alexametrics
31.2 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Lebaran Diprediksi Senin, MUI Imbau Tetap Ikut Pemerintah

Sambung Silaturahmi, Kukuhkan Persaudaraan

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebagaimana diketahui, dalam penghitungan awal Ramadan dan jatuhnya Idul Fitri, ada perbedaan metode. Melalui hisab (perhitungan penanggalan) ataupun pemantauan hilal. Sementara itu, penghitungan yang dilakukan oleh MUI menggunakan dua metode itu sekaligus.

Kemudian, hasilnya dikirim atau direkomendasikan ke MUI pusat agar menjadi rujukan pemerintah menetapkan Idul Fitri, 1 Syawal 1443 H/2022 M. Selain itu, hasil perhitungan tersebut juga direkomendasikan ke pengurus ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dan lainnya. Walaupun beberapa ormas Islam juga melakukan perhitungan sendiri dalam penetapan 1 Syawal. “Pemerintah punya hak isbat (menetapkan, Red) Idul Fitri. Keputusan pemerintah mengikat pada semua warga. Ormas hanya punya hak ikhbar (meng-khabar-kan) untuk internal organisasi,” jelasnya.

Lebih jauh, pria yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ini menambahkan, kalaupun ada perbedaan, sejatinya bukan untuk disoal. Menurutnya, perbedaan awal Ramadan dan jatuhnya 1 Syawal itu sama-sama memiliki dasar dan harus saling dihormati. “Perbedaan memasuki awal Ramadan ataupun 1 Syawal sudah biasa. Mari kita bijak menyikapi dengan tasamuh dan saling menghargai,” pintanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena itu, pihaknya juga menyerukan masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan toleran, kekeluargaan, dan kerukunan. “Mari Lebaran ini kita jadikan momen merajut kembali hubungan silaturahmi, yang sempat terkendala pandemi selama dua tahun terakhir,” harapnya. (mau/c2/nur)

- Advertisement -

Sebagaimana diketahui, dalam penghitungan awal Ramadan dan jatuhnya Idul Fitri, ada perbedaan metode. Melalui hisab (perhitungan penanggalan) ataupun pemantauan hilal. Sementara itu, penghitungan yang dilakukan oleh MUI menggunakan dua metode itu sekaligus.

Kemudian, hasilnya dikirim atau direkomendasikan ke MUI pusat agar menjadi rujukan pemerintah menetapkan Idul Fitri, 1 Syawal 1443 H/2022 M. Selain itu, hasil perhitungan tersebut juga direkomendasikan ke pengurus ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dan lainnya. Walaupun beberapa ormas Islam juga melakukan perhitungan sendiri dalam penetapan 1 Syawal. “Pemerintah punya hak isbat (menetapkan, Red) Idul Fitri. Keputusan pemerintah mengikat pada semua warga. Ormas hanya punya hak ikhbar (meng-khabar-kan) untuk internal organisasi,” jelasnya.

Lebih jauh, pria yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ini menambahkan, kalaupun ada perbedaan, sejatinya bukan untuk disoal. Menurutnya, perbedaan awal Ramadan dan jatuhnya 1 Syawal itu sama-sama memiliki dasar dan harus saling dihormati. “Perbedaan memasuki awal Ramadan ataupun 1 Syawal sudah biasa. Mari kita bijak menyikapi dengan tasamuh dan saling menghargai,” pintanya.

Karena itu, pihaknya juga menyerukan masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan toleran, kekeluargaan, dan kerukunan. “Mari Lebaran ini kita jadikan momen merajut kembali hubungan silaturahmi, yang sempat terkendala pandemi selama dua tahun terakhir,” harapnya. (mau/c2/nur)

Sebagaimana diketahui, dalam penghitungan awal Ramadan dan jatuhnya Idul Fitri, ada perbedaan metode. Melalui hisab (perhitungan penanggalan) ataupun pemantauan hilal. Sementara itu, penghitungan yang dilakukan oleh MUI menggunakan dua metode itu sekaligus.

Kemudian, hasilnya dikirim atau direkomendasikan ke MUI pusat agar menjadi rujukan pemerintah menetapkan Idul Fitri, 1 Syawal 1443 H/2022 M. Selain itu, hasil perhitungan tersebut juga direkomendasikan ke pengurus ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dan lainnya. Walaupun beberapa ormas Islam juga melakukan perhitungan sendiri dalam penetapan 1 Syawal. “Pemerintah punya hak isbat (menetapkan, Red) Idul Fitri. Keputusan pemerintah mengikat pada semua warga. Ormas hanya punya hak ikhbar (meng-khabar-kan) untuk internal organisasi,” jelasnya.

Lebih jauh, pria yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ini menambahkan, kalaupun ada perbedaan, sejatinya bukan untuk disoal. Menurutnya, perbedaan awal Ramadan dan jatuhnya 1 Syawal itu sama-sama memiliki dasar dan harus saling dihormati. “Perbedaan memasuki awal Ramadan ataupun 1 Syawal sudah biasa. Mari kita bijak menyikapi dengan tasamuh dan saling menghargai,” pintanya.

Karena itu, pihaknya juga menyerukan masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan toleran, kekeluargaan, dan kerukunan. “Mari Lebaran ini kita jadikan momen merajut kembali hubungan silaturahmi, yang sempat terkendala pandemi selama dua tahun terakhir,” harapnya. (mau/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/