alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tujuh Jam Pakai APD, Keringat Mengalir bak Hujan

Petugas medis menjadi garda terdepan penanganan korona. Selain berisiko tertular Covid-19, mereka juga harus punya kesabaran ekstra. Terlebih bagi petugas rapid test yang melakukan screening di perkantoran dan pasar.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ada yang berbeda. Bukan bangunannya yang berbeda, tapi ada petugas medis memakai alat pelindung diri (APD) lengkap layaknya pakaian astronot.

Tapi tenang, mereka datang bukan untuk mengevakuasi atau menjemput orang yang positif korona. Melainkan menggelar rapid test atau tes cepat sebagai pendeteksi dini korona ke awak media. Meja panjang dengan dua komputer sudah di hadapan para petugas berpakaian ala astronot tersebut.

Secara bergantian, para jurnalis memberikan KTP. Selanjutnya, didata dan diberikan tabung kecil yang dibubuhi nama. Dari meja panjang itu, mulai bergeser ke ruang rapat Diskominfo yang difungsikan sebagai pengambilan sampel darah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rasanya rapid test tidak jauh berbeda dengan donor darah. Lengan diberi tali, tangan mengepal, dan barulah jarum suntik menusuk pembuluh darah untuk mengambil sampel. “Sudah cukup,” begitulah kata petugas pengambil sampel darah di rapid test tersebut.

Petugas tersebut tidak banyak bicara. Raut wajah tersenyum atau lainya pun tidak tahu. Bahkan, apakah petugas itu perempuan atau laki-laki yang tahu adalah sesama petugas rapid test atau ketika mereka bersuara. Maklum saja, APD yang dikenakan begitu rapat, sampai tak dikenali siapa orang di dalamnya.

Saat ditanya siapa namanya, petugas pengambil sampel darah itu menjawab singkat, “Ribut”. Ribut Susilo, itulah nama lengkapnya. Sedikit bicara bukan berarti Ribut orangnya tidak ramah. Tapi itu adalah pilihan untuk menghemat energi, dan bicara memang diperlukan secukupnya saja.

Akhirnya, Ribut bisa tersenyum dan tertawa, kala Jawa Pos Radar Jember menanyakan apakah memang panas pakai APD itu? “Ini keringat mengalir seperti air hujan. Teles kebes,” ucapnya, kemudian terkekeh.

Walau gerah dan bercucuran keringat, tapi Ribut dan teman-temannya harus tetap memakai APD. Sebab, itu sebagai langkah protokol kesehatan dan untuk meminimalisasi penularan korona. “Orang yang kami tes itu tidak tahu. Dia terkena korona atau tidak,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ada yang berbeda. Bukan bangunannya yang berbeda, tapi ada petugas medis memakai alat pelindung diri (APD) lengkap layaknya pakaian astronot.

Tapi tenang, mereka datang bukan untuk mengevakuasi atau menjemput orang yang positif korona. Melainkan menggelar rapid test atau tes cepat sebagai pendeteksi dini korona ke awak media. Meja panjang dengan dua komputer sudah di hadapan para petugas berpakaian ala astronot tersebut.

Secara bergantian, para jurnalis memberikan KTP. Selanjutnya, didata dan diberikan tabung kecil yang dibubuhi nama. Dari meja panjang itu, mulai bergeser ke ruang rapat Diskominfo yang difungsikan sebagai pengambilan sampel darah.

Rasanya rapid test tidak jauh berbeda dengan donor darah. Lengan diberi tali, tangan mengepal, dan barulah jarum suntik menusuk pembuluh darah untuk mengambil sampel. “Sudah cukup,” begitulah kata petugas pengambil sampel darah di rapid test tersebut.

Petugas tersebut tidak banyak bicara. Raut wajah tersenyum atau lainya pun tidak tahu. Bahkan, apakah petugas itu perempuan atau laki-laki yang tahu adalah sesama petugas rapid test atau ketika mereka bersuara. Maklum saja, APD yang dikenakan begitu rapat, sampai tak dikenali siapa orang di dalamnya.

Saat ditanya siapa namanya, petugas pengambil sampel darah itu menjawab singkat, “Ribut”. Ribut Susilo, itulah nama lengkapnya. Sedikit bicara bukan berarti Ribut orangnya tidak ramah. Tapi itu adalah pilihan untuk menghemat energi, dan bicara memang diperlukan secukupnya saja.

Akhirnya, Ribut bisa tersenyum dan tertawa, kala Jawa Pos Radar Jember menanyakan apakah memang panas pakai APD itu? “Ini keringat mengalir seperti air hujan. Teles kebes,” ucapnya, kemudian terkekeh.

Walau gerah dan bercucuran keringat, tapi Ribut dan teman-temannya harus tetap memakai APD. Sebab, itu sebagai langkah protokol kesehatan dan untuk meminimalisasi penularan korona. “Orang yang kami tes itu tidak tahu. Dia terkena korona atau tidak,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ada yang berbeda. Bukan bangunannya yang berbeda, tapi ada petugas medis memakai alat pelindung diri (APD) lengkap layaknya pakaian astronot.

Tapi tenang, mereka datang bukan untuk mengevakuasi atau menjemput orang yang positif korona. Melainkan menggelar rapid test atau tes cepat sebagai pendeteksi dini korona ke awak media. Meja panjang dengan dua komputer sudah di hadapan para petugas berpakaian ala astronot tersebut.

Secara bergantian, para jurnalis memberikan KTP. Selanjutnya, didata dan diberikan tabung kecil yang dibubuhi nama. Dari meja panjang itu, mulai bergeser ke ruang rapat Diskominfo yang difungsikan sebagai pengambilan sampel darah.

Rasanya rapid test tidak jauh berbeda dengan donor darah. Lengan diberi tali, tangan mengepal, dan barulah jarum suntik menusuk pembuluh darah untuk mengambil sampel. “Sudah cukup,” begitulah kata petugas pengambil sampel darah di rapid test tersebut.

Petugas tersebut tidak banyak bicara. Raut wajah tersenyum atau lainya pun tidak tahu. Bahkan, apakah petugas itu perempuan atau laki-laki yang tahu adalah sesama petugas rapid test atau ketika mereka bersuara. Maklum saja, APD yang dikenakan begitu rapat, sampai tak dikenali siapa orang di dalamnya.

Saat ditanya siapa namanya, petugas pengambil sampel darah itu menjawab singkat, “Ribut”. Ribut Susilo, itulah nama lengkapnya. Sedikit bicara bukan berarti Ribut orangnya tidak ramah. Tapi itu adalah pilihan untuk menghemat energi, dan bicara memang diperlukan secukupnya saja.

Akhirnya, Ribut bisa tersenyum dan tertawa, kala Jawa Pos Radar Jember menanyakan apakah memang panas pakai APD itu? “Ini keringat mengalir seperti air hujan. Teles kebes,” ucapnya, kemudian terkekeh.

Walau gerah dan bercucuran keringat, tapi Ribut dan teman-temannya harus tetap memakai APD. Sebab, itu sebagai langkah protokol kesehatan dan untuk meminimalisasi penularan korona. “Orang yang kami tes itu tidak tahu. Dia terkena korona atau tidak,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/