alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Sebut Semua Binatang, Begini Teror Penagih Pinjol

Cerita Nasabah yang Terkena Teror Penagih Pinjol

Mobile_AP_Rectangle 1

Tindakan tersebut membuat Dani enggan untuk meminjam lagi pada jasa pinjol. Sebab, dia khawatir pihak penyedia jasa pinjol mengetahui pola yang dia lakukan dalam menghadapi berbagai bentuk tagihan seperti sebelumnya.

Pakar psikologi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Indah Roziah, mengatakan, tindakan yang dilakukan nasabah itu bukanlah cara yang relevan dalam memproteksi diri dari penagihan pinjol. Bahkan, kebiasaan tersebut justru akan membuatnya semakin berputar dalam lingkaran penagihan pinjol.

Indah menyebut, memang bagi sebagian orang cara seperti itu bisa menyelamatkan diri mereka. Tapi, jika dilakukan terus-menerus, ada potensi nantinya justru menyulitkan mereka sendiri. Sebab, penyedia pinjol itu bisa membaca siasat dan pola yang dilakukan oleh nasabah. “Karena perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang,” tutur dosen Fakultas Dakwah itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kemungkinan kedua, cara yang dilakukan nasabah itu bukanlah sebuah kebiasaan, namun karena keterbatasan ekonomi yang membuatnya tidak mampu membayar sesuai perjanjian awal. Karenanya, dia berkelit, memutus akses kontak, dan memberi tanggapan lain kepada penagih. Sebenarnya, dia menilai, kedua pihak sama saja. Penagih melakukan penagihan dengan keras atau teror, kemudian yang ditagih atau nasabah juga menantang penagihnya. “Sebenarnya nasabah yang ditagih ini bisa menggunakan cara lain, yakni dengan cicilan atau meminta agar waktu peminjamannnya diperpanjang,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Delfi Nihayah

Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Tindakan tersebut membuat Dani enggan untuk meminjam lagi pada jasa pinjol. Sebab, dia khawatir pihak penyedia jasa pinjol mengetahui pola yang dia lakukan dalam menghadapi berbagai bentuk tagihan seperti sebelumnya.

Pakar psikologi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Indah Roziah, mengatakan, tindakan yang dilakukan nasabah itu bukanlah cara yang relevan dalam memproteksi diri dari penagihan pinjol. Bahkan, kebiasaan tersebut justru akan membuatnya semakin berputar dalam lingkaran penagihan pinjol.

Indah menyebut, memang bagi sebagian orang cara seperti itu bisa menyelamatkan diri mereka. Tapi, jika dilakukan terus-menerus, ada potensi nantinya justru menyulitkan mereka sendiri. Sebab, penyedia pinjol itu bisa membaca siasat dan pola yang dilakukan oleh nasabah. “Karena perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang,” tutur dosen Fakultas Dakwah itu.

Kemungkinan kedua, cara yang dilakukan nasabah itu bukanlah sebuah kebiasaan, namun karena keterbatasan ekonomi yang membuatnya tidak mampu membayar sesuai perjanjian awal. Karenanya, dia berkelit, memutus akses kontak, dan memberi tanggapan lain kepada penagih. Sebenarnya, dia menilai, kedua pihak sama saja. Penagih melakukan penagihan dengan keras atau teror, kemudian yang ditagih atau nasabah juga menantang penagihnya. “Sebenarnya nasabah yang ditagih ini bisa menggunakan cara lain, yakni dengan cicilan atau meminta agar waktu peminjamannnya diperpanjang,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Delfi Nihayah

Editor : Mahrus Sholih

Tindakan tersebut membuat Dani enggan untuk meminjam lagi pada jasa pinjol. Sebab, dia khawatir pihak penyedia jasa pinjol mengetahui pola yang dia lakukan dalam menghadapi berbagai bentuk tagihan seperti sebelumnya.

Pakar psikologi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Indah Roziah, mengatakan, tindakan yang dilakukan nasabah itu bukanlah cara yang relevan dalam memproteksi diri dari penagihan pinjol. Bahkan, kebiasaan tersebut justru akan membuatnya semakin berputar dalam lingkaran penagihan pinjol.

Indah menyebut, memang bagi sebagian orang cara seperti itu bisa menyelamatkan diri mereka. Tapi, jika dilakukan terus-menerus, ada potensi nantinya justru menyulitkan mereka sendiri. Sebab, penyedia pinjol itu bisa membaca siasat dan pola yang dilakukan oleh nasabah. “Karena perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang,” tutur dosen Fakultas Dakwah itu.

Kemungkinan kedua, cara yang dilakukan nasabah itu bukanlah sebuah kebiasaan, namun karena keterbatasan ekonomi yang membuatnya tidak mampu membayar sesuai perjanjian awal. Karenanya, dia berkelit, memutus akses kontak, dan memberi tanggapan lain kepada penagih. Sebenarnya, dia menilai, kedua pihak sama saja. Penagih melakukan penagihan dengan keras atau teror, kemudian yang ditagih atau nasabah juga menantang penagihnya. “Sebenarnya nasabah yang ditagih ini bisa menggunakan cara lain, yakni dengan cicilan atau meminta agar waktu peminjamannnya diperpanjang,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Delfi Nihayah

Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/