alexametrics
21.8 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Kembali di Nomor Duakan, Benarkah Pelaksanaan AKM di SLB dinilai Cacat ?

Mobile_AP_Rectangle 1

Terkendala Lab Komputer

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Choirul Anwar menganggap, tidak adanya simulasi AKM pada SMA LB karena masih minimnya komunikasi yang terjalin antara cabang Dinas Pendidikan dengan sekolah. “Ini kan masih pertama kali, sehingga komunikasi antara sekolah dan cabang dinas masih dalam proses pengenalan. Karena untuk melaksanakan AKM sifatnya harus punya laboratorium (komputer). SLB banyak yang tidak punya lab,” urainya.

Dampak karena tidak adanya laboratorium, pada awal pendataan sebelum kegiatan AKM lalu, banyak SLB yang menumpang ke sekolah lain. Selanjutnya, SLB ingin mandiri dengan membuat laboratorium komputer dadakan. Dengan proses demikian, akhirnya SLB tidak dapat melakukan simulasi karena keterbatasan fasilitas. “Karena kurang kesiapan dan koordinasi. Sehingga tidak ada simulasi,” imbuh guru disabilitas netra yang mengajar di SLB Negeri Branjangan tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, kata dia, idealnya semua sekolah yang bakal melakukan AKM harus mengadakan simulasi. Hal itu agar siswa punya gambaran tentang soal yang bakal diujikan. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, sejatinya para tenaga pendidik telah mendapatkan pelatihan secara teknis dari proktor cabang dinas selama dua kali pertemuan. Namun, pelatihan itu hanya pada pelaksanaan teknis. Karena itu, guru juga tidak memiliki gambaran soal yang bakal muncul.

Reporter : Dian Cahyani

Fotografer : Dian Cahyani

Editor : Mahrus Sholih

 

- Advertisement -

Terkendala Lab Komputer

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Choirul Anwar menganggap, tidak adanya simulasi AKM pada SMA LB karena masih minimnya komunikasi yang terjalin antara cabang Dinas Pendidikan dengan sekolah. “Ini kan masih pertama kali, sehingga komunikasi antara sekolah dan cabang dinas masih dalam proses pengenalan. Karena untuk melaksanakan AKM sifatnya harus punya laboratorium (komputer). SLB banyak yang tidak punya lab,” urainya.

Dampak karena tidak adanya laboratorium, pada awal pendataan sebelum kegiatan AKM lalu, banyak SLB yang menumpang ke sekolah lain. Selanjutnya, SLB ingin mandiri dengan membuat laboratorium komputer dadakan. Dengan proses demikian, akhirnya SLB tidak dapat melakukan simulasi karena keterbatasan fasilitas. “Karena kurang kesiapan dan koordinasi. Sehingga tidak ada simulasi,” imbuh guru disabilitas netra yang mengajar di SLB Negeri Branjangan tersebut.

Padahal, kata dia, idealnya semua sekolah yang bakal melakukan AKM harus mengadakan simulasi. Hal itu agar siswa punya gambaran tentang soal yang bakal diujikan. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, sejatinya para tenaga pendidik telah mendapatkan pelatihan secara teknis dari proktor cabang dinas selama dua kali pertemuan. Namun, pelatihan itu hanya pada pelaksanaan teknis. Karena itu, guru juga tidak memiliki gambaran soal yang bakal muncul.

Reporter : Dian Cahyani

Fotografer : Dian Cahyani

Editor : Mahrus Sholih

 

Terkendala Lab Komputer

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Choirul Anwar menganggap, tidak adanya simulasi AKM pada SMA LB karena masih minimnya komunikasi yang terjalin antara cabang Dinas Pendidikan dengan sekolah. “Ini kan masih pertama kali, sehingga komunikasi antara sekolah dan cabang dinas masih dalam proses pengenalan. Karena untuk melaksanakan AKM sifatnya harus punya laboratorium (komputer). SLB banyak yang tidak punya lab,” urainya.

Dampak karena tidak adanya laboratorium, pada awal pendataan sebelum kegiatan AKM lalu, banyak SLB yang menumpang ke sekolah lain. Selanjutnya, SLB ingin mandiri dengan membuat laboratorium komputer dadakan. Dengan proses demikian, akhirnya SLB tidak dapat melakukan simulasi karena keterbatasan fasilitas. “Karena kurang kesiapan dan koordinasi. Sehingga tidak ada simulasi,” imbuh guru disabilitas netra yang mengajar di SLB Negeri Branjangan tersebut.

Padahal, kata dia, idealnya semua sekolah yang bakal melakukan AKM harus mengadakan simulasi. Hal itu agar siswa punya gambaran tentang soal yang bakal diujikan. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, sejatinya para tenaga pendidik telah mendapatkan pelatihan secara teknis dari proktor cabang dinas selama dua kali pertemuan. Namun, pelatihan itu hanya pada pelaksanaan teknis. Karena itu, guru juga tidak memiliki gambaran soal yang bakal muncul.

Reporter : Dian Cahyani

Fotografer : Dian Cahyani

Editor : Mahrus Sholih

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/