alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Ini PR Siswa atau Orang Tua?

Mobile_AP_Rectangle 1

Model penugasan guru ke siswa sebenarnya ada berbagai macam. Tak hanya secara daring, di beberapa tempat juga pernah ditemui penugasan bisa melalui model jemput bola atau guru keliling (guling). Meskipun begitu, dari sekian model pemberian tugas ke siswa itu, masing-masing diyakini terdapat kelebihan dan kekurangannya.

“Kalau sekarang memang banyak pakai daring. Di sekolah saya juga sama. Hanya saja, siswa diberikan buku pegangan,” ujar Safaruddin Ridwan, guru di SDN Kaliglagah 01, Desa Kaliglagah, Kecamatan Sumberbaru.

Model memberikan tugas genap dengan buku panduannya itu diyakini lebih efektif. Bahkan, kata Ridwan, tak hanya siswa, para guru juga diberikan buku pegangan. “Itu dikhususkan untuk guru yang gaptek (gagap teknologi, Red) atau sepuh, mereka juga pakai buku pegangan,” sambungnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Kaprodi Pendidikan Masyarakat (PM) FKIP Universitas Jember Deditiani Tri Indriani menambahkan, selama pembelajaran masa pandemi belakangan kemarin, sedianya banyak cara kreatif yang bisa diupayakan guru untuk membagikan materi pembelajaran. Namun, yang jadi perkara wajibnya adalah penguasaan bidang teknologi.

Dia menilai, kemampuan guru untuk melek dalam berbagai bidang menjadi penting. Setidaknya punya kemampuan literasi dasar seperti digital, sains, dan kebudayaan.

Terkait adanya orang tua yang membantu anaknya mengerjakan tugas, hal itu memunculkan catatan tersendiri yang perlu menjadi bahan evaluasi. Bahwa pemberian tugas ke siswa perlu menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan perkembangan siswa. “Banyak yang harus dilakukan guru untuk mengatasinya. Bisa dengan berbagai macam aplikasi yang disesuaikan kebutuhan dan kompetensi siswa. Jadi, bukan hanya mentransfer materi semata,” pungkasnya.

- Advertisement -

Model penugasan guru ke siswa sebenarnya ada berbagai macam. Tak hanya secara daring, di beberapa tempat juga pernah ditemui penugasan bisa melalui model jemput bola atau guru keliling (guling). Meskipun begitu, dari sekian model pemberian tugas ke siswa itu, masing-masing diyakini terdapat kelebihan dan kekurangannya.

“Kalau sekarang memang banyak pakai daring. Di sekolah saya juga sama. Hanya saja, siswa diberikan buku pegangan,” ujar Safaruddin Ridwan, guru di SDN Kaliglagah 01, Desa Kaliglagah, Kecamatan Sumberbaru.

Model memberikan tugas genap dengan buku panduannya itu diyakini lebih efektif. Bahkan, kata Ridwan, tak hanya siswa, para guru juga diberikan buku pegangan. “Itu dikhususkan untuk guru yang gaptek (gagap teknologi, Red) atau sepuh, mereka juga pakai buku pegangan,” sambungnya.

Sementara itu, Kaprodi Pendidikan Masyarakat (PM) FKIP Universitas Jember Deditiani Tri Indriani menambahkan, selama pembelajaran masa pandemi belakangan kemarin, sedianya banyak cara kreatif yang bisa diupayakan guru untuk membagikan materi pembelajaran. Namun, yang jadi perkara wajibnya adalah penguasaan bidang teknologi.

Dia menilai, kemampuan guru untuk melek dalam berbagai bidang menjadi penting. Setidaknya punya kemampuan literasi dasar seperti digital, sains, dan kebudayaan.

Terkait adanya orang tua yang membantu anaknya mengerjakan tugas, hal itu memunculkan catatan tersendiri yang perlu menjadi bahan evaluasi. Bahwa pemberian tugas ke siswa perlu menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan perkembangan siswa. “Banyak yang harus dilakukan guru untuk mengatasinya. Bisa dengan berbagai macam aplikasi yang disesuaikan kebutuhan dan kompetensi siswa. Jadi, bukan hanya mentransfer materi semata,” pungkasnya.

Model penugasan guru ke siswa sebenarnya ada berbagai macam. Tak hanya secara daring, di beberapa tempat juga pernah ditemui penugasan bisa melalui model jemput bola atau guru keliling (guling). Meskipun begitu, dari sekian model pemberian tugas ke siswa itu, masing-masing diyakini terdapat kelebihan dan kekurangannya.

“Kalau sekarang memang banyak pakai daring. Di sekolah saya juga sama. Hanya saja, siswa diberikan buku pegangan,” ujar Safaruddin Ridwan, guru di SDN Kaliglagah 01, Desa Kaliglagah, Kecamatan Sumberbaru.

Model memberikan tugas genap dengan buku panduannya itu diyakini lebih efektif. Bahkan, kata Ridwan, tak hanya siswa, para guru juga diberikan buku pegangan. “Itu dikhususkan untuk guru yang gaptek (gagap teknologi, Red) atau sepuh, mereka juga pakai buku pegangan,” sambungnya.

Sementara itu, Kaprodi Pendidikan Masyarakat (PM) FKIP Universitas Jember Deditiani Tri Indriani menambahkan, selama pembelajaran masa pandemi belakangan kemarin, sedianya banyak cara kreatif yang bisa diupayakan guru untuk membagikan materi pembelajaran. Namun, yang jadi perkara wajibnya adalah penguasaan bidang teknologi.

Dia menilai, kemampuan guru untuk melek dalam berbagai bidang menjadi penting. Setidaknya punya kemampuan literasi dasar seperti digital, sains, dan kebudayaan.

Terkait adanya orang tua yang membantu anaknya mengerjakan tugas, hal itu memunculkan catatan tersendiri yang perlu menjadi bahan evaluasi. Bahwa pemberian tugas ke siswa perlu menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan perkembangan siswa. “Banyak yang harus dilakukan guru untuk mengatasinya. Bisa dengan berbagai macam aplikasi yang disesuaikan kebutuhan dan kompetensi siswa. Jadi, bukan hanya mentransfer materi semata,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/