alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Waspada Kekerasan pada Anak melalui Virtual

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Data Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (BP3KB) menunjukkan, terdapat 133 kasus kekerasan anak yang terjadi selama Oktober tahun ini. Angka ini meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019 lalu, yakni sebanyak 117.

Apalagi pada tahun ini, aktivitas anak dominan dilakukan di rumah demi mencegah penyebaran Covid-19. Kondisi ini tidak lantas membuat anak aman dari kekerasan dan eksploitasi seksual. Potensi kekerasan seksual secara daring sangat rawan dialami oleh anak. Padahal seluruh kasus yang terdata oleh BP3KB merupakan kasus kekerasan pada anak secara langsung.

Dalam paparan Komunitas Studi Anak (Kisanak), kekerasan dan eksploitasi seksual pada anak tidak melulu terjadi secara langsung. Seiring perkembangan zaman, kekerasan dan eksploitasi pada anak telah menggunakan modus ataupun media daring. Secara daring, kekerasan anak bermula saat mengalami pengalaman buruk ketika berinternet. Misalnya, mendapat pesan teks tidak sopan dan tidak senonoh serta kiriman gambar atau video pornografi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut salah satu founder Kisanak, Honest Dody Molasy, masalah eksploitasi seksual di ranah digital memanglah sebuah tantangan yang perlu dihadapi oleh generasi saat ini. Adanya tantangan ini tidak lantas menghentikan atau membatasi anak dalam melakukan akses digital.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Data Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (BP3KB) menunjukkan, terdapat 133 kasus kekerasan anak yang terjadi selama Oktober tahun ini. Angka ini meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019 lalu, yakni sebanyak 117.

Apalagi pada tahun ini, aktivitas anak dominan dilakukan di rumah demi mencegah penyebaran Covid-19. Kondisi ini tidak lantas membuat anak aman dari kekerasan dan eksploitasi seksual. Potensi kekerasan seksual secara daring sangat rawan dialami oleh anak. Padahal seluruh kasus yang terdata oleh BP3KB merupakan kasus kekerasan pada anak secara langsung.

Dalam paparan Komunitas Studi Anak (Kisanak), kekerasan dan eksploitasi seksual pada anak tidak melulu terjadi secara langsung. Seiring perkembangan zaman, kekerasan dan eksploitasi pada anak telah menggunakan modus ataupun media daring. Secara daring, kekerasan anak bermula saat mengalami pengalaman buruk ketika berinternet. Misalnya, mendapat pesan teks tidak sopan dan tidak senonoh serta kiriman gambar atau video pornografi.

Menurut salah satu founder Kisanak, Honest Dody Molasy, masalah eksploitasi seksual di ranah digital memanglah sebuah tantangan yang perlu dihadapi oleh generasi saat ini. Adanya tantangan ini tidak lantas menghentikan atau membatasi anak dalam melakukan akses digital.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Data Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (BP3KB) menunjukkan, terdapat 133 kasus kekerasan anak yang terjadi selama Oktober tahun ini. Angka ini meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019 lalu, yakni sebanyak 117.

Apalagi pada tahun ini, aktivitas anak dominan dilakukan di rumah demi mencegah penyebaran Covid-19. Kondisi ini tidak lantas membuat anak aman dari kekerasan dan eksploitasi seksual. Potensi kekerasan seksual secara daring sangat rawan dialami oleh anak. Padahal seluruh kasus yang terdata oleh BP3KB merupakan kasus kekerasan pada anak secara langsung.

Dalam paparan Komunitas Studi Anak (Kisanak), kekerasan dan eksploitasi seksual pada anak tidak melulu terjadi secara langsung. Seiring perkembangan zaman, kekerasan dan eksploitasi pada anak telah menggunakan modus ataupun media daring. Secara daring, kekerasan anak bermula saat mengalami pengalaman buruk ketika berinternet. Misalnya, mendapat pesan teks tidak sopan dan tidak senonoh serta kiriman gambar atau video pornografi.

Menurut salah satu founder Kisanak, Honest Dody Molasy, masalah eksploitasi seksual di ranah digital memanglah sebuah tantangan yang perlu dihadapi oleh generasi saat ini. Adanya tantangan ini tidak lantas menghentikan atau membatasi anak dalam melakukan akses digital.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/