alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Ini PR Siswa atau Orang Tua?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Cara mengucapkan huruf dan kata disebut? Begitulah isi soal pilihan ganda yang tengah dikerjakan Muji. Pria 65 tahun tersebut agak kebingungan untuk menjawab soal pekerjaan rumah (PR) putranya yang duduk di bangku kelas II SD. Maklum saja, selama sekolah daring, setiap ada PR kerap kali Muji yang mengerjakan, bukan putranya.

Lewat telepon cerdas, muji mengerjakan via aplikasi Google Classroom yang dikirim gurunya. Sedangkan si kecil hanya duduk di sampingnya. Dia mengaku, selama daring, orang tua punya peran penting dalam pendidikan anak. “Sekolah daring yang repot itu orang tua. Tapi ya tidak masalah,” tuturnya.

Namun, yang membuat masalah, kata dia, justru tugas yang terlalu berat tidak disesuaikan dengan kemampuan anak. “Coba bayangkan anak kelas 2 SD, soalnya pengetahuan umumnya terlalu berat,” ucap pria yang pernah merasakan kuliah di Fisipol Unej tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bila PR itu susah, setidaknya orang tua menguasainya. “Saya saja tidak tahu dan kebingungan,” tuturnya. Muji mengaku, bila guru mengejar nilai PR yang bagus dan bukan proses belajarnya, maka yang terjadi adalah PR dikerjakan seluruhnya oleh orang tua.

Pengalaman dari orang tua lainnya, kata Muji, banyak orang tua mencari jawabannya di internet. Cara tersebut juga diajarkan ke putranya agar PR cepat selesai dan mendapatkan nilai bagus. Padahal, cara instan itu kurang baik, alangkah baiknya mencari lewat buku pendamping yang telah diberikan. “Ada juga orang tua nggak mau repot, PR anaknya dilempar ke guru privat untuk mengerjakan,” ungkapnya.

Muji mengaku, agar putranya tidak ketinggalan pelajaran, dia mengeluarkan uang tambahan untuk ikut les privat. “Lesnya setiap sore, per bulan Rp 125 ribu. Siswa yang les ada tiga, sebelumnya ada empat,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Cara mengucapkan huruf dan kata disebut? Begitulah isi soal pilihan ganda yang tengah dikerjakan Muji. Pria 65 tahun tersebut agak kebingungan untuk menjawab soal pekerjaan rumah (PR) putranya yang duduk di bangku kelas II SD. Maklum saja, selama sekolah daring, setiap ada PR kerap kali Muji yang mengerjakan, bukan putranya.

Lewat telepon cerdas, muji mengerjakan via aplikasi Google Classroom yang dikirim gurunya. Sedangkan si kecil hanya duduk di sampingnya. Dia mengaku, selama daring, orang tua punya peran penting dalam pendidikan anak. “Sekolah daring yang repot itu orang tua. Tapi ya tidak masalah,” tuturnya.

Namun, yang membuat masalah, kata dia, justru tugas yang terlalu berat tidak disesuaikan dengan kemampuan anak. “Coba bayangkan anak kelas 2 SD, soalnya pengetahuan umumnya terlalu berat,” ucap pria yang pernah merasakan kuliah di Fisipol Unej tersebut.

Bila PR itu susah, setidaknya orang tua menguasainya. “Saya saja tidak tahu dan kebingungan,” tuturnya. Muji mengaku, bila guru mengejar nilai PR yang bagus dan bukan proses belajarnya, maka yang terjadi adalah PR dikerjakan seluruhnya oleh orang tua.

Pengalaman dari orang tua lainnya, kata Muji, banyak orang tua mencari jawabannya di internet. Cara tersebut juga diajarkan ke putranya agar PR cepat selesai dan mendapatkan nilai bagus. Padahal, cara instan itu kurang baik, alangkah baiknya mencari lewat buku pendamping yang telah diberikan. “Ada juga orang tua nggak mau repot, PR anaknya dilempar ke guru privat untuk mengerjakan,” ungkapnya.

Muji mengaku, agar putranya tidak ketinggalan pelajaran, dia mengeluarkan uang tambahan untuk ikut les privat. “Lesnya setiap sore, per bulan Rp 125 ribu. Siswa yang les ada tiga, sebelumnya ada empat,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Cara mengucapkan huruf dan kata disebut? Begitulah isi soal pilihan ganda yang tengah dikerjakan Muji. Pria 65 tahun tersebut agak kebingungan untuk menjawab soal pekerjaan rumah (PR) putranya yang duduk di bangku kelas II SD. Maklum saja, selama sekolah daring, setiap ada PR kerap kali Muji yang mengerjakan, bukan putranya.

Lewat telepon cerdas, muji mengerjakan via aplikasi Google Classroom yang dikirim gurunya. Sedangkan si kecil hanya duduk di sampingnya. Dia mengaku, selama daring, orang tua punya peran penting dalam pendidikan anak. “Sekolah daring yang repot itu orang tua. Tapi ya tidak masalah,” tuturnya.

Namun, yang membuat masalah, kata dia, justru tugas yang terlalu berat tidak disesuaikan dengan kemampuan anak. “Coba bayangkan anak kelas 2 SD, soalnya pengetahuan umumnya terlalu berat,” ucap pria yang pernah merasakan kuliah di Fisipol Unej tersebut.

Bila PR itu susah, setidaknya orang tua menguasainya. “Saya saja tidak tahu dan kebingungan,” tuturnya. Muji mengaku, bila guru mengejar nilai PR yang bagus dan bukan proses belajarnya, maka yang terjadi adalah PR dikerjakan seluruhnya oleh orang tua.

Pengalaman dari orang tua lainnya, kata Muji, banyak orang tua mencari jawabannya di internet. Cara tersebut juga diajarkan ke putranya agar PR cepat selesai dan mendapatkan nilai bagus. Padahal, cara instan itu kurang baik, alangkah baiknya mencari lewat buku pendamping yang telah diberikan. “Ada juga orang tua nggak mau repot, PR anaknya dilempar ke guru privat untuk mengerjakan,” ungkapnya.

Muji mengaku, agar putranya tidak ketinggalan pelajaran, dia mengeluarkan uang tambahan untuk ikut les privat. “Lesnya setiap sore, per bulan Rp 125 ribu. Siswa yang les ada tiga, sebelumnya ada empat,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/