alexametrics
24.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Cobaan Para Nelayan yang Modal Solar Tak Kembali

Akibat Tangkapan Ikan Nelayan Sepi

Mobile_AP_Rectangle 1

PASEBAN, RADARJEMBER.ID – Pasang surutnya laut bisa menggambarkan nasib nelayan yang mengais rezeki di pantai Desa Paseban, Kecamatan Kencong. Dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang pulang tanpa bisa menutup modal yang telah dikeluarkan. Alhasil, mereka rugi waktu, tenaga, dan uang yang digunakan membeli solar.

Sepinya hasil tangkapan itu disampaikan Suraji, nelayan asal Dusun Karanganyar, desa setempat. Dikatakan, perahu nelayan dengan kapasitas tiga sampai lima orang rata-rata bernasib sama. “Sepi karena ombaknya cukup besar. Tadi, saya sampai ke sana,” kata Suraji sambil menunjuk ke tengah laut.

Suraji mengaku, dirinya memiliki dua perahu dengan kapasitas tiga sampai lima nelayan. Dia melaut sebelum Subuh dan kembali ke pinggir pantai sekitar pukul 11.00. “Dapat ikan sedikit. Tidak cukup untuk modal solarnya saja,” papar pria yang kala itu berdiri di samping perahunya. Setiap kali melaut, Suraji atau nelayan lain yang memiliki kapal serupa setidaknya membutuhkan 10 liter solar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tangkapan ikan yang minim tersebut membuat Suraji dan teman-temannya pasrah. Menurutnya, masih ada hari esok untuk kembali melaut dan berharap agar tangkapan ikan bisa lebih banyak demi mendapatkan untung. “Selain ombak, di pantai ini jarang ikan karena limbah tambak. Nelayan berharap melaut cukup dua tiga mil saja. Tetapi, sekarang harus lebih jauh,” ungkapnya.

Sepinya tangkapan ikan juga dirasakan oleh nelayan lain. Lantaran ikan sedikit, proses penjualannya tak sampai dilakukan ke pasar atau dijual ke pedagang. Ikan tangkapan nelayan itu dijual kepada warga yang kebetulan berkunjung ke Pantai Paseban. “Sisanya dibagi biar dibawa pulang,” papar seorang nelayan yang menawarkan ikan tangkapannya kepada warga di perahunya.

- Advertisement -

PASEBAN, RADARJEMBER.ID – Pasang surutnya laut bisa menggambarkan nasib nelayan yang mengais rezeki di pantai Desa Paseban, Kecamatan Kencong. Dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang pulang tanpa bisa menutup modal yang telah dikeluarkan. Alhasil, mereka rugi waktu, tenaga, dan uang yang digunakan membeli solar.

Sepinya hasil tangkapan itu disampaikan Suraji, nelayan asal Dusun Karanganyar, desa setempat. Dikatakan, perahu nelayan dengan kapasitas tiga sampai lima orang rata-rata bernasib sama. “Sepi karena ombaknya cukup besar. Tadi, saya sampai ke sana,” kata Suraji sambil menunjuk ke tengah laut.

Suraji mengaku, dirinya memiliki dua perahu dengan kapasitas tiga sampai lima nelayan. Dia melaut sebelum Subuh dan kembali ke pinggir pantai sekitar pukul 11.00. “Dapat ikan sedikit. Tidak cukup untuk modal solarnya saja,” papar pria yang kala itu berdiri di samping perahunya. Setiap kali melaut, Suraji atau nelayan lain yang memiliki kapal serupa setidaknya membutuhkan 10 liter solar.

Tangkapan ikan yang minim tersebut membuat Suraji dan teman-temannya pasrah. Menurutnya, masih ada hari esok untuk kembali melaut dan berharap agar tangkapan ikan bisa lebih banyak demi mendapatkan untung. “Selain ombak, di pantai ini jarang ikan karena limbah tambak. Nelayan berharap melaut cukup dua tiga mil saja. Tetapi, sekarang harus lebih jauh,” ungkapnya.

Sepinya tangkapan ikan juga dirasakan oleh nelayan lain. Lantaran ikan sedikit, proses penjualannya tak sampai dilakukan ke pasar atau dijual ke pedagang. Ikan tangkapan nelayan itu dijual kepada warga yang kebetulan berkunjung ke Pantai Paseban. “Sisanya dibagi biar dibawa pulang,” papar seorang nelayan yang menawarkan ikan tangkapannya kepada warga di perahunya.

PASEBAN, RADARJEMBER.ID – Pasang surutnya laut bisa menggambarkan nasib nelayan yang mengais rezeki di pantai Desa Paseban, Kecamatan Kencong. Dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang pulang tanpa bisa menutup modal yang telah dikeluarkan. Alhasil, mereka rugi waktu, tenaga, dan uang yang digunakan membeli solar.

Sepinya hasil tangkapan itu disampaikan Suraji, nelayan asal Dusun Karanganyar, desa setempat. Dikatakan, perahu nelayan dengan kapasitas tiga sampai lima orang rata-rata bernasib sama. “Sepi karena ombaknya cukup besar. Tadi, saya sampai ke sana,” kata Suraji sambil menunjuk ke tengah laut.

Suraji mengaku, dirinya memiliki dua perahu dengan kapasitas tiga sampai lima nelayan. Dia melaut sebelum Subuh dan kembali ke pinggir pantai sekitar pukul 11.00. “Dapat ikan sedikit. Tidak cukup untuk modal solarnya saja,” papar pria yang kala itu berdiri di samping perahunya. Setiap kali melaut, Suraji atau nelayan lain yang memiliki kapal serupa setidaknya membutuhkan 10 liter solar.

Tangkapan ikan yang minim tersebut membuat Suraji dan teman-temannya pasrah. Menurutnya, masih ada hari esok untuk kembali melaut dan berharap agar tangkapan ikan bisa lebih banyak demi mendapatkan untung. “Selain ombak, di pantai ini jarang ikan karena limbah tambak. Nelayan berharap melaut cukup dua tiga mil saja. Tetapi, sekarang harus lebih jauh,” ungkapnya.

Sepinya tangkapan ikan juga dirasakan oleh nelayan lain. Lantaran ikan sedikit, proses penjualannya tak sampai dilakukan ke pasar atau dijual ke pedagang. Ikan tangkapan nelayan itu dijual kepada warga yang kebetulan berkunjung ke Pantai Paseban. “Sisanya dibagi biar dibawa pulang,” papar seorang nelayan yang menawarkan ikan tangkapannya kepada warga di perahunya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/