alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Reproduksi Terganggu, Pencegahan Terus Dilakukan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PERNIKAHAN dini banyak ditemui di tengah masyarakat, khususnya di daerah perdesaan. Kondisi ini sulit dibendung, bahkan dianggap wajar-wajar saja alias bukan sebuah problem. Padahal nikah muda bisa berdampak pada kesehatan reproduksi. Bahkan ancaman nyata terhadap kasus kematian ibu dan anak, karena belum siap menikah atau belum matang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember Dwi Handasari mengatakan, pernikahan dini sangat tidak dianjurkan. Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan reproduksi perempuan. “Idealnya, perempuan siap menikah pada usia 19 tahun. Di bawah itu tidak baik untuk kesehatan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (28/5).

Dalam kasus pernikahan dini, yang paling dirugikan adalah perempuan. Ketika alat reproduksi perempuan itu disentuh atau bahkan melahirkan, akan berpotensi membahayakan kepada perempuan. Akhirnya, biasanya dilakukan dengan operasi Caesar. “Pernikahan dini, alat reproduksi perempuan belum matang,” terangnya. Oleh karena itu, tidak heran jika angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Jember banyak. Salah satunya karena faktor nikah dini atau belum siap menikah.

Nikah Muda, Siklus Kurang Diurus

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, kasus AKI di Jember yang terjadi pada rentang waktu 2020 sampai 2022 jumlahnya mencapai 194 kasus. Pada tahun 2020 terjadi 61 kasus, tahun 2021 sebanyak 115 kematian, dan tahun 2022 ada 18 ibu meninggal. “Pada tahun 2022 terhitung mulai bulan Januari sampai April, sedangkan yang Mei masih belum di-update,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PERNIKAHAN dini banyak ditemui di tengah masyarakat, khususnya di daerah perdesaan. Kondisi ini sulit dibendung, bahkan dianggap wajar-wajar saja alias bukan sebuah problem. Padahal nikah muda bisa berdampak pada kesehatan reproduksi. Bahkan ancaman nyata terhadap kasus kematian ibu dan anak, karena belum siap menikah atau belum matang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember Dwi Handasari mengatakan, pernikahan dini sangat tidak dianjurkan. Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan reproduksi perempuan. “Idealnya, perempuan siap menikah pada usia 19 tahun. Di bawah itu tidak baik untuk kesehatan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (28/5).

Dalam kasus pernikahan dini, yang paling dirugikan adalah perempuan. Ketika alat reproduksi perempuan itu disentuh atau bahkan melahirkan, akan berpotensi membahayakan kepada perempuan. Akhirnya, biasanya dilakukan dengan operasi Caesar. “Pernikahan dini, alat reproduksi perempuan belum matang,” terangnya. Oleh karena itu, tidak heran jika angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Jember banyak. Salah satunya karena faktor nikah dini atau belum siap menikah.

Nikah Muda, Siklus Kurang Diurus

Sementara itu, kasus AKI di Jember yang terjadi pada rentang waktu 2020 sampai 2022 jumlahnya mencapai 194 kasus. Pada tahun 2020 terjadi 61 kasus, tahun 2021 sebanyak 115 kematian, dan tahun 2022 ada 18 ibu meninggal. “Pada tahun 2022 terhitung mulai bulan Januari sampai April, sedangkan yang Mei masih belum di-update,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PERNIKAHAN dini banyak ditemui di tengah masyarakat, khususnya di daerah perdesaan. Kondisi ini sulit dibendung, bahkan dianggap wajar-wajar saja alias bukan sebuah problem. Padahal nikah muda bisa berdampak pada kesehatan reproduksi. Bahkan ancaman nyata terhadap kasus kematian ibu dan anak, karena belum siap menikah atau belum matang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember Dwi Handasari mengatakan, pernikahan dini sangat tidak dianjurkan. Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan reproduksi perempuan. “Idealnya, perempuan siap menikah pada usia 19 tahun. Di bawah itu tidak baik untuk kesehatan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (28/5).

Dalam kasus pernikahan dini, yang paling dirugikan adalah perempuan. Ketika alat reproduksi perempuan itu disentuh atau bahkan melahirkan, akan berpotensi membahayakan kepada perempuan. Akhirnya, biasanya dilakukan dengan operasi Caesar. “Pernikahan dini, alat reproduksi perempuan belum matang,” terangnya. Oleh karena itu, tidak heran jika angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Jember banyak. Salah satunya karena faktor nikah dini atau belum siap menikah.

Nikah Muda, Siklus Kurang Diurus

Sementara itu, kasus AKI di Jember yang terjadi pada rentang waktu 2020 sampai 2022 jumlahnya mencapai 194 kasus. Pada tahun 2020 terjadi 61 kasus, tahun 2021 sebanyak 115 kematian, dan tahun 2022 ada 18 ibu meninggal. “Pada tahun 2022 terhitung mulai bulan Januari sampai April, sedangkan yang Mei masih belum di-update,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/