenai bingkisan tersebut, Alfia anggota komunitas menjelaskan, hal itu merupakan pengganti nasi bungkus. Bingkisan dinilai lebih efektif karena bisa disimpan oleh penerimanya. “Untuk bingkisannya berisi sembako. Ada beras, gula, minyak, mie instant serta beberapa bahan pokok lain. Itu pengganti nasi bungkus. Tetapi untuk nasi bungkus juga tetap kami lakukan dan semuanya masak sendiri,” jelasnya.

Disinggung terkait pendanaan komunitas, Alfia menyebut, hal itu didapatkan dari sumbangan sukarelawan. Terutama dari mereka yang tergabung di Komunitas Peduli Jenggawah. “Donatur tetap untuk kami belum ada, tetapi sumbangan-sumbangan dari sukarelawan sudah cukup banyak,” jelasnya.

Pembanguan nasi bungkus yang kini berubah menjadi bingkisan terus dilakukan. Warga yang memperoleh pun dipastikan tepat sasaran karena anggota komunitas turun langsung menemui warga miskin yang benar-benar membutuhkan. “Jadi warga yang benar-benar miskin juga kami data. Semoga ke depan komunitas ini tetap bisa membantu mereka yang membutuhkan,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/