alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Belajar Daring Terkendala Sinyal, Tak Semua Punya Gawai

Dampak belajar di rumah sejak wabah korona masuk Jember cukup dirasakan dunia pendidikan. Termasuk pendidikan di pondok pesantren. Sekalipun belajar mengajar bisa dilakukan dengan jarak jauh, tetapi nyatanya tak berjalan efektif.

Mobile_AP_Rectangle 1

Hadirnya wabah korona di Jember memang memberi dampak signifikan bagi sejumlah hal. Termasuk pendidikan di pondok pesantrennya. Bukan saja pendidikan agama, tetapi juga SMP dan SMK yang ada di pondok. Untuk itulah, perlu solusi agar sistem belajar-mengajar para santri tersebut bisa dilakukan dengan baik dan efektif.

Imron mengaku, sejak ada wabah korona, segala aktivitas di pondoknya mengikuti protokol penanganan Covid-19. Akan tetapi, aktivitas belajar mengajar menjadi mandek. “Sebelum santri pulang, protokol kesehatan penanganan Covid-19 juga kami lakukan. Tetapi sejak pulang beberapa waktu lalu, agenda belajar mengajar sudah sulit dilakukan,” ulasnya.

Imron mengaku, banyak para wali santri yang datang ke pondok untuk menanyakan perihal kapan santri bisa kembali. Di tengah pandemi korona yang demikian ini, Imron butuh solusi, sehingga aktivitas bisa kembali normal seperti sebelum ada korona. “Banyak wali santri yang ingin agar putra-putri mereka kembali ke pondok. Kami membutuhkan solusinya,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keinginan para wali santri agar putra-putrinya segera kembali ke pondok bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Ada yang ikut pergaulan di luar sehingga nuansa kesantriannya terancam pudar. Ada yang tidak belajar dan beberapa faktor lain. “Para wali santri pula alasan bermacam-macam. Tetapi yang terpenting, belajar mengajar di pondok ini tidak efektif jika jarak jauh. Sinyal di beberapa desa asal santri sulit dan banyak santri yang tidak punya Android,” pungkasnya.

- Advertisement -

Hadirnya wabah korona di Jember memang memberi dampak signifikan bagi sejumlah hal. Termasuk pendidikan di pondok pesantrennya. Bukan saja pendidikan agama, tetapi juga SMP dan SMK yang ada di pondok. Untuk itulah, perlu solusi agar sistem belajar-mengajar para santri tersebut bisa dilakukan dengan baik dan efektif.

Imron mengaku, sejak ada wabah korona, segala aktivitas di pondoknya mengikuti protokol penanganan Covid-19. Akan tetapi, aktivitas belajar mengajar menjadi mandek. “Sebelum santri pulang, protokol kesehatan penanganan Covid-19 juga kami lakukan. Tetapi sejak pulang beberapa waktu lalu, agenda belajar mengajar sudah sulit dilakukan,” ulasnya.

Imron mengaku, banyak para wali santri yang datang ke pondok untuk menanyakan perihal kapan santri bisa kembali. Di tengah pandemi korona yang demikian ini, Imron butuh solusi, sehingga aktivitas bisa kembali normal seperti sebelum ada korona. “Banyak wali santri yang ingin agar putra-putri mereka kembali ke pondok. Kami membutuhkan solusinya,” jelasnya.

Keinginan para wali santri agar putra-putrinya segera kembali ke pondok bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Ada yang ikut pergaulan di luar sehingga nuansa kesantriannya terancam pudar. Ada yang tidak belajar dan beberapa faktor lain. “Para wali santri pula alasan bermacam-macam. Tetapi yang terpenting, belajar mengajar di pondok ini tidak efektif jika jarak jauh. Sinyal di beberapa desa asal santri sulit dan banyak santri yang tidak punya Android,” pungkasnya.

Hadirnya wabah korona di Jember memang memberi dampak signifikan bagi sejumlah hal. Termasuk pendidikan di pondok pesantrennya. Bukan saja pendidikan agama, tetapi juga SMP dan SMK yang ada di pondok. Untuk itulah, perlu solusi agar sistem belajar-mengajar para santri tersebut bisa dilakukan dengan baik dan efektif.

Imron mengaku, sejak ada wabah korona, segala aktivitas di pondoknya mengikuti protokol penanganan Covid-19. Akan tetapi, aktivitas belajar mengajar menjadi mandek. “Sebelum santri pulang, protokol kesehatan penanganan Covid-19 juga kami lakukan. Tetapi sejak pulang beberapa waktu lalu, agenda belajar mengajar sudah sulit dilakukan,” ulasnya.

Imron mengaku, banyak para wali santri yang datang ke pondok untuk menanyakan perihal kapan santri bisa kembali. Di tengah pandemi korona yang demikian ini, Imron butuh solusi, sehingga aktivitas bisa kembali normal seperti sebelum ada korona. “Banyak wali santri yang ingin agar putra-putri mereka kembali ke pondok. Kami membutuhkan solusinya,” jelasnya.

Keinginan para wali santri agar putra-putrinya segera kembali ke pondok bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Ada yang ikut pergaulan di luar sehingga nuansa kesantriannya terancam pudar. Ada yang tidak belajar dan beberapa faktor lain. “Para wali santri pula alasan bermacam-macam. Tetapi yang terpenting, belajar mengajar di pondok ini tidak efektif jika jarak jauh. Sinyal di beberapa desa asal santri sulit dan banyak santri yang tidak punya Android,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/