alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Tujuh Jam Pakai APD, Keringat Mengalir bak Hujan

Petugas medis menjadi garda terdepan penanganan korona. Selain berisiko tertular Covid-19, mereka juga harus punya kesabaran ekstra. Terlebih bagi petugas rapid test yang melakukan screening di perkantoran dan pasar.

Mobile_AP_Rectangle 1

Memakai APD, menurut Ribut, tidak hanya sayang kepada dirinya tapi juga keluarga yang menunggu di rumah. Pria 39 tahun asal Kreongan ini mengatakan, tidak ada latihan sama sekali dalam memakai APD. “Tidak ada latihan. Karena korona, ya pakai,” ucapnya.

Walau saat memakai APD itu gerah, dia beserta teman-temannya tidak akan melepas APD jika tugas belum selesai. “Kalau APD ini dibuka, maka sudah tidak steril lagi. APD ini dipakai sekali saja,” imbuhnya.

Karena itu, dalam tugas mengambil sampel darah, dia juga menahan lapar, haus, termasuk menahan agar tidak buang air. Hal yang melelahkan tentu saja, apalagi saat mereka bertugas di luar ruangan. Suhu luar ruangan panas, semakin menguji kesabaran Ribut dan sejawatnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagai petugas rapid test, setidaknya Ribut setiap hari memakai APD. Dia pun berharap, orang yang akan mengikuti jadwal rapid test datang tepat waktu. “Karena APD ini tidak bisa dibuka. Hanya sekali pakai,” jelasnya.

Harapan besar, tentu saja masyarakat lebih baik tetap di rumah saja agar mereka terhindar dari wabah. Selain itu, pandemi ini segera berakhir. Sementara kapan waktu atau keperluan yang tepat untuk keluar rumah. Menurut Ribut, jawabannya ada di hati nurani. “Kapan saat harus ke luar rumah? Hati nurani yang menjawab,” terangnya.

Jika korona membeludak, maka bakal ada klaster-klaster lokal. Rapid test pun semakin masif. Sehingga mau tak mau, Ribut beserta kawannya harus ekstra sabar lagi. Karena pelaksanaan rapid test semakin masif. Dan itu artinya, dia harus lebih lama lagi mengenakan baju hazmat tersebut.

Kepala Diskominfo Pemkab Jember Gatot Triyono menerangkan, petugas yang melakukan rapid test tersebut berasal dari dua instansi. “Ada dua petugas dari Labkesda dan Pukesmas Gladak Pakem. Jumlah keseluruhan sekitar 15 orang,” katanya.

Menurutnya, rapid test untuk wartawan ini dilakukan karena mereka rentan terpapar Covid-19. Total, ada 59 pekerja media dan pegawai di Diskominfo yang mengikuti tes tersebut. “Alhamdulillah, semuanya nonreaktif,” pungkasnya.

- Advertisement -

Memakai APD, menurut Ribut, tidak hanya sayang kepada dirinya tapi juga keluarga yang menunggu di rumah. Pria 39 tahun asal Kreongan ini mengatakan, tidak ada latihan sama sekali dalam memakai APD. “Tidak ada latihan. Karena korona, ya pakai,” ucapnya.

Walau saat memakai APD itu gerah, dia beserta teman-temannya tidak akan melepas APD jika tugas belum selesai. “Kalau APD ini dibuka, maka sudah tidak steril lagi. APD ini dipakai sekali saja,” imbuhnya.

Karena itu, dalam tugas mengambil sampel darah, dia juga menahan lapar, haus, termasuk menahan agar tidak buang air. Hal yang melelahkan tentu saja, apalagi saat mereka bertugas di luar ruangan. Suhu luar ruangan panas, semakin menguji kesabaran Ribut dan sejawatnya.

Sebagai petugas rapid test, setidaknya Ribut setiap hari memakai APD. Dia pun berharap, orang yang akan mengikuti jadwal rapid test datang tepat waktu. “Karena APD ini tidak bisa dibuka. Hanya sekali pakai,” jelasnya.

