alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Alumnus UIN KHAS Jember : Kerja Itu Ibadah, Rezeki Itu Jatah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa tidak kenal kopi? Minuman khas hitam pekat ini telah banyak menjadi kawan setia teruntuk para pecintanya. Bahkan, beberapa di antaranya juga diputar sebagai ladang usaha. Misalnya, yang dilakukan M Azwar Anas, pemuda asal Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari.

Dia bersama tiga kawannya merintis usaha menjual kopi seduh yang dijajakan di sebuah kafe bernama Kedai BAJ di Jubung, Kecamatan Sukorambi Jember. Kopi yang banyak diminati semua kalangan, termasuk mahasiswa, menjadi ide segar bagi Anas untuk memulai usahanya itu. “Pada 2018 lalu, saya bersama dua teman memulai usaha ini. Saat itu, baru lulus kuliah, jadi punya banyak waktu untuk fokus ngopeni usaha,” kata alumnus Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember 2018 ini.

Selama berjalannya waktu dalam merintis usaha, pasang surut sudah dilaluinya. Misalnya, ketika masuk masa awal-awal pandemi. “Saat itu, ada pembatasan sehingga hanya buka beberapa jam saja. Jadi, sulit menutup biaya operasional, utamanya WiFi,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perlahan tapi pasti, Anas bisa bertahan dari situasi sulit itu. Malah ada berbagai variasi menu kopi yang mulai dikembangkan. Dari jenis robusta, arabika, capuccino, expreso, dan lainnya. Kopi-kopi itu dia ambil beberapa dari petani dan sebagian lagi dari pengepul.

Untuk menambah pengalaman dalam berwirausaha, tidak lupa, dia juga gabung pada komunitas pemuda wirausaha yang bergerak di dunia perkopian. Di sanalah, Anas mengaku banyak menimba pengalaman.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa tidak kenal kopi? Minuman khas hitam pekat ini telah banyak menjadi kawan setia teruntuk para pecintanya. Bahkan, beberapa di antaranya juga diputar sebagai ladang usaha. Misalnya, yang dilakukan M Azwar Anas, pemuda asal Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari.

Dia bersama tiga kawannya merintis usaha menjual kopi seduh yang dijajakan di sebuah kafe bernama Kedai BAJ di Jubung, Kecamatan Sukorambi Jember. Kopi yang banyak diminati semua kalangan, termasuk mahasiswa, menjadi ide segar bagi Anas untuk memulai usahanya itu. “Pada 2018 lalu, saya bersama dua teman memulai usaha ini. Saat itu, baru lulus kuliah, jadi punya banyak waktu untuk fokus ngopeni usaha,” kata alumnus Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember 2018 ini.

Selama berjalannya waktu dalam merintis usaha, pasang surut sudah dilaluinya. Misalnya, ketika masuk masa awal-awal pandemi. “Saat itu, ada pembatasan sehingga hanya buka beberapa jam saja. Jadi, sulit menutup biaya operasional, utamanya WiFi,” ujarnya.

Perlahan tapi pasti, Anas bisa bertahan dari situasi sulit itu. Malah ada berbagai variasi menu kopi yang mulai dikembangkan. Dari jenis robusta, arabika, capuccino, expreso, dan lainnya. Kopi-kopi itu dia ambil beberapa dari petani dan sebagian lagi dari pengepul.

Untuk menambah pengalaman dalam berwirausaha, tidak lupa, dia juga gabung pada komunitas pemuda wirausaha yang bergerak di dunia perkopian. Di sanalah, Anas mengaku banyak menimba pengalaman.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siapa tidak kenal kopi? Minuman khas hitam pekat ini telah banyak menjadi kawan setia teruntuk para pecintanya. Bahkan, beberapa di antaranya juga diputar sebagai ladang usaha. Misalnya, yang dilakukan M Azwar Anas, pemuda asal Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari.

Dia bersama tiga kawannya merintis usaha menjual kopi seduh yang dijajakan di sebuah kafe bernama Kedai BAJ di Jubung, Kecamatan Sukorambi Jember. Kopi yang banyak diminati semua kalangan, termasuk mahasiswa, menjadi ide segar bagi Anas untuk memulai usahanya itu. “Pada 2018 lalu, saya bersama dua teman memulai usaha ini. Saat itu, baru lulus kuliah, jadi punya banyak waktu untuk fokus ngopeni usaha,” kata alumnus Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember 2018 ini.

Selama berjalannya waktu dalam merintis usaha, pasang surut sudah dilaluinya. Misalnya, ketika masuk masa awal-awal pandemi. “Saat itu, ada pembatasan sehingga hanya buka beberapa jam saja. Jadi, sulit menutup biaya operasional, utamanya WiFi,” ujarnya.

Perlahan tapi pasti, Anas bisa bertahan dari situasi sulit itu. Malah ada berbagai variasi menu kopi yang mulai dikembangkan. Dari jenis robusta, arabika, capuccino, expreso, dan lainnya. Kopi-kopi itu dia ambil beberapa dari petani dan sebagian lagi dari pengepul.

Untuk menambah pengalaman dalam berwirausaha, tidak lupa, dia juga gabung pada komunitas pemuda wirausaha yang bergerak di dunia perkopian. Di sanalah, Anas mengaku banyak menimba pengalaman.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/