alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Belajar Daring Terkendala Sinyal, Tak Semua Punya Gawai

Dampak belajar di rumah sejak wabah korona masuk Jember cukup dirasakan dunia pendidikan. Termasuk pendidikan di pondok pesantren. Sekalipun belajar mengajar bisa dilakukan dengan jarak jauh, tetapi nyatanya tak berjalan efektif.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Latifiah, di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, terlihat beraktivitas di depan asrama. Lebaran tahun ini sebagian santri ada yang tidak mudik ke kampung halaman akibat pandemi Covid-19. Mereka pun memanfaatkan waktu senggang untuk memperdalam ilmu agama, juga membersihkan kompleks pesantren.

Selain santri yang bermukim di asrama, beberapa santri di ponpes tersebut juga ada yang pulang ke rumah masing-masing. Biasanya, mereka yang pulang itu adalah yang rumahnya berada tak jauh dari pesantren dan beberapa perdesaan Jember. Dampaknya, mereka tak bisa belajar dengan bimbingan guru di pesantren. Sebab, proses belajar-mengajar jarak jauh dinilai kurang efektif lantaran terkendala beberapa faktor.

Pengasuh Ponpes Latifiah, Imron Baihaqi menyebut, beberapa kendala yang dihadapi para santri saat belajar jarak jauh adalah sinyal. “Santri putri ada sekitar 180-an dan putra 120-an. Mereka ini mayoritas adalah anak desa. Sehingga saat belajar melalui online susah mendapat sinyal,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Imron yang juga anggota DPRD Jember ini mengungkapkan, kondisi perekonomian wali santri juga tidak semuanya mampu. Banyak dari mereka yang tidak memiliki fasilitas gawai (gadget). Sehingga, belajar-mengajar secara daring tidak mungkin dilakukan. “Sinyalnya susah, ditambah mayoritas santri tidak punya Android. Jadi bagaimana mau belajar jarak jauh,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Latifiah, di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, terlihat beraktivitas di depan asrama. Lebaran tahun ini sebagian santri ada yang tidak mudik ke kampung halaman akibat pandemi Covid-19. Mereka pun memanfaatkan waktu senggang untuk memperdalam ilmu agama, juga membersihkan kompleks pesantren.

Selain santri yang bermukim di asrama, beberapa santri di ponpes tersebut juga ada yang pulang ke rumah masing-masing. Biasanya, mereka yang pulang itu adalah yang rumahnya berada tak jauh dari pesantren dan beberapa perdesaan Jember. Dampaknya, mereka tak bisa belajar dengan bimbingan guru di pesantren. Sebab, proses belajar-mengajar jarak jauh dinilai kurang efektif lantaran terkendala beberapa faktor.

Pengasuh Ponpes Latifiah, Imron Baihaqi menyebut, beberapa kendala yang dihadapi para santri saat belajar jarak jauh adalah sinyal. “Santri putri ada sekitar 180-an dan putra 120-an. Mereka ini mayoritas adalah anak desa. Sehingga saat belajar melalui online susah mendapat sinyal,” ucapnya.

Imron yang juga anggota DPRD Jember ini mengungkapkan, kondisi perekonomian wali santri juga tidak semuanya mampu. Banyak dari mereka yang tidak memiliki fasilitas gawai (gadget). Sehingga, belajar-mengajar secara daring tidak mungkin dilakukan. “Sinyalnya susah, ditambah mayoritas santri tidak punya Android. Jadi bagaimana mau belajar jarak jauh,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Latifiah, di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, terlihat beraktivitas di depan asrama. Lebaran tahun ini sebagian santri ada yang tidak mudik ke kampung halaman akibat pandemi Covid-19. Mereka pun memanfaatkan waktu senggang untuk memperdalam ilmu agama, juga membersihkan kompleks pesantren.

Selain santri yang bermukim di asrama, beberapa santri di ponpes tersebut juga ada yang pulang ke rumah masing-masing. Biasanya, mereka yang pulang itu adalah yang rumahnya berada tak jauh dari pesantren dan beberapa perdesaan Jember. Dampaknya, mereka tak bisa belajar dengan bimbingan guru di pesantren. Sebab, proses belajar-mengajar jarak jauh dinilai kurang efektif lantaran terkendala beberapa faktor.

Pengasuh Ponpes Latifiah, Imron Baihaqi menyebut, beberapa kendala yang dihadapi para santri saat belajar jarak jauh adalah sinyal. “Santri putri ada sekitar 180-an dan putra 120-an. Mereka ini mayoritas adalah anak desa. Sehingga saat belajar melalui online susah mendapat sinyal,” ucapnya.

Imron yang juga anggota DPRD Jember ini mengungkapkan, kondisi perekonomian wali santri juga tidak semuanya mampu. Banyak dari mereka yang tidak memiliki fasilitas gawai (gadget). Sehingga, belajar-mengajar secara daring tidak mungkin dilakukan. “Sinyalnya susah, ditambah mayoritas santri tidak punya Android. Jadi bagaimana mau belajar jarak jauh,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/