Harapan besar, tentu saja masyarakat lebih baik tetap di rumah saja agar mereka terhindar dari wabah. Selain itu, pandemi ini segera berakhir. Sementara kapan waktu atau keperluan yang tepat untuk keluar rumah. Menurut Ribut, jawabannya ada di hati nurani. “Kapan saat harus ke luar rumah? Hati nurani yang menjawab,” terangnya.

Jika korona membeludak, maka bakal ada klaster-klaster lokal. Rapid test pun semakin masif. Sehingga mau tak mau, Ribut beserta kawannya harus ekstra sabar lagi. Karena pelaksanaan rapid test semakin masif. Dan itu artinya, dia harus lebih lama lagi mengenakan baju hazmat tersebut.

Kepala Diskominfo Pemkab Jember Gatot Triyono menerangkan, petugas yang melakukan rapid test tersebut berasal dari dua instansi. “Ada dua petugas dari Labkesda dan Pukesmas Gladak Pakem. Jumlah keseluruhan sekitar 15 orang,” katanya.

Menurutnya, rapid test untuk wartawan ini dilakukan karena mereka rentan terpapar Covid-19. Total, ada 59 pekerja media dan pegawai di Diskominfo yang mengikuti tes tersebut. “Alhamdulillah, semuanya nonreaktif,” pungkasnya.

Memakai APD, menurut Ribut, tidak hanya sayang kepada dirinya tapi juga keluarga yang menunggu di rumah. Pria 39 tahun asal Kreongan ini mengatakan, tidak ada latihan sama sekali dalam memakai APD. “Tidak ada latihan. Karena korona, ya pakai,” ucapnya.

Walau saat memakai APD itu gerah, dia beserta teman-temannya tidak akan melepas APD jika tugas belum selesai. “Kalau APD ini dibuka, maka sudah tidak steril lagi. APD ini dipakai sekali saja,” imbuhnya.

Karena itu, dalam tugas mengambil sampel darah, dia juga menahan lapar, haus, termasuk menahan agar tidak buang air. Hal yang melelahkan tentu saja, apalagi saat mereka bertugas di luar ruangan. Suhu luar ruangan panas, semakin menguji kesabaran Ribut dan sejawatnya.

Sebagai petugas rapid test, setidaknya Ribut setiap hari memakai APD. Dia pun berharap, orang yang akan mengikuti jadwal rapid test datang tepat waktu. “Karena APD ini tidak bisa dibuka. Hanya sekali pakai,” jelasnya.

Harapan besar, tentu saja masyarakat lebih baik tetap di rumah saja agar mereka terhindar dari wabah. Selain itu, pandemi ini segera berakhir. Sementara kapan waktu atau keperluan yang tepat untuk keluar rumah. Menurut Ribut, jawabannya ada di hati nurani. “Kapan saat harus ke luar rumah? Hati nurani yang menjawab,” terangnya.

Jika korona membeludak, maka bakal ada klaster-klaster lokal. Rapid test pun semakin masif. Sehingga mau tak mau, Ribut beserta kawannya harus ekstra sabar lagi. Karena pelaksanaan rapid test semakin masif. Dan itu artinya, dia harus lebih lama lagi mengenakan baju hazmat tersebut.

Kepala Diskominfo Pemkab Jember Gatot Triyono menerangkan, petugas yang melakukan rapid test tersebut berasal dari dua instansi. “Ada dua petugas dari Labkesda dan Pukesmas Gladak Pakem. Jumlah keseluruhan sekitar 15 orang,” katanya.

Menurutnya, rapid test untuk wartawan ini dilakukan karena mereka rentan terpapar Covid-19. Total, ada 59 pekerja media dan pegawai di Diskominfo yang mengikuti tes tersebut. “Alhamdulillah, semuanya nonreaktif,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